Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Jawaban


__ADS_3

"Silvia?"


"Kamu?"


"Lihat! Gara-gara kecerobohanmu pakaianku basah!"


"Kamu berjalan sambil memainkan ponsel. Jangan salahkan orang lain jika kamu menabrak orang lain."


Silvia mendengus kesal sebelum ia berlalu dari hadapanku dan kembali menuju toilet.


Aku pun kembali memenuhi gelas yang telah kosong itu kemudian memberikannya pada pria berkursi roda itu.


"Silahkan, Pak," ucapku seraya menyodorkan gelas tersebut ke arahnya.


"Terima kasih, Nak."


Pria yang rambutnya telah dipenuhi uban itu lalu meneguk gelas tersebut hingga kosong.


"Apa kamu kenal Silvia?" tanyanya.


"Ya. Saya mengenalnya meskipun tidak begitu dekat."


"Begitu rupanya. Saya melihat kalian mengobrol barusan."


"Pakaian gadis itu basah karena terkena air minum yang saya ambil untuk Bapak."


"Silvia memang terkadang ceroboh."


"Bagaimana Bapak tahu?" Aku mengerutkan keningku.


"Tentu saja saya tahu. Saya bahkan mengenal betul watak puteri saya itu."


"Puteri Bapak?"


Pria itu mengulas senyum.


"Ya, Silvia adalah puteri semata wayang saya."


"Ja-ja-di, Bapak ini, …"


"Panggil saya Anthony. Saya adalah ayahnya Silvia."


Aku baru percaya jika dunia itu sempit. Aku yang dulu pernah begitu penasaran dengan atasan di tempat kerja Fabian, kini justru dipertemukan secara tidak sengaja.


"Namamu siapa? Apa kamu kawan kuliah Via?"


"Nama saya Azzura, Pak. Saya ehm … mantan istri Fabian."


"Apa?!"


"Benar, Pak. Saya adalah mantan istri Fabian. Saya juga tahu Fabian sempat menikahi Puteri Bapak."


"Cihh! Nama itu membuatku kesal saja!"

__ADS_1


"Memang kenapa, Pak?"


"Dia dan ibunya sudah memeras saya."


"Apa maksud Bapak?"


Pak Anthony membuang nafas.


"Suatu hari, tepatnya sepuluh tahun silam saya pernah tidak sengaja menabrak seorang pejalan kaki bernama Amira yang belakangan ini kuketahui ternyata adik perempuan Fabian.


"J-j-jadi Bapak pelakunya?"


"Saya minta maaf, Nak. Saya benar-benar tidak sengaja. Saat itu saya buru-buru lantaran asisten rumah tangga saya menelepon dan memberi kabar jika ibunya Silvia terjatuh dari tangga. Saya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Di saat itulah seorang pejalan kaki melintas. Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk menginjak rem mobil saya, tapi jarak mobil saya dengan pejalan kaki itu terlalu dekat sehingga tabrakan pun tidak dapat dihindari. Saya berniat menolong gadis itu, namun saya sendiri juga harus secepatnya tiba di rumah untuk membawa ibunya Silvia ke rumah sakit. Akhirnya saya meninggalkan sejumlah uang yang saya letakkan di dekat tubuh gadis itu.Meskipun saya belum tahu persis apakah gadis itu masih hidup ataukah meninggal dunia," ungkap pak Anthony.


"Lantas, bagaimana dengan ibunya Silvia?" tanyaku.


Pak Anto tersenyum kecut.


"Ibunya Silvia tidak selamat karena mengalami pendarahan di bagian dalam kepalanya."


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."


"Belum lama ini saya selalu merasa gelisah lantaran seringkali memimpikan gadis itu seolah dia meminta pertanggungjawaban dari saya. Akhirnya saya meminta Silvia untuk mencari tahu di mana keberadaan gadis itu apakah dia masih hidup ataukah sudah meninggal dunia. Akan tetapi, …"


"Kenapa, Pak?"


"Silvia yang terlalu takut kehilangan saya, merancang skenario dengan membayar


"Amira memang adik perempuan Fabian. Dia meninggal dunia ketika kami belum lama menikah."


"Saya tidak tahu, Fabian yang saya kenal cerdas itu tiba-tiba mendatangi rumah saya bersama ibunya. Dia membawa bukti yang cukup untuk mengaku jika pejalan kaki bernama Amira yang saya tabrak itu memang lah adik perempuannya."


"Lantas, apa yang membuat Bapak kesal pada Fabian?" tanyaku.


"Dia memanfaatkan pernyataan saya itu untuk memeras saya."


"Maaf, apa maksud Bapak?"


"Awalnya Fabian berniat melaporkan saya pada polisi, namun Silvia melarangnya. Setelah didesak Silvia, akhirnya Fabian mau membatalkan laporannya namun dengan satu syarat, yakni mereka harus membayarkan uang santunan kematian Amira."


"Jika saya boleh tahu, berapa nominal yang diminta Fabian?" tanyaku.


"Cukup besar, Nak. 500 juta."


Aku tahu sekarang, dari mana Fabian memperoleh uang untuk membuka usaha. Rupanya dia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


"Kamu kenapa, Nak?"


"Ti-ti-tidak apa, Pak."


"Salah satu rekan bisnis saya mengatakan ada sebuah konveksi baru bernama Fabian Konveksi, bisa saja Fabian pemiliknya."


Obrolan kami terhenti saat Silvia kembali dari toilet. Tentu saja ia keheranan mendapati kami tengah mengobrol.

__ADS_1


"Ayah kenal dengan perempuan ini?" tanyanya.


"Ya, lebih tepatnya baru kenal."


"Ayah jangan dekat-dekat dengannya."


Silvia meraih kursi roda yang ditumpangi sang ayah lalu mendorongnya sedikit menjauh dariku.


"Memangnya kenapa? Dia mau membantu ayah meskipun tadi kami belum saling mengenal."


"Atas nama Azzura," panggil perawat sesaat setelah ia keluar dari ruang dokter.


"Maaf, saya masuk ke dalam dulu."


Aku berlalu dari hadapan ayah dan anak itu lalu masuk ke dalam ruang dokter.


"Selamat pagi, Bu Azzura."


"Selamat pagi, Dok, sapa dokter spesialis penyakit dalam itu dengan senyum ramahnya.


"Keluhan apa yang anda rasakan?"


"Belakangan ini saya sering merasa mual."


"Seberapa sering?"


"Dalam sehari lebih dari dua kali."


"Anda terlambat datang bulan, mungkin?"


Aku mengulas senyum.


"Kalaupun saya terlambat datang bulan bisa dipastikan itu bukan gejala kehamilan. Sebab saya adalah seorang orangtua tunggal."


"Oh, maaf. Saya pikir anda merasa mual karena mengandung. Baik, mari saya periksa."


Aku beranjak dari tempat duduk lalu mengikuti dokter menuju ruang periksa.


"Apa yang terjadi pada saya, Dok? Saya baik-baik saja 'bukan?"


Dokter itu membuang nafas.


"Saya minta maaf jika harus menyampaikan kabar yang kurang baik."


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2