
Fina yang penasaran pun mulai mendekati kantong jenazah itu. Ekspresinya tak kalah kaget saat memandang wajah di dalam kantong jenazah tersebut.
"Bu-Bu-Bu Kinan-Kinanti?!" Fina membekap mulutnya.
Ya, jenazah yang berada di dalam kantong jenazah itu adalah mantan ibu mertuaku, bu Kinanti. Setelah meninggalkan rumahku semalam, beliau yang kini tidak memiliki tempat tinggal itu mungkin saja memilih masjid di belakang ruko sebagai tempat istirahatnya. Aku tak menyangka jika pertemuan kami semalam di rumahku akan menjadi pertemuan terakhir kami. Mantan ibu mertuaku itu pergi setelah meminta maaf pada ku dan seisi rumah. Sungguh indah cara beliau menghadap Rabb nya yakni saat tengah menjalankan ibadah shalat subuh. Hal itu terlihat dari mukena yang masih melekat di tubuhnya.
"Maaf, apa kalian mengenali jenazah ini?" tanya salah satu polisi.
"I-i-iya, Pak. Beliau adalah mantan ibu mertua saya."
"Menurut keterangan warga, jenazah ini ditemukan meninggal dalam keadaan bersujud."
"Apa Ibu bersedia mengurus jenazah ini?" tanya polisi.
"Tentu, Pak. Saya akan mengurus jenazah beliau hingga pemakamannya."
"Ehm … apakah almarhumah masih memiliki keluarga? Mungkin Ibu bisa membantu saya menghubungi keluarganya."
Aku dan Fina saling bertukar pandang.
__ADS_1
"Masih ada menantu beliau, Pak."
"Apa saya bisa minta tolong untuk memberitahu kabar ini?"
"Maaf, Pak. Saya tidak memiliki nomor ponselnya. Tetapi saya tahu alamat rumahnya."
"Boleh saya tahu di mana alamat rumahnya?" Pria berseragam itu menyodorkan sebuah buku nota kecil beserta pena ke arahku. Aku pun lantas menulis alamat rumah kak Maureen di salah satu halamannya. Semoga kak Maureen masih di sana, pikirku.
"Terima kasih, Bu. Saya akan menugaskan salah satu petugas untuk mendatangi alamat rumah tersebut. Saya harap sekarang Ibu ikut kami ke rumah sakit lalu mengurus pemakamannya," ucap petugas. Aku mengangguk paham.
Tengah hari aku baru selesai mengurus jenazah bu Kinanti. Aku pun lantas meminta petugas rumah sakit untuk membawa jenazahnya ke rumahku. Tujuanku tak lain adalah agar almarhum dikuburkan secara layak dan tentu saja agar beliau mendapat kiriman do'a dari para tetangga yang tinggal di lingkungan perumahanku.
"Kenapa ada mobil ambulance datang ke rumah ini, Nak?" tanya ibu.
"Mobil ambulance ini membawa jenazah bu Kinanti," jelas Fina.
"Kamu jangan bercanda, Fin."
"Fina tidak bercanda, Bu. Mobil ini memang membawa jenazah bu Kinanti."
__ADS_1
"Hah? Apa maksudmu? Bukankah semalam kita bertemu dan mengobrol dengannya? Sepertinya dia sehat-sehat saja."
"Kematian bisa menjemput kita kapan saja bahkan pada orang yang terlihat sehat sekali pun. Bu Kinanti ditemukan meninggal dunia dalam keadaan bersujud di masjid yang berada tidak jauh dari toko kueku."
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Ja-ja-di, Kinanti sudah, …"
"Ya, Bu. Bu Kinanti sudah menghadap Rabb nya dengan cara yang begitu indah."
Tidak berselang lama petugas membawa peti berisi jenazah bu Kinanti masuk ke dalam rumahku.
"Mungkin ini sudah terlambat, tapi aku harap kamu mendengar permintaan maaf dariku. Selamat jalan, semoga kamu mendapatkan tempat yang layak di sisi Nya," ucap ibu saat berada persis di hadapan jenazah bu Kinanti. Aku bisa menangkap kesedihan yang mendalam di sorot matanya.
Bersambung …
Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