
Di rumah Silvia.
"Kamu sudah bertemu Fabian?" tanya tuan Anthony pada Silvia saat putri semata wayangnya itu melintasi ruang tamu.
"Ya, Ayah. Aku sudah bertemu dengannya di kantor."
"Aku mengenal Fabian. Dia memiliki loyalitas yang tinggi pada perusahaan. Apa yang sebenarnya terjadi padanya hingga pekerjaannya terganggu?"
"Fabian sudah menceritakan semuanya padaku. Memang benar, dia sedang menghadapi masalah yang cukup berat."
"Memangnya masalah apa yang sedang ia hadapi?"
"Fabian baru saja mengalami perampokan, dan istrinya juga tengah terjerat masalah hukum. Aku berencana menyewa pengacara agar istrinya bisa bebas," ucap Silvia.
Tuan Anthony memandang putrinya dengan raut wajah heran.
"Sejak kapan kamu peduli pada bawahanmu?" tanyanya.
"Aku-aku hanya kasihan, Ayah. Fabian memiliki bayi yang masih begitu kecil. Kasihan ia harus terpisah dengan ibunya."
Pria yang sudah bertahun-tahun akrab dengan kursi roda itu tersenyum tipis.
"Ayah tidak yakin itu alasannya. Apa kamu tertarik pada Fabian?"
"Ehm aku-aku, …"
"Ayah begitu mengenalmu. Sejak hubunganmu dengan Dion berakhir, sepertinya kamu tidak pernah dekat lagi dengan perempuan manapun."
"Dion? Siapa Dion? Aww!"
Raut wajah tuan Anthony berubah panik saat Silvia tiba-tiba mengaduh kesakitan sembari memegangi kepalanya.
"Maafkan ayah, Nak. Ayah tidak bermaksud membuatmu kesakitan. Ayah hanya tiba-tiba teringat mantan kekasihmu itu."
Silvia berusaha keras mengingat siapa pria bernama Dion itu namun usahanya sia-sia. Rupanya memori tentang Dion sama sekali tak tersisa dalam ingatannya.
Sang ayah pun lekas mengalihkan pembicaraan.
"Jadi, apa rencanamu?"
"Aku berniat menyewa pengacara untuk istrinya Fabian."
"Apa kamu serius dengan ucapanmu?"
"Tentu saja. Buat apa juga aku main-main."
__ADS_1
"Syarat apa yang kamu ajukan dengan rencanamu itu? Ayah yakin kamu tidak akan menjalankannya dengan percuma atau tanpa syarat."
"Syaratnya sama sekali tidak sulit. Aku mau membantunya menyewa pengacara hanya jika dia mau menjadi kekasihku."
"Via … Via. Kamu itu cantik dan berkelas. Ada banyak laki-laki lajang di luar sana yang tertarik padamu. Kenapa kamu malah mengejar laki-laki beristri?"
"Fabian itu berbeda dengan laki-laki yang pernah kukenal. Sepertinya aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya," ujar Silvia.
"Bagaimana dengan Fabian sendiri? Apa dia memiliki perasaan yang sama denganmu?"
"Entahlah. Saat ini sepertinya dia begitu mencintai istrinya. Tapi aku akan berusaha mengambil hatinya. Aku yakin suatu saat nanti dia akan bertekuk lutut denganku."
Tuan Anthony hanya menggeleng heran mendengar pernyataan putri kesayangannya itu.
****
Di sebuah rumah sederhana terdengar percakapan antara seorang pria dan wanita.
"Itu bayi siapa, Pak?" tanya si wanita saat si pria baru saja memasuki rumah mereka.
"Ada seseorang yang menitipkannya padaku."
"Apa Bapak mengenal orang tuanya?"
"Tidak. Dia hanya salah satu penumpang taksiku."
"Pria itu mengatakan istrinya ditangkap polisi karena terjerat masalah hukum. Sementara dia tidak memiliki saudara atau kerabat yang bisa ia mintai tolong untuk mengasuh bayinya saat dia bekerja," ungkap pria bernama Sumarno itu.
"Aku memang sudah begitu lama ingin hamil lagi tapi sepertinya Allah belum memberi kepercayaan lagi pada kita."
