
"Ibu jangan bercanda. Mana mungkin Lyra tidak ada di kamar. Dia kan belum bisa berjalan," ucapku. Sementara fokusku belum beralih dari bahan pakaian yang tengah kujahit.
"Ibu tidak bercanda! Lyra tidak ada di kamar!" tegas ibu. Aku pun sontak menghentikan pekerjaanku dan bergegas menghampiri kamarku. Aku terperanjat saat tak mendapati Lyra di atas tempat tidurnya.
"Astaghfirullah! Di mana Lyra, Bu?" tanyaku.
"Mestinya ibu yang tanya sama kamu. Di mana Lyra? Tadi dia sama kamu 'kan?"
"Tadi Lyra memang sama aku. Tapi dia tidur, jadi kutidurkan di kamar."
"Kamu lihat sendiri 'kan? Lyra nggak ada di tempat tidur?"
Lekas kucari Lyra di dalam kamar itu, bahkan di kolong tempat tidur dan di bawah meja rias. Namun hasilnya nihil.
"Lyra, di mana kamu, Nak?" ucapku parau.
"Tadi waktu kamu tinggal masuk, kamu kunci pintu depan nggak?" tanya ibu.
"Tidak, Bu. Aku hanya menutupnya saja. Lagipula pelangganku baru saja pulang."
"Jangan-jangan perempuan sin*ing itu yang diam-diam masuk ke dalam rumah kita dan menculik Lyra."
"Maksud Ibu mbak Salma?"
"Siapa lagi kalau bukan dia. Dia kan gi*a gara-gara kehilangan bayinya. Bisa saja dia menculik Lyra dan menganggap Lyra bayinya."
Ibu benar juga. Kematian bayinya membuat jiwa mbak Salma terguncang. Bukan tidak mungkin dia menculik Lyra secara diam-diam dari rumahku.
"Mari kita periksa kamar Rahma," ucapku.
Kami pun bergegas mendatangi kamar Rahma yang berada persis di samping kamar kost ku.
"Assalamu'alaikum, Mbak Salma… Rahma," ucapku dari depan pintu kamarnya.
Tak ada sahutan.
"Perempuan sin*ing! Kembalikan cucuku! Kau jangan main-main denganku!" teriak ibu yang sontak mengundang perhatian dari penghuni kost lainnya.
"Kenapa Bu Sabrina teriak-teriak? Ada apa, Bu?" tanya salah satu penghuni kost.
"Cucuku hilang! Pasti perempuan sin*ing ini yang menculiknya."
"Tadi saya sempat melihat mbak Salma berjalan menuju kamar mbak Zura. Saya pikir dia hanya ada perlu," ucap gadis bernama Mirna itu.
"Jadi benar, perempuan sin*ing itu yang menculik cucuku? Di mana dia sekarang?"
"Salma! Keluar kamu!" teriak ibu lagi.
"Sepertinya kamar ini kosong, Bu. Hari ini Rahma bekerja shift pagi," jelas Mirna.
__ADS_1
"Di mana mbak Salma? Lyra dibawa kemana?" tanyaku.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang dari arah pintu gerbang.
"Mbak Zura! Mbak Zura!" teriak perempuan paruh baya itu. Aku pun bergegas menghampirinya.
"Ada apa, Bu?" tanyaku.
"Lyra…Lyra…"
"Kenapa dengan Lyra?"
"Tadi saya melihat Salma membawa Lyra naik ojek ke arah sana. Saya tanya mau kemana, tapi ojek itu sudah keburu pergi."
Astaghfirullah! Jadi benar Mbak Salma yang menculik Lyra?
Tanpa membuang waktu lagi, aku pun lantas menuju pangkalan ojek dan menyewa tukang ojek untuk mengejar mbak Salma.
Setelah beberapa menit menyusuri jalan utama, aku pun mulai menangkap sepeda motor yang ditumpangi mbak Salma. Tentu saja aku meminta tukang ojek itu untuk mengikuti sepeda motor tersebut. Sial, sepertinya mbak Salma sadar jika ia tengah diikuti. Sepeda motor itu pun semakin kencang melaju dan enggan menepi meskipun sepeda motor yang kutumpangi berkali-kali membunyikan klakson nya. Aku semakin dibuat kesal saat sepeda motor yang kutumpangi berhenti mendadak.
"Kenapa kita berhenti, Pak?" tanyaku.
"Maaf, Mbak. Bensin nya habis."
Ya Rabb. Bagaimana ini? Bagaimana jika mbak Salma benar-benar membawa Lyra pergi dan aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi? Ketakutan itu pun sekarang menyerangku.
"Di mana, Pak?"
"500 meter lagi ada POM bensin."
Aku harus menunggu berapa lama sampai tukang ojek itu kembali? Aku tidak boleh diam saja. Atau mbak Salma membawa Lyra semakin jauh. Ya Rabb, berikan pertolongan Mu dari dari arah mana saja.
Di saat itulah pertolongan benar-benar datang. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di hadapanku.
"Zura? Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Fabian…?"
"Kamu ngapain di pinggir jalan begini?"
"Lyra…Lyra…"
"Kenapa dengan Lyra?"
"Lyra diculik!"
"Astaghfirullah! Baru dia bisa diculik?"
"Sudahlah. Jangan membuang waktu untuk berdebat. Kita harus cepat mengejar penculik itu sebelum dia pergi semakin jauh."
__ADS_1
"Ke mana penculik itu membawa Lyra?"
"Ke sana."
"Cepat naik!" seru Fabian sembari membukakan pintu mobil untukku.
Meskipun hubungan kami sekarang tengah memburuk, aku tidak boleh mementingkan egoku. Bagaimana pun keselamatan Lyra jauh lebih penting. Aku pun masuk ke dalam mobil Fabian dan mulai melakukan pengejaran pada mbak Salma yang telah berusaha membawa kabur Lyra.
Aku hampir putus asa lantaran aku mulao kehilangan jejak sepeda motor yang ditumpangi mbak Salma. Namun, tiba-tiba sepeda motor itu muncul kembali dan kali ini berhenti di sebuah warung kecil yang berada di pinggir jalan. Bisa kupastikan sepeda motor itu berhenti untuk mengisi bahan bakar. Aku pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati mbak Salma.
"Mbak Salma, Lyra mau dibawa kemana?" tanyaku.
"Dia Ridho anakku. Aku akan mengajaknya pulang dan bertemu mas Roni."
"Dia Lyra, Mbak. Bukan Ridho. Kita pulang ya. Kasihan Lyra. Dia nanti sakit kalau diajak bepergian jauh dengan sepeda motor," bujukku.
"Dia Ridho anakku! Aku akan membawanya menemui mas Roni!"
"Ya sudah, kita pertemukan Ridho dengan mas Roni tapi dengan naik mobil ya? Pasti lebih cepat sampai." Fabian menimpali.
"Kamu pasti bohong 'kan? Kamu pasti akan mengambil Ridho dariku."
"Tidak, Mbak. Kita akan mempertemukan Ridho dengan mas Roni."
"Tidak!" Tiba-tiba mbak Salma berlari dan naik ke jembatan penyeberangan orang.
"Astaghfirullah. Mbak Salma! Turun! Di sana berbahaya!" teriakku.
"Pergi kalian! Jangan mendekat!" teriak mbak Salma. Caranya menggendong Lyra sungguh membuatku bergidik ngeri. Bagaimana jika putriku itu terlepas dari dekapannya dan terjatuh dari ketinggian? Membayangkannya saja aku tidak sanggup.
"Woi! Turun!"
"Awas bayinya jatuh!"
"Mbak ini stress atau gimana?"
Rupanya adegan ini mulai mengundang perhatian para pengguna jalan. Satu persatu dari mereka membantu mencoba membujuk mbak Salma agar lekas turun dari ketinggian itu.
"Mbak Salma, kita ke tempat mas Roni dengan naik mobil, ya," bujukku.
"Kalian semua pergi! Jangan menggangguku!" teriaknya lagi.
"Lyra!" pekikku saat mbak Salma tiba-tiba tersandung oleh kakinya sendiri hingga membuat Lyra yang berada di dekapannya jatuh dan terlempar.
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1