
Di sebuah ruko terdengar percakapan antara dua orang perempuan.
"Apa kubilang, siapapun yang membuka usaha di ruko itu, usahanya tidak akan laku dan lama kelamaan jatuh bangkrut," ucap pemilik toko pakaian yang menyewa ruko persis di sebelah salon Maureen.
"Ya, sudah sore begini, tidak mungkin ada lagi ada pelanggan yang datang," sahut penyewa ruko lainnya.
"Apa kalian tidak punya pekerjaan lain selain membicarakan orang?!" sungut Maureen yang tiba-tiba saja muncul dari dalam salonnya.
"Sudahlah, tutup saja salonmu, lalu pindah ke tempat lain."
"Aku baru beberapa bulan menyewa ruko ini, jika aku menutup salon ini, berarti aku rugi 'bukan?"
"Sampai nanti waktu sewa ruko ini habis, salonmu akan selalu sepi begini. Jadi, menutup salonmu sekarang atau besok saja."
"Hufht!" Maureen mendengus kesal sebelum akhirnya memilih masuk kembali ke dalam salonnya.
"Bagaimana ini? Uang tabunganku semakin menipis, sedangkan salonku tidak menghasilkan apapun," gumam Maureen.
Lamunan Maureen seketika buyar ketika tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
"Bu Maureen."
"Kamu rupanya, masuk"
Perempuan yang baru saja memasuki ruangan itu rupanya Luna. Gadis itu pun lantas duduk di sebuah kursi.
"Bagaimana dengan salonmu?" tanya Luna.
"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskannya. Kamu lihat sendiri 'kan? Salonku semakin hari semakin sepi pelanggan. Bahkan hari ini tak ada seorang pun yang datang."
"Ini pasti karena ibu dan adik perempuanmu sudah mendo'akanmu agar usahamu bangkrut dan hidupmu hancur."
"Benar juga. Dari kecil ibu memang tak pernah menyukaiku," ujar Maureen.
Bagaikan api, Luna terus menghasut Maureen agar dendamnya pada Azzura semakin menjadi sehingga rencana besarnya akan segera terwujud.
"Aku yakin uang tabunganmu sudah semakin menipis. Apa kamu akan diam saja? Kamu sekarang hidup sendiri tanpa keluarga. Tidak ada lagi yang bisa menolong selain diri kamu sendiri. Aku sengaja datang ke sini untuk mematangkan rencana kita. Kemarin aku sudah bertemu dengan dua orang pria yang akan membantu menjalankan rencana kita. Mereka minta uang muka sebesar lima puluh juta rupiah."
"Apa mereka mau memerasku?"
"Kurasa upah itu pantas untuk pekerjaan mereka yang beresiko tinggi."
"Apa aku saja yang harus membayar mereka secara penuh? Bagaimana denganmu?"
"Aku yang sudah mencetuskan ide ini, aku juga yang sudah mencari orang yang akan membantu kita. Jika kamu tidak mau membayar mereka, ya sudah. Sekarang juga aku akan menelpon mereka dan membatalkan rencana kerjasama kita."
"Tunggu! Bukan begitu maksudku."
__ADS_1
"Percayalah, sejauh ini tindakan mereka selalu terencana dengan rapi dan tidak pernah gagal. Tidak akan ada yang tahu keterlibatan kita di dalam rencana ini."
"Kamu bisa menjamin kita akan lolos?"
"Kamu tenang saja, semuanya akan diatur dengan matang oleh mereka. Oh ya, aku ingin jika kita sudah berhasil menjalankan rencana kita nanti, yang akan kita dapat kita bagi rata."
"Mana bisa begitu? Hasil yang kita dapat nanti akan kita bagi 70% dan 30%."
"Enak saja, pokoknya aku mau hasilnya dibagi rata, 50% dan 50%."
"Aku tidak setuju!"
"Ya sudah, kita batalkan saja rencana ini," ucap Luna sembari beranjak dari tempat duduknya.
Maureen terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya memberikan keputusan.
"OK … OK … 50:50."
Luna tersenyum puas.
"Jadi, kapan kita akan menjalankan rencana itu?"
"Semakin cepat semakin baik."
"Ehm … bagaimana kalau besok? Aku masih harus menemui kedua preman bayaran itu," tanya Luna. Maureen mengangguk setuju.
"Kamu mau pergi kemana?" tanya pemilik toko pakaian saat mendapati Maureen mengunci pintu salonnya.
"Bukan urusanmu!" sungutnya
"Paling dia mau refreshing karena jenuh berhari-hari hanya menunggui salon yang sepi pelanggan," sahut kawannya.
Maureen enggan menanggapi ucapan mereka. Ia dan Luna justru memilih pergi meninggalkan ruko tersebut.
Setengah jam kemudian taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah cafe. Setelah memesan minuman pada pelayan cafe, mereka pun lantas memilih sebuah meja.
"Maaf, sepertinya aku harus ke toilet dulu."
"Baiklah."
Maureen beranjak meninggalkan mejanya dan menuju toilet yang terletak di bagian belakang cafe. Entah bagaimana sapu tangan yang ia letakkan di bagian belakang saku celananya tiba-tiba terjatuh di lantai di dekat sebuah meja yang ditempati seorang bocah laki-laki.
"Bu, sapu tanganmu jatuh," ucapnya.
"Oh, ya, terima kasih."
Maureen pun bergegas mengambil sapu tangannya. Ia pun lantas mendongakkan wajahnya ke arah wajah bocah laki-laki tersebut. Tiba-tiba saja ia tercengang saat memandang wajahnya.
__ADS_1
"Astaga! Kenapa wajah anak ini mirip sekali dengan wajah Fabian?" batinnya.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya bocah laki-laki itu.
"Oh, tidak apa-apa, Nak. Kamu sendirian saja di cafe ini?"
"Aku bersama ayah, dia sedang memesan makanan."
"Apa ibu boleh duduk di sini sebentar?"
"Boleh, Bu."
Maureen pun lantas menarik sebuah kursi lalu mendudukinya.
"Apa ibu boleh bertanya sesuatu, Nak?"
"Ibu mau tanya apa?"
"Siapa nama kamu?"
"Nama saya, …"
"Sayang, siapa bibi ini, apa kamu mengenalnya?" tanya seorang pria yang tiba-tiba saja datang menghampiri meja mereka.
"Tidak, Ayah. Bibi ini tadi menjatuhkan sapu tangannya."
"Oh, begitu. Kamu harus hati-hati dengan seseorang yang tidak kamu kenal."
"Jadi, anda anggap saya ini orang jahat?"
"Sudah banyak sekali modus kejahatan penculikan anak kecil dengan cara mendekati sasaran mereka. Mereka akan bersikap manis bahkan memberi iming-iming benda yang menarik hingga akhirnya anak itu akan mengikutinya dengan sukarela. Dengan begitu orang lain tidak akan curiga jika dia telah menculik korban."
"Anda jangan sembarangan menuduh! Apa wajah saya ini punya tampang seperti penculik 'hah!"
"Jika tuduhan saya salah, mengapa anda harus marah? Sayang, kita bungkus makanannya, lalu kita pulang."
"Ya, Ayah."
"Permisi, Bi."
Si pria menggandeng tangan bocah itu lalu beranjak meninggalkan meja tersebut.
Tiba-tiba saja pandangan Mauren tertuju pada tangan jari-jari tangan bocah laki-laki tersebut.
"Astaga! Jari-jari tangan anak itu mirip seperti jari-jari tangan anak yang sudah ku lahirkan lalu kubuang. Apa bocah laki-laki itu anakku?" batinnya.
Bersambung …
__ADS_1