
"Tolong jaga ucapan Ibu. Saya bahkan baru pertama kali bertemu dengan bu Azzura ini," ucap Rizal.
"Kalau bukan selingkuhan lalu apa? Kamu 'kan baru saja menikah. Kenapa jalan dengan laki-laki lain?" Fabian yang duduk di kursi kemudi menimpali.
Aku menghela nafas sebelum melontarkan kalimat yang cukup pedas itu.
"Kalaupun aku selingkuh, apa urusan kalian? Kalian sama sekali tidak berhak ikut campur apapun dalam hidupku!" tegasku.
Detik kemudian lampu lalu lintas berganti warna hijau. Rizal pun melajukan kembali mobilnya. Aku tak peduli dengan kak Mauren yang terus mengumpat di belakangku.
"Mereka itu siapa, Bu? Sepertinya kurang menyukai Ibu," tanya Rizal.
"Pria itu adalah mantan istri saya dan istri barunya."
"Apa suami-istri yang sudah berpisah hubungannya akan memburuk, Bu?" tanya Rizal lagi.
"Itu tergantung apa yang menyebabkan mereka bercerai."
"Kalau boleh saya tahu, apa yang menyebabkan ibu dan suami Ibu bercerai?"
"Saya dan suami saya bercerai karena, …"
Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba ponselku berdering. Rupanya Fina yamg menelponku.
[Halo, Assalamu'alaikum, Fin]
[Wa'alaikumsalam. Ibu di mana?]
[Ibu sedang dalam perjalanan pulang ke rumah]
[Ya sudah, aku tunggu]
-Panggilan terputus-
"Siapa yang menelpon, Bu?" tanya Rizal.
"Fina. Dia bertanya saya di mana. Apa kamu bisa menyetir lebih cepat lagi? Perasaan saya tiba-tiba tidak enak."
"Baik, Bu."
Rizal menambah kecepatan mobilnya. Sepuluh menit kemudian aku pun tiba di rumahku.
"Terima kasih sudah mengantar," ucapku sesaat setelah turun dari dalam mobil berwarna silver itu.
"Sama-sama, Bu. Terima kasih juga sudah repot-repot membuat kue untuk budhe Murni. Jadi ngidamnya keturutan," ucap Rizal.
"Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum."
Aku berlalu dari hadapan Rizal lalu masuk ke dalam rumah.
"Tumben rumah sepi begini," batinku saat aku memasuki ruang tamu. Tak terlihat siapapun di sana.
Dari ruang tamu aku bergeser ke kamar Fina. Namun, kamar itu juga kosong. Tiba-tiba saja aku mendengar suara tangisan Lyra dari arah kamarnya.
"Kenapa kamu mena-...
Astaghfirullahaldzim! Kamu kenapa,
Sayang?" Mataku terbelalak saat mendapati puteri semata wayangku itu terbaring di atas tempat tidurnya dengan kepala dibalut perban.
__ADS_1
"Ibu … sakit," rintihnya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanyaku.
"Tadi kepala Lyra dilempar batu oleh salah satu kawannya, Bu. Salah satu guru sekolahnya yang mengobati lukanya di ruang UKS," jelas pak Amin yang juga berada di ruangan itu.
"Apa Pak Amin tahu siapa anak itu?" tanyaku.
"Saya belum pernah melihatnya, Bu. Sepertinya di tidak berasal dari TK Ceria."
"Apa luka di kepalanya parah?" tanyaku lagi.
"Tadi mengeluarkan cukup banyak darah, tapi sudah diobati oleh gurunya."
Kuhampiri Lyra lalu kudekap tubuhnya.
"Tidak apa, Sayang. Hanya luka kecil. Ibu tahu Lyra anak yang kuat. Tidak lama lagi Lyra pasti sembuh," ucapku.
"Haikal nakal sama Lyra. Lyra benci Haikal! Hu … hu … hu…"
Haikal? Sepertinya anak itu memang bukan berasal dari TK Ceria.
"Kenapa Haikal bisa melempar Kepala Lyra dengan batu? Lyra tidak nakal duluan 'kan?" tanyaku.
"Ehm … tadi-tadi Lyra hanya menegur Haikal karena dia merebut bekal salah satu kawan sekelas kami hingga anak itu menangis."
Aku mengulas senyum.
