
Di kantor Fabian.
"Sepertinya kamu sedang kesal. Apa ada masalah?" tanya Silvia saat ia masuk ke dalam ruangan Fabian.
Fabian yang tengah asyik melamun itu tentu saja tak menanggapi ucapan Silvia.
"Bian, …"
Fabian sedikit terperanjat saat atasannya itu mengusap lembut punggungnya.
"Iya. Zura …"
"Zura? Jadi kamu sedang mikirin dia sampai tidak menyadari kehadiranku?"
"Bu-bu-bukan begitu. Aku hanya, …"
"Kalian sudah resmi berpisah 'bukan? Kenapa kamu masih saja mikirin dia?"
"Bukannya aku mikirin dia. Tapi tadi tidak sengaja bertemu dengan Zura. Dia mengaku jika semalam tidur di rumah seorang laki-laki."
"Hah?! Apa aku tidak salah dengar? Mantan istrimu itu selalu berpakaian tertutup. Mana mungkin dia begitu?"
"Aku mendengar pengakuannya secara langsung. Meskipun kami tidak memiliki hubungan lagi, ada Lyra, darah dagingku yang tinggal bersamanya. Aku tidak rela jika Zura memberinya makan dari uang haram. Zura sudah memberi penjelasan, namun aku tidak bisa percaya begitu saja padanya. Bisa saja dia memang membutuhkan penghasil tambahan. Apalagi sekarang dia menampung seorang anak di bawah umur."
Silvia tersenyum tipis.
"Kurasa itu bukan rasa khawatir pada putrimu, melainkan cemburu. Kamu tidak suka jika dia dekat dengan pria lain."
"Aku tidak memiliki perasaan lagi padanya. Kenapa aku harus cemburu?"
"Hanya kamu sendiri yang tahu isi hatimu," ujar Silvia.
Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk," ucap Fabian."
"Saya dengar dari security jika Nona berada di ruangan Fabian. Itulah sebabnya saya langsung menuju kemari."
Laki-laki yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu adalah Evan, salah satu tangan kanan sang ayah, tuan Anthony.
"Ada apa kamu mencariku? Kenapa kamu tidak menelponku atau mengirim pesan terlebih dahulu?"
"Saya sudah beberapa kali menghubungi nomor Nona, namun tak bisa terhubung."
"Mana mungkin. Aku sama sekali tidak mendengar dering ponselku."
Silvia membuka resleting tas selempang nya lalu mengambil ponselnya dari dalam sana.
"Ah! Mati. Aku lupa tidak mengisi daya nya semalam," gumamnya sebelum ia menyimpan kembali ponselnya.
"Ponselku mati. Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Ehm … ini tentang, …"
Evan menggantung kalimatnya.
"Tentang apa?"
"Tentang tuan Anthony."
"Kenapa dengan ayah?"
__ADS_1
"Maksud saya soal tuan Anthony dan pejalan kaki itu."
"Ehm, kita bicarakan ini di mobil saja. Kebetulan hari ini saya sedang malas menyetir," ucap Silvia.
"Baik, Nona. Saya tunggu di mobil." Evan melirik ke arah Fabian sebelum akhirnya ia beranjak meninggalkan ruangan tersebut.
"Maaf, Bian. Aku harus pergi sekarang. Aku masih ada urusan." Fabian membiarkan saja saat Silvia melingkarkan tangannya di lehernya lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipinya.
"Selamat kembali bekerja, calon suamiku," bisiknya. Tidak berselang lama ia pun meninggalkan ruangan itu.
"Sebenarnya apa yang ingin mereka bicarakan? Kenapa mereka memilih tempat lain untuk mengobrol? Dan kenapa tadi mereka menyebut nama tuan Anthony dan pejalan kaki?" Gumam Fabian.
****
"Ada masalah apa?" tanya Silvia sesaat setelah duduk di belakang bangku kemudi mobilnya.
"Ibu dan anak itu sepertinya ingin memeras kita."
"Apa maksudmu?"
"Beberapa saat yang lalu mereka menelpon saya meminta uang lagi."
"Astaga! Uang yang sudah kita berikan jumlahnya cukup besar. Bagaimana mungkin mereka menghabiskannya dalam waktu secepat ini?"
"Mereka bilang uang itu sudah habis untuk membeli sepeda motor."
"Memangnya sepeda motor jenis apa yang mereka beli?"
"Mereka sempat mengirim foto pada saya. Sepeda motor itu adalah keluaran terbaru yang harganya cukup mahal," jelas Evan.
"Ya sudah, jangan menggubris permintaan mereka."
"Tapi, Non. Mereka mengancam akan menemui tuan Anthony jika kita tidak mengikuti kemauan mereka. Mereka akan membongkar kebohongan ini."
"Di sekitar tempat itu hanya mereka berdua saja yang cocok untuk menjalankan peran sebagai Amira dan ibunya. Saya pikir, bagi keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah seperti mereka, uang itu lebih dari cukup. Tapi ternyata saya salah. Uang itu masih kurang."
"Mereka itu mata duitan. Mereka akan memanfaatkan kita karena mereka pemegang kartu As kita."
"Jadi, apa yang harus kita lakukan Nona? Apa kita harus menuruti kemauan mereka?" tanya Evan.
"Kita ke rumah mereka sekarang."