"Jadi, Ibu setuju 'kan jika kita merawat bayi ini?"
"Iya, Pak. Anggap saja kita membantu orang lain yang kesulitan. Siapa tahu dengan merawat bayi ini Allah menambah rejeki kita," ucap si wanita.
Tidak berselang lama seseorang memasuki rumah itu. Gadis berusia tujuh belas tahun itu bernama Linda yang merupakan putri semata wayang suami istri itu. Tentu saja dia terkejut dengan mendapati seorang bayi laki-laki di gendongan sang ibu.
"Loh, Bu. Kenapa ada bayi di rumah kita?" tanyanya.
"Seseorang menitipkannya pada ayahmu karena tidak ada yang merawatnya."
Linda yang sudah begitu lama menginginkan kehadiran adik di dalam hidupnya itu rupanya begitu senang dengan sosok bayi mungil berusia satu bulan itu.
"Siapa namanya, Pak?" tanyanya.
"Bapak lupa tidak menanyakan nama bayi ini."
__ADS_1
"Kalau begitu biar aku saja yang memberinya nama. Ehm … kita panggil dia Dimas," ucap Linda.
"Ibu rasa itu nama yang bagus."
"Apa aku boleh menggendongnya, Bu?"
"Memangnya kamu bisa?"
"Bisa dong."
Rayyan yang kini dipanggil Dimas itu diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga Sumarno. Mereka menganggap bayi itu layaknya anggota keluarga mereka sendiri. Namun, hal tak terduga terjadi pada waktu dini hari.
Linda yang tengah tertidur lelap itu tiba-tiba terbangun karena ia merasa tempat tidurnya berguncang. Awalnya ia hanya diam di atas tempat tidurnya seraya mengucap dzikir berharap keadaan kembali tenang. Namun, dia merasa getaran itu justru semakin kuat hingga mulai menjatuhkan benda-benda yang berada di atas lemari dan meja.
"Astaghfirullah. Bapak! Ibu! Gempa!" teriaknya sembari berlari menuju kamar kedua orangtuanya yang sekaligus menjadi kamar Dimas.
"Bapak! Ibu! Bangun! Gempa!" Kali ini Linda berteriak seraya menggedor pintu kamar itu.
Teriakan Linda yang cukup keras itu pun membangunkan ketiganya. Tak terkecuali Dimas. Tangisnya memecah keheningan pagi.
"Cepat gendong Dimas! Kita harus segera keluar dari rumah ini!" seru Sumarno sementara goncangan itu belum juga berhenti.
Setelah menggendong Dimas, ketiganya pun bergegas keluar dari ruangan itu. Naas, dinding ruang tamu secara tiba-tiba runtuh dan menimpa tubuh mereka.
"Tolong! Tolong! Teriak mereka hampir bersamaan. Sementara Dimas justru tak lagi terdengar suaranya. Beberapa saat kemudian goncangan itu pun mereda.
"Ibu … Ibu …" lirih Linda yang kesulitan bergerak itu berusaha meraih tangan sang ibu yang tertimbun reruntuhan bangunan.
"Bapak … Bapak …"
Pria yang dipanggil Bapak itu berada dalam kondisi tak jauh berbeda dengan sang ibu, tak bergerak.
"Ayah … Ibu … bangun," lirihnya lagi.
Tiba-tiba dia mendapati tangan mungil itu bergerak.
"Ya Allah. Dimas!"
Linda ingat betul, sebelum tembok itu runtuh, adik angkatnya itu berada dalam gendongan sang ibu. Jangankan bangkit untuk mengangkat tubuh Dimas, berteriak saja rasanya begitu sulit. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Linda berusaha keluar dari reruntuhan itu namun ia justru merasa pandangannya mulai kabur. Meski tak begitu jelas ia bisa merasakan seseorang menghampirinya dan mengangkat tubuh Dimas dari reruntuhan. Detik kemudian tubuhnya benar-benar terasa lemas hingga semuanya benar-benar terlihat gelap.
Siapa sebenarnya yang datang mengangkat tubuh Dimas? Dan bagaimana kelanjutan kisahnya? Ikuti terus ya, Kak…
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…