Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Nyaris putus asa


__ADS_3

"Mas Fabian menitipkan bayi ini pada kita karena mereka sedang dilanda kesulitan," ucap bu Murni.


"Aku tidak sudi merawat bayi hasil perselingkuhan!" seru pria yang berprofesi sebagai guru itu.


"Tidak seharusnya Bapak bicara begitu. Rayyan ini masih begitu kecil, dia belum tahu apa-apa tentang kejadian yang menimpa orangtuanya. Mas Fabian ini pernah menjadi tetangga kita. Apa salahnya kita membantu saat dia dalam kesulitan," ujar bu Murni.


"Apa yang dialami keluarga Fabian pasti adalah karma atas perbuatannya pada mbak Zura. Biarkan saja mereka yang menanggungnya. Kenapa kita harus ikut kena getahnya."


"Bukankah Bapak sendiri yang selalu bilang jika kita harus saling membantu sesama? Kenapa Bapak acuh begini?"


"Pokoknya aku keberatan jika bayi ini tinggal di rumah kita! Aku harus sudah terlambat mengajar. Assalamu'alaikum."


"Pak! Bapak! Tunggu, Pak. Kita belum selesai bicara!" seru bu Murni seraya mensejajari langkah pak Hasan yang mulai beranjak meninggalkan ruang tamu.


Pun pak Hasan tak sedikit pun menghiraukannya. Dia justru menghampiri mobilnya yang berada di halaman rumah.

__ADS_1


Detik kemudian mobil itu pun melaju meninggalkan halaman tersebut.


"Bagaimana ini, Bu? Sepertinya pak Hasan keberatan jika Ibu mengasuh Rayyan," ucapku.


"Saya benar-benar minta maaf, Mas … Mbak. Saya tidak berani melawan suami saya. Saya tidak bisa membantu mengasuh Rayyan," ucap Bu Murni dengan mata berkaca-kaca. Tentu saja wanita paruh baya itu sedih dan kecewa karena harapannya yang begitu besar untuk merawat Rayyan baru saja dipatahkan lantaran penolakan pak Hasan.


"Tidak apa, Bu," ucap Fabian dengan wajah tertunduk. Setelah berpamitan pada Bu Murni, kami pun lantas meninggalkan rumah tersebut.


"Aku berpikir bu Murni mau membantu. Tapi ternyata pak Hasan keberatan jika Rayyan tinggal di rumania," ucapku.


"Bukannya aku tidak mau membantumu. Tetapi sekarang aku hanya tinggal sendiri. Selain mengurus Lyra, aku juga masih harus menerima pesanan jahitan. Aku tidak sanggup jika harus mengurus Rayyan juga," ucapku.


"Itu hanya alasanmu saja. Aku tahu kamu menertawakan keadaan kami sekarang. Kamu pasti berpikir ini adalah balasan dari Allah atas apa yang sudah kami kulakukan padamu."


"Astaghfirullah. Aku sama sekali tidak pernah berpikir begitu. Meskipun aku pernah kecewa, sedikit pun aku tidak pernah menyimpan kebencian apalagi dendam. Apalagi kita sudah punya Lyra yang akan tetap membutuhkan kita sampai dia besar dan mandiri. Saat dia menikah kelak, kamu juga yang akan menjadi walinya," ucapku.

__ADS_1


"Sudahlah, kalau memang tidak ada lagi yang mau membantuku, lebih baik aku mengirim bayi ini ke panti asuhan."


Aku tak memiliki sepatah kata pun untuk menanggapi ucapannya. Meski keberatan, aku tidak bisa menghalangi keputusan Fabian. Mungkin hanya itulah satu-satunya jalan keluar untuk masalah ini.


"Sekali lagi aku minta maaf tidak bisa membantumu," ucapku.


Fabian tak menanggapi ucapanku. Dia justru melengang begitu saja dari hadapanku dan meninggalkanku yang belum beranjak dari bangku taman.


"Semoga Allah memudahkan semua urusanmu," gumamku.


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Happy reading…


__ADS_2