
Hari ini aku berencana mengunjungi Mila di Lembaga pemasyarakatan. Aku tak peduli bagaimana tanggapannya. Aku hanya ingin menunjukkan rasa peduliku, itu saja.
"Selamat pagi, Pak," sapaku pada salah satu petugas.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin menemui tahanan atas nama Karmila."
"Baik, mari ikut saya."
Petugas lapas itu pun mengajakