
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian? Kenapa semalam Gibran tidak mengantarmu pulang?" tanya ibu setelah Fina dan Lyra berangkat ke sekolah.
"Tidak ada apa-apa kok Bu. Bukankah sudah kubilang mobilnya mogok."
Ibu mengulas senyum.
"Kamu ini puteri ibu, Nak. Kamu mungkin bisa berbohong pada semua orang tapi tidak dengan ibu. Apa kalian bertengkar?"
Aku membuang nafas.
"Ternyata ucapan Luna bukan hanya gertakan atau ancaman saja."
"Luna?"
"Ya, Luna mantan kekasih Gibran."
"Apa dia membuat masalah lagi?"
"Setelah gagal mencelakai Lyra, dia juga berusaha untuk mencelakaiku dengan memasukkan racun ke dalam minumanku."
"Astaghfirullahaldzim! Cinta benar-benar telah membuat hatinya buta. Kamu tidak apa-apa 'kan, Nak?" Tiba-tiba raut wajah ibu berubah panik.
"Alhamdulillah Allah masih melindungiku."
"Bagaimana kamu bisa tahu jika Luna memasukkan racun ke dalam minumanmu?"
"Bukan aku yang meminum minuman itu, Bu. Tetapi salah satu kawan Gibran.
__ADS_1
Saat itu seorang pramusaji yang memakai masker tiba-tiba mengantarkan minuman pada kami. Aku menolak meminumnya karena merasa warna minuman itu terlalu mencolok. Aku pun meminta kiblat untuk mengembalikan minuman itu dan menggantinya dengan air
putih. Kegaduhan terjadi sesaat setelah acara selesai dan para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati jamuan makanan. Di saat itulah tiba-tiba seseorang berseru ada yang keracunan minuman. Dari Gibran aku tahu jika pria itu meminum minuman yang tadinya diberikan pramusaji padaku."
"Lantas, bagaimana keadaan pria yang meminum minuman itu?"
"Mulutnya mengeluarkan busa, dia juga merasakan sakit perut serta pandangan mata berkunang-kunang."
"Bagaimana kamu bisa tahu jika Luna pelakunya? Bukankah kamu saja itu mengenakan masker?"
"Allah maha baik. Setelah acara selesai kami pun hendak meninggalkan gedung itu. Entah mengapa aku merasa harus ke kamar kecil. Di sanalah aku mendapat petunjuk. Kudengar obrolan dari ruangan yang berada persis di toilet yang kupakai. Dari percakapan mereka aku tahu jika Luna memberi upah pada gadis itu karena dia telah meminjamkan baju seragamnya. Dengan seragam itulah dia berpura-pura sebagai pramusaji yang kemudian mengantarkan minuman beracun itu ke mejaku," ungkapku.
"Bukankah semuanya sudah terbongkar? Lantas apa yang membuat kamu dan Gibran berselisih paham?"
"Luna mengatakan selagi aku belum menjauhi Gibran, dia tidak akan pernah membiarkan hidupku tenang. Dari kalimat itulah aku mengatakan akan menjauhi Gibran asalkan dia membiarkan hidup kami tenang. Aku pun pergi begitu saja meninggalkan Gibran.
"Jadi, apa yang harus kulakukan, Bu? Apa aku harus menjauhi Gibran?"
"Kenapa kamu harus bertanya pada ibu? Hanya kamu yang tahu isi hatimu sendiri. Jika kamu memang mencintai Gibran, kamu jangan membiarkan seorang pun merebutnya darimu."
Suasana hening sejenak.
"Ehm … Bu. Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan."
"Kamu ingin tanya apa, Nak?"
"Menurut Ibu mimpi itu hanyalah bunga tidur? Ataukah justru sebuah petunjuk?"
__ADS_1
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?"
"Untuk kesekian kalinya aku bermimpi tentang siapa yang akan menjadi pendampingku kelak."
"Di mimpimu pasti wajah Gibran yang muncul 'kan?" tanya ibu penuh semangat.
"Masih samar," jawabku.
"Samar?"
"Ibu tahu 'bukan wajah Keenan dan Gibran begitu mirip? Di mimpi itu aku benar-benar tidak dapat membedakannya."
Sekali lagi Ibu mengulas senyum.
"Mau Keenan ataupun Gibran, ibu rasa tidak masalah. Mereka sama-sama tampan dan mapan." Ibu terkekeh.
Ah! Ibu. Aku bertanya serius, beliau justru menanggapinya dengan bercanda.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1