Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kejutan yang mengejutkan


__ADS_3

Pagi itu aku baru saja pulang dari mengantar Lyra ke sekolahnya. Di saat aku memasuki halaman rumahku itulah aku mendapati lima orang yang belum pernah kukenal sebelumnya tengah mengobrol dengan ibu di teras rumah.


"Assalamualaikum," sapaku.


"Waalaikumsalam," sahut mereka bersamaan.


"Itu dia pemilik konveksinya datang," ucap ibu.


"Selamat pagi, Bu Azzura, sapa mereka seraya menunduk hormat.


"Selamat pagi."


"Kemarin kami dihubungi oleh Bapak Gibran. Beliau menawarkan pekerjaan di konveksi ini," ucap salah satu dari mereka.


"Oh ya jadi kalian yang ingin bekerja di konveksi milik saya?"


"Benar, Bu."


"Boleh saya tahu nama kalian?"


"Saya Budi, ini Fahmi, Herdi. Dan yang perempuan ini bernama Tutik dan Ani."


"Baiklah, di antara kalian, siapa yang bisa menjahit?" tanyaku.


"Saya dan Tutik, Bu," jawab Fahmi.


"Mari saya antar ke ruang produksi. Ada Seto yang akan mengajarkan apa yang harus kalian kerjakan."


Aku pun lantas mengajak kelima karyawan baruku itu masuk ke dalam ruang produksi.


"Seto, ajari mereka di bagiannya masing-masing."


"Baik, Bu. Oh ya, bagaimana dengan Handoko? Apa dia belum bisa masuk kerja lagi?"


"Pagi tadi Handoko sudah memberitahu saya, mungkin besok dia mulai bekerja kembali. Dengan keadaannya sekarang saya tidak mungkin menempatkannya di bagian memotong kain mungkin saya akan memindahkannya ke bagian packing," jelasku. Seto mengangguk paham.


"Baiklah, saya tinggal dulu."


Aku pun lantas meninggalkan ruang produksi.


"Apa kamu sudah berterima kasih pada Gibran?" tanya ibu saat aku masuk ke ruang tamu.


"Berterima kasih? Untuk apa."


"Ya Allah, Nak. Dia sudah mencarikanmu karyawan baru, masa kamu mau diam saja?"


"Aku-aku sedang malas berhubungan dengannya, Bu."


"Tidak baik terlalu lama memendam kemarahan. Sekarang kamu telepon dia lalu ucapkan terima kasih."


"Tapi, Bu, …"


"Apa ibu yang harus menelponnya?"


"Ehm … ti-ti-tidak usah, Bu. Biar aku saja."


"Ya sudah ibu masuk dulu."


Ibu berlalu dari hadapanku lalu masuk ke dalam ruang produksi.


Aku pun mulai menghubungi nomor ponsel Gibran. Nada sambung memang terdengar akan tetapi dia mengabaikan panggilanku.


"Apa dia masih marah padaku setelah kejadian semalam?" gumamku.


Aku mencoba mengirim pesan untuknya.


[To: Gibran]


[Assalamualaikum, kenapa kamu tidak menjawab teleponku?]


Beberapa menit sudah berlalu, namun aku tidak kunjung mendapatkan pesan balasan darinya.


Aku pun mengirim pesan untuk kedua kalinya.


[To Gibran]

__ADS_1


[Aku minta maaf atas kejadian semalam]


Sama seperti pesan pertama, pesan ke dua dariku pun tak kunjung dibalasnya.


Ada apa dengannya? tidak biasanya dia mengabaikan telepon ataupun pesan dariku. Sepertinya Gibran memang benar-benar marah padaku. Ya sudahlah, aku biarkan saja dia marah. Nanti pasti baik sendiri.


"Bi Ami kenapa?" Tanyaku pada asisten rumah tanggaku saat aku mendapatinya tengah menyapu lantai ruang makan sambil memijit-mijit bagian tangannya.


"Tidak apa, Bu. Tangan saya hanya sedikit sakit, sepertinya terkilir saat tadi saya mengangkat barang belanjaan di pasar."


"Apa sakit sekali, Bi? Kalau memang sakit, saya antar Bibi ke dokter sekarang."


"Tidak usah, Bu. Setelah diolesin balsem nanti juga sembuh."


"Kalau nanti masih sakit, Bibi bilang saja biar saya panggilkan tukang urut."


"Baik, Bu."


Tiba-tiba indera penciumanku mencium bau hangus dari arah dapur.


"Bau apa ini, Bi?" tanyaku.


"Astagfirullah, Bu! Saya lupa sedang menggoreng telur untuk Pak Amin."


Bi Ami beranjak dari ruang makan campur bekas menuju dapur. Dia pun lantas mematikan kompor.


"Lain kali kalau menyalakan kompor jangan ditinggal, Bi," ucapku.


"Maaf, Bu. Saya benar-benar lupa."


Entah mengapa kejadian ini mengingatkanku pada peristiwa tiga tahun lalu saat rumahku hangus terbakar karena Fabian lupa mematikan kompor saat memasak air. Ah! Kenapa aku harus mengingat masa lalu?


"Ya sudah, Bibi goreng telur lagi saja lalu suruh Pak Amin sarapan. Setelah sarapan nanti saya akan mengajak Pak Amin untuk mengantar pesanan pada pelanggan."


"Baik, Bu."


