Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
POV Author (Pamrih)


__ADS_3

(POV Author)


Fabian dan Mila tiba di rumah. Keduanya tercengang mendapati keadaan rumah itu yang nyaris habis terbakar akibat ledakan tabung gas petang tadi. Pun rumah itu tak bisa lagi ditempati.


"Yang sabar ya, Mas. Warga sudah berusaha menghubungi mobil pemadam kebakaran. Namun, entah terkendala apa, mobil itu baru tiba di tempat ini satu jam kemudian di saat api sudah melalap hampir seluruh bagian rumah," ungkap pak Hasan.


Fabian menjatuhkan lututnya di atas tanah. Tulang sendinya benar-benar terasa lemas. Rumah yang ia beli dari hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun bekerja, musnah hanya dalam hitungan menit lantaran kelalaiannya.


"Habis semuanya," ucapnya. Beberapa detik kemudian tangisnya pun pecah.


"Coba ikhlaskan saja, Mas. Yang terpenting Mas dan ibu Kinanti selamat," ucap pak Hasan lagi.


"Bapak enteng saja ngomong begitu. Coba Bapak yang ada di posisi saya. Apa Bapak akan diam saja melihat tempat tinggal Bapak habis terbakar begini!"


"Bukan begitu maksud saya, Mas. Allah memiliki banyak cara untuk menunjukkan kasih sayang Nya pada kita. Salah satunya dengan memberikan musibah," ujar pak Hasan.


"Sudahlah, Pak. Jangan membuat kepala saya semakin pusing dengan ceramah Bapak."


Pak Hasan menggeleng heran.


"Ya sudah, Mas. Saya permisi dulu," ucapnya sembari berlalu dari hadapan Fabian dan Karmila.


"Bagaimana ini? Aku tidak punya tempat tinggal sekarang. Untuk merenovasinya pasti membutuhkan uang yang tidak sedikit," ucap Fabian sesaat setelah pak Hasan berlalu.


"Mas nggak usah kaya orang susah gitu deh! Mas kan bisa tinggal di rumahku. Rumah itu kan Mas yang membelinya," ucap Mila.


"Tapi, bagaimana dengan ibu, Zura, Lyra?"


"Ibu boleh tinggal di rumahku. Tapi tidak dengan mbak Zura dan anak kalian."


"Saat ini Zura sedang sakit. Lyra juga masih terlalu kecil untuk menghadapi kerasnya kehidupan di luar sana."


"Mas pikir aku peduli? Dari awal Mbak Zura tidak pernah suka padaku. Kami tidak akan pernah akur jika tinggal seatap."


"Aku mohon, Mila. Izinkan Zura dan Lyra ikut tinggal bersama kita," ucap Fabian.


Mila tampak berpikir sejenak.


"OK! Aku bolehin istri dan anakmu tinggal di rumahku, tapi dengan satu syarat."

__ADS_1


"Syarat?"


"Mas tidak boleh sekalipun tidur di kamar mbak Zura. Dan semua gaji Mas seluruhnya menjadi milikku!"


"Zura masih istri sahku. Aku juga berkewajiban untuk memberinya nafkah lahir dan batin."


"Terserah! Jika Mas keberatan dengan syaratku, aku tidak akan mengizinkan mbak Zura tinggal di rumahku!" ancam Mila.


"Baiklah, aku ikuti apa maumu."


Tidak berselang lama bu Murni menghampiri keduanya. Lyra tampak nyaman di gendongannya.


"Maaf, Mas. Hari ini saya harus keluar kota bersama suami saya. Saya tidak bisa mengajak serta Lyra," ucapnya.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya justru harus berterima kasih karena Ibu sudah merawat putri saya saat kami berada di rumah sakit," ujar Fabian. Dia lantas mengambil alih Lyra dari gendongan bu Murni.


Tiba-tiba pandangannya tertuju pada Mila. 


"Loh, Mbak Melly kok ikut pulang juga? Saya pikir Mbak Melly nungguin mbak Zura dan ibu Kinanti di rumah sakit."


"Ehm ti-ti-tidak, Bu. Mbak Zura meminta saya membantu mas Fabian merawat Lyra."


Fabian dan Mila saling bersitatap sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Ehm, untuk sementara saya dan keluarga saya akan tinggal di tempat kost Mil- Eh, maksud saya Melly," jawab Fabian.


"Saya turut prihatin atas musibah ini. Semoga Allah lekas memberi jalan keluar yang terbaik untuk Mas Fabian dan keluarga," ucap Bu Murni.


"Aamiin, terima kasih, Bu."


"Saya permisi dulu, Mas, Mbak. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kita ke rumahku sekarang," ucap Mila.


Mereka pun lantas masuk ke dalam mobil Fabian.


*****

__ADS_1


Beberapa warga yang tinggal di lingkungan perumahan itu penasaran dengan suara tangisan bayi yang berasal dari rumah Mila. Akhirnya mereka memutuskan mendatangi rumah tersebut.


"Permisi, Mbak. Maaf jika kami lancang. Kami mendengar suara tangisan bayi dari rumah ini. Apa benar di sini ada bayi?" 


"I-i-iya, Bu. Bayi ini bernama Lyra. Dia adalah putri kakak saya."


"Memangnya di mana ibunya?"


"Ibunya lagi di rumah sakit, dan kebetulan rumah mereka baru saja mendapatkan musibah kebakaran."


"Mbak Mila ini baik sekali. Mau menampung mereka di sini."


"Sesama saudara memang harus saling membantu 'kan, Bu?"


"Ya sudah, saya permisi dulu."


"Jadi tetangga kok sukanya ngurusin urusan orang!" umpat Mila.


"Kamu kelihatannya kesal sekali," tegur Fabian.


"Siapa yang nggak kesal sama tetangga yang selalu ingin tahu urusan orang lain?"


"Begitu lah yang namanya tetangga."


"Oh ya, di mana Lyra? Kok gak nangis lagi?"


"Dia baru saja tidur setelah kenyang minum susu."


"Hoeek!" Tiba-tiba Mila membekap mulutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Fabian.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


🙏🙏


__ADS_2