Evan pun lantas menghidupkan mesin mobilnya. Keduanya lantas menuju rumah pemeran Amira dan ibunya.
Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam keduanya tiba di rumah sederhana yang letaknya tidak begitu baik dari jalan tempat terjadinya kecelakaan sepuluh tahun silam.
Di halaman rumah itu tampak 1 unit sepeda motor matic yang masih terbungkus plastik. Menandakan jika kendaraan roda dua itu belum pernah dipakai.
"Masuk! Aku ingin bicara!" seru Silvia pada kedua perempuan itu yang tengah mengobrol di teras rumah.
"Saya tidak menyangka Nona Silvia akan datang secepat ini. Nona sudah menyiapkan uangnya 'bukan?"
"Saya datang ke sini tidak untuk memberi uang."
"Lantas?"
"Bu … Mbak. Saya tahu kalian ingin memeras saya."
"Memeras bagaimana?"
"Uang yang saya berikan seharusnya lebih dari cukup untuk orang miskin seperti kalian."
__ADS_1
"Loh, kami sudah membantu Nona. Kenapa Nona malah menghina kami?" protes pemeran ibu Amira.
"Saya memang meminta kalian untuk membantu saya memberi keterangan palsu pada ayah saya karena beliau lah satu-satunya yang saya miliki. Saya tidak ingin ayah saya masuk penjara jika ternyata saya mendapatkan fakta pejalan kaki yang ditabrak ayah saya itu benar-benar meninggal."
"Dalam hal ini kita saling membutuhkan. Kenapa sekarang jadi berat sebelah begini? Tuan Anthony sendiri yang mengatakan akan memberikan apapun yang diminta jika memang pejalan kaki itu masih hidup."
"Kerja kalian hanya membuat pernyataan palsu. Hanya butuh beberapa menit saja 'bukan? Kenapa upah yang kalian minta begitu besar? Kami bisa melaporkan kalian pada pihak yang berwajib atas dasar pemerasan!" ucap Silvia.
Meskipun hanya sebuah gertakan, nyatanya kalimat itu membuat nyali si anak menciut.
"Bagaimana ini, Bu? Bagaimana jika mereka benar-benar melaporkan kita pada polisi? Kita bisa dipenjara. Sudahlah, kita jangan berurusan dengan mereka lagi," ucap si anak setengah berbisik.
"Saya tahu Nona hanya menakut-nakuti kami. Nona pikir kami akan diam saja jika kalian melaporkan kami pada polisi? Kami pun akan membuat pengakuan pada polisi jika Nona sudah membayar kami untuk membuat pernyataan palsu. Itu juga termasuk kasus penyuapan 'bukan?"
"Sial!" umpat Silvia.
Perempuan yang dipikirnya polos itu rupanya tidak sebodoh yang ia kira.
"OK! Saya akan memberikan uang pada kalian, tapi tentu saja kalian harus menandatangani surat perjanjian. Evan! Ambilkan aku kertas dan materai."
Evan, sang asisten yang selalu sigap itu pun bergegas mengambil benda-benda yang diminta Silvia dan selalu tersedia di dalam tas kerjanya itu.
"Tanda tangan di sini." Silvia menyodorkan kertas yang sebelumnya telah ia tuliskan surat perjanjian antara dirinya dan kedua ibu dan anak tersebut.
"Ingat! Setelah ini urusan kita selesai. Jangan pernah lagi mencari ataupun menghubungi kami lagi!" ancam Silvia.
Si ibu yang ternyata cukup cerdas itu pun mulai membaca surat perjanjian yang telah ditulis Silvia. Dia terlihat mengangguk berulang yang menandakan jika dia tidak keberatan dengan isi surat perjanjian tersebut.
"Baiklah, dua puluh lima juta lagi dan urusan kita selesai," ucapnya seraya membubuhkan tanda tangannya di atas materai.
"Evan. Simpan baik-baik kertas ini. Jangan sampai siapapun menemukannya, terutama ayahku."
"Baik, Nona."
Evan pun lantas mengambil surat perjanjian itu kemudian menyimpannya di dalam tas kerjanya.
"Terima kasih atas kerjasamanya. Meskipun aku menyesal harus mengeluarkan uang dua kali lipat lebih banyak. Permisi!"
"Terima kasih." Dengan sorot mata berbinar sang ibu menerima amplop cokelat dari tangan Evan. Keduanya pun lantas meninggalkan rumah tersebut.
"Kita mau kemana, Nona? Ke kantor atau langsung pulang?" tanya Evan sesaat setelah menghidupkan mesin mobil.
"Kedua perempuan menyebalkan itu sudah membuat moodku hancur! Kita langsung pulang saja," gerutu Silvia kesal.
Evan mengangguk paham. Ia pun bergegas melajukan mobilnya ke arah tujuan.
Sesampainya di rumah.
"Kamu simpan baik-baik surat perjanjian itu. Jangan sampai siapapun menemukannya apalagi ayahku," ucap Silvia.
"Nona tenang saja. Aku akan menyimpan surat itu baik-baik."
"Semoga kedua perempuan itu tidak akan berulah lagi. Kurasa uang lima puluh juta cukup bagi mereka," ujar Silvia.
"Uang lima puluh juta? Uang apa yang kamu maksud? Dan siapa mereka yang kamu bilang itu?" tanya seseorang yang baru saja muncul dari dalam rumah.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading…