
Hari ini adalah hari libur. Aku berniat mengajak Lyra, ibu, serta mantan ibu mertuaku makan di luar.
"Ibu, nanti ke lumah makan yang ada tempat belmain nya ya," ucap Lyra sesaat setelah aku memakaikan hijab di kepalanya.
"Iya, Sayang. Lyra mau kemana saja boleh," ucapku.
"Hore!" soraknya.
"Titip rumah ya, Bi. Kami pergi dulu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati, Bu."
"Bial Lyla yang membuka pintu!" seru putri kecilku penuh semangat. Dia pun lantas berlari menuju pintu dan membukanya.
Kami dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang berdiri di teras rumah. Meski membelakangi pintu, aku sudah hafal betul postur tubuhnya.
"Fabian?"
"Ayah!"
Lyra yang sudah cukup lama tidak bertemu ayah kandungnya itu pun sontak berlari dan menghambur ke dalam pelukannya.
"Lyla kangen Ayah. Kenapa Ayah tidak tinggal di lumah ini?" ucap Lyra dengan mata polosnya.
"Ayah juga kangen sama Lyra. Ayah minta maaf tidak bisa tinggal bersama Lyra."
"Kenapa? Ayah sibuk ya?" tanya Lyra lagi.
Fabian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Dari Lyra, pandangan mantan suamiku itu beralih pada ibunya. Sebagai ibu kandungnya, mantan ibu mertuaku itu terlihat sama sekali tidak peduli pada kehadiran Fabian. Jangankan mendekati atau mengajaknya mengobrol. Beliau justru memalingkan wajahnya.
"Ibu, …"
Bu Kinanti masih enggan memandang wajah itu. Aku paham, perlakuan Fabian pada beliau selama ini memang cukup menyakitkan. Setelah mengirimnya ke panti jompo, ia seolah lepas tangan begitu saja.
"Alhamdulillah, Ibu sekarang sudah bisa berjalan lagi," ucap Fabian.
Bu Kinanti diam. Dia masih enggan memandang wajah puteranya itu.
"Aku minta maaf, Bu. Selama ini aku banyak dosa pada Ibu." Fabian hendak meraih tangan sang ibu, namun beliau justru menepisnya.
"Ibu boleh marah padaku, Ibu juga berhak membenciku. Inilah ganjaran yang kuterima atas dosa-dosa yang sudah kuperbuat pada Ibu, juga pada Zura," ujar Fabian.
Bu Kinanti masih enggan bersuara.
"Kenapa Ibu diam saja? Bicaralah, Bu." Kali ini Fabian menjatuhkan lututnya lalu bersimpuh di hadapan sang ibu.
"Pergilah, aku sudah tidak punya anak lagi. Kedua anakku sudah meninggal dunia," ucap bu Kinanti dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Bian masih hidup, Bu. Kenapa Ibu bicara begitu?" protesnya.
"Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan!"
"Ampuni anakmu ini, Bu."
Fabian menarik paksa kedua tangan sang ibu lalu menciuminya berulang.
"Sana pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!"
"Bian minta maaf, Bu. Bian menyesal."
Entah kenapa adegan yang tersaji di hadapanku ini membuat dadaku terasa begitu sesak. Namun luka di hati bu Kinanti yang sudah terlalu dalam itu mungkin tidak akan sembuh begitu saja hanya dengan permintaan maaf.
"Zura, jika kalian ingin pergi, pergilah. Ibu tiba-tiba tidak enak badan," ucap Bu Kinanti. Aku yakin itu hanya alasan beliau saja lantaran mood nya hilang. Padahal tadi beliau begitu antusias saat kuajak makan di luar bersama Lyra dan ibu kandungku.
"Bicaralah, Bu. Jangan diamkan Bian begini."
Bagaikan anak kecil yang tengah merengek, Fabian berkali-kali menarik ujung pakaian yang dikenakan sang ibu.
"Pergilah," ucap sang ibu dingin.
"Aku tidak akan pergi kemanapun sebelum Ibu menerima permintaan maafku," ucap Fabian.
"Kenapa Nenek malah sama ayah? Memangnya ayah salah apa?" tanya Lyra.
"Tapi nenek Kinanti jangan malah lagi sama ayah."
"Iya, Sayang."
Ibu pun lantas menggandeng tangan Lyra kemudian mengajaknya masuk ke dalam mobilku.
"Untuk saat ini mungkin ibu belum mau bicara. Aku harap kamu bisa mengerti," ucapku pada Fabian sesaat setelah ibu dan Lyra masuk ke dalam mobil.
"Aku sadar, kesalahanku pada ibu begitu besar. Apa aku salah jika aku datang untuk meminta maaf?"
"Apa yang sudah kamu lakukan pada ibu sudah membuat hatinya begitu terluka. Mengertilah, beliau hanya butuh waktu," ujarku.
Fabian pun hanya bisa pasrah saat sang ibu benar-benar meninggalkannya dan masuk ke dalam rumah.
Suasana hening sejenak.
"Oh ya, darimana kamu tahu alamat rumahku?" tanyaku.
"Mudah saja mencari alamat konveksi yang cukup terkenal di kota ini."
"Alhamdulillah, apa yang kudapatkan sekarang karena berkat kerja keras dan doa dari ibu."
"Zura … ini belum terlambat. Kita masih bisa memperbaiki semuanya," ucap Fabian.
__ADS_1
Aku menyeringai kecut.
"Apanya yang mau diperbaiki? Kapal yang kita tumpangi benar-benar telah karam, karena apa? Kamu sebagai nakhoda nya tidak bisa mengendalikan lajunya dengan baik."
"Kita bisa menumpangi kapal yang baru 'bukan?"
"Maaf, aku tidak bisa. Lagipula kamu sekarang sudah punya dua istri 'bukan?"
"Aku akan segera menjatuhkan talak pada Mila."
"Lantas, bagaimana dengan Silvia?"
"Aku juga sudah bercerai dengannya. Silvia ketahuan berselingkuh, dan pria itu ternyata asisten pribadi ayahnya, Evan."
"Meskipun bukan suami istri lagi, kita bisa menjadi kawan. Kita akan membesarkan Lyra bersama."
"Tapi, aku-aku masih memiliki perasaan padamu. Kamu masih memiliki ruang tersendiri di dalam hatiku."
Sekali lagi aku menyeringai kecut.
"Sayangnya aku tidak."
"Dibandingkan dengan aku yang hanya seorang pelayan cafe dengan gaji kecil, wanita sepertimu pasti akan memilih laki-laki kaya itu," ucap Fabian.
"Siapapun laki-laki yang dekat denganku, itu bukanlah urusanmu. Maaf, Lyra dan ibu sudah terlalu lama menunggu," ucapku seraya berlalu dari hadapan Fabian.
"Tunggu! Kita belum selesai bicara."
Tiba-tiba Fabian menarik lenganku.
"Maaf, bisa kamu lepaskan tanganku?" sindirku.
"Aku ingin kita berkumpul kembali. Aku berjanji tidak akan pernah sekalipun menyakitimu ataupun mengecewakanmu."
"Aku pergi dulu, Assalamu'alaikum."
"Zura, kumohon."
"Kamu yang sudah membuat perasaan ini mati. Inilah harga dari sebuah pengkhianatan yang harus kamu bayar lunas," ucapku sebelum aku benar-benar meninggalkannya lalu masuk ke dalam mobil.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰 🥰🥰🥰
__ADS_1