"Oh, berarti Lyra tidak salah. Ibu bangga karena Lyra sudah berani menegur Haikal yang berbuat nakal pada kawan sekelas Lyra. Besok ibu ke sekolah Lyra dan coba bicara pada Haikal agar tidak nakal lagi pada kawan-kawannya," ucapku.
Lyra mengangguk setuju.
Gadis kecilku itu menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, ibu ambilkan makanan dan ibu yang suapi kamu," ucapku. Sekali lagi putriku yang penurut itu menganggukkan kepalanya.
*****
"Ibu jadi penasaran siapa sebenarnya anak nakal bernama Haikal itu. Kalau ketemu, pasti ibu jewer telinganya," ucap ibu sesaat setelah aku keluar dari dalam kamar Lyra.
"Namanya juga anak kecil, Bu. Mereka masih penasaran dengan hal-hal baru. Mungkin Haikal belum paham jika perbuatannya melempar batu di kepala Lyra bisa menyebabkan Lyra terluka," ujarku.
"Tetap saja perbuatannya sudah kelewatan. Bagaimana kalau kepala Lyra sampai bocor dan harus dijahit?"
"Sudah, Bu. Lyra tidak apa-apa kok. Insyaallah tidak lama lagi lukanya sembuh."
"Pokoknya besok kamu harus menemui anak itu lalu datangi juga orang tuanya. Kalau perlu minta orangtuanya untuk memberikan hukuman pada anak nakal itu."
"Iya, Bu. Besok aku akan ke sekolah Lyra."
"Ngomong-ngomong kamu dari mana saja? Bukannya kamu hanya ingin memeriksa laporan penjualan di toko kue mu? Kenapa hampir sore begini baru pulang?" tanya ibu.
"Di toko kueku pesanan lumayan banyak. Aku khawatir Ana kewalahan jika mengerjakannya sendiri. Jadi aku membantunya. Tadi aku juga membuat kue lapis legit untuk mantan tetanggaku yang sedang ngidam lalu mengantar kue itu ke rumahnya," paparku.
"Kenapa kamu harus repot-repot begitu?"
Aku mengulas senyum.
"Saat aku masih tinggal di perumahan Dahlia, pak Hasan dan bu Murni begitu baik padaku dan sering membantuku. Rasanya tidak ada salahnya jika aku membalas kebaikan mereka. Aku berpikir kue yang kubuat itu sebagai ucapan selamat atas kehamilan bu Murni."
__ADS_1
Tiba-tiba saja aku menghirup wangi aroma masakan dari arah dapur.
"Masak apa, Bi?" tanyaku pada bi Ami.
"Ini, Bu. Saya mencoba resep ayam Taliwang dari majalah. Semoga saja rasanya enak," jawabnya.
"Dari aromanya saja sudah menggoda, pasti rasanya lezat," ucapku.
"Ini sudah matang kok, Bu."
"Ya sudah, Bibi siapkan di meja makan, ya," ucapku.
"Ya, Bu."
*****
Keesokan paginya.
"Bagaimana, Sayang? Apa kepalamu masih sakit?" tanyaku.
"Lyra masih pusing, Bu."
"Ya sudah, ibu akan datang ke sekolahmu untuk meminta izin pada wali kelasmu," ucapku. Lyra mengangguk setuju.
"Hari ini Lyra tidak masuk sekolah, katanya kepalanya masih pusing," ucapku pada ibu.
"Ya sudah, biarkan dia istirahat di rumah dulu."
"Aku akan mendatangi sekolahnya untuk minta izin pada wali kelasnya sekaligus menemui anak bernama Haikal itu," ucapku.
"Ibu setuju, kalau perlu temui juga orang tuanya agar mereka tahu jika anak mereka nakal."
"Ya sudah, aku ke sekolah Lyra dulu," ucapku.
"Hati-hati."
Setelah mencium tangan ibu, aku pun melangkah keluar meninggalkan ruang tamu. Langkahku terhenti saat tiba-tiba netraku menangkap sebuah bucket bunga di atas meja yang berada di teras rumahku.
"Bunga apa ini? Dan siapa yang mengirimnya?" gumamku.
Aku pun lantas mengambil bucket bunga berisi puluhan tangkai bunga mawar putih itu. Kulihat selembar kartu yang terselip dj sana.
to: Azzura
Have a nice day …
Aku mencari nama pengirimnya. Namun tak menemukannya. Di kartu itu hanya tertulis namaku dan ucapan saja.
"Siapa pengirim bucket bunga ini? Apa ini kerjaan orang iseng saja?" batinku.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1