"Bu Zura," panggil Seto yang tiba-tiba saja berdiri di tengah pintu.


"Ya, To."


"Baik, setelah Pak Amin selesai sarapan saya akan langsung mengantarnya."


Yang lama Ibu kembali menghampiriku.


"Kamu sudah jadi menelepon Gibran?" tanyanya.


"Aku sudah menghubunginya berkali-kali tapi dia tidak menjawab panggilanku. Dia juga tidak membalas pesan dariku. Sepertinya dia benar-benar marah padaku."


"Kamu sih, pakai acara ngambek segala. Bagaimana kalau dia benar-benar marah dan tidak mau lagi menemuimu?"


Entah mengapa ucapan ibu membuatku merasa khawatir. Tiba-tiba saja aku begitu takut jika dia menjauhiku.


****


Sekitar setengah jam kemudian aku sudah siap berangkat mengantar pesanan ke toko milik salah satu pelangganku.


"Sepertinya kita harus ke POM bensin dulu, Bu. Saya khawatir mobil ini mogok di tengah jalan," ucap pak Amin sesaat setelah ia melajukan mobilku.


"Ya, saya nurut Pak Amin saja."


Aku mengedarkan pandanganku di sekitar tempat itu. Aku bergegas menurunkan kaca jendela saat aku melihat wajah seseorang yang sangat ku kenal dari samping. Dia tengah mengantre untuk membeli bahan juga bakar untuk mobilnya juga.


"Silvia?"


"Eh, kamu, Zura. Mau ke mana?"


"Mengantar barang pesanan pada pelanggan."


Wanita yang pernah menjadi istri mantan suamiku itu tersenyum.


"Oh ya, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu," ucapku.


"Terima kasih untuk apa?"


"Karena kamu sudah merekomendasikan konveksiku pada kawan-kawanmu. Alhamdulillah, berkat kamu juga pesanan konveksiku Minggu ini mengalami kenaikan."

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Apa kamu tahu alasanku merekomendasikan konveksi milikmu?" tanyanya.


Aku menggeleng pelan.


Silvia menyeringai kecut.


"Kurasa kamu sudah tahu alasannya. Aku hanya ingin melihat Fabian hancur."


Ah! ternyata itu alasan Silvia. Aku kira dia tulus membantuku, ternyata ada rasa dendam di balik sikap baiknya itu.


"Aku duluan, sampai ketemu lagi."


Silvia melajukan kembali mobilnya dan berlalu dari hadapanku.


****


Ada beberapa toko yang harus ku antar pesanannya hari ini. Jaraknya pun cukup jauh dari rumahku. Aku baru sampai di rumah menjelang adzan Maghrib.


"Baru pulang, Nak?" tanya ibu saat aku melintasi ruang tamu.


"Tadi jalanan sedikit macet."


Tiba-tiba aku mencium aroma masakan dari dapur. Dari aromanya sepertinya Bi Ami membuat rendang. Tunggu. Kenapa tiba-tiba bi Ami memasak rendang? Memangnya siapa yang mau bertamu ke rumah ini?


"Setelah Ibu mandi dan sholat Maghrib, Ibu pakai baju ini ya," udah Fina seraya menyodorkan sepotong baju gamis beserta hijabnya padaku.


"Kenapa ibu harus memakai baju ini? Ibu tidak akan pergi ke mana-mana kok malam ini," ucapku.


"Tidak apa, aku suka saja kalau Ibu memakai baju ini."


"Bisa saja kamu."


Aku semakin dibuat bingung dengan tingkah laku seisi rumah ini saat Fina tiba-tiba mengajakku masuk ke dalam kamarnya.


"Ibu coba alat make up baruku ya?"


"Kenapa ibu harus memakai make up? Bukankah Ibu sudah bilang, ibu tidak kemana-mana.


"Ehm … ibu kan tahu aku mengambil jurusan kecantikan. Ada tugas merias dari sekolah, nanti hasilnya akan dinilai untuk raportku. Masa aku sendiri yang harus menjadi modelnya."


Meski sebenarnya aku sedikit keberatan, namun setelah mendengar alasan Fina aku pun menurut kemauannya.


"Awas ya, kalau kamu merias wajah ibu seperti kemarin," ucapku.


"Tidak kok, Bu. Guru di sekolahku hanya memintaku merias model dengan make up minimalis."


Beberapa menit kemudian aku sudah selesai dirias. Benar saja, hasil riasan Fina kali ini terlihat lebih natural dibandingkan dengan riasan kemarin malam.


Kulihat Vina mengarahkan kamera ponselnya ke arah wajahku. Dia pasti mengambil gambarku untuk dikirim ke guru sekolahnya.


"Eh, tunggu! Ibu mau apa?!" tanya Fina saat mendapatiku mengambil tisu basah yang berada di atas meja riasnya.


"Kamu sudah mengambil gambar ibu 'kan? Ibu mau menghapus riasan ini."


"Jangan! Nanti saja menghapus riasannya."


"Kenapa harus tunggu sampai nanti?"


Fina belum menjawab pertanyaanku. Di saat itu tiba-tiba kudengar suara dari mobil dari arah halaman rumah.


"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" tanyaku.


"Mungkin mas Darren dan anak istrinya," jawab Fina.


Aku beranjak dari kamar Fina dan bergegas menuju ruang tamu. Alangkah terkejutnya aku saat melihat siapa yang bertamu malam itu.


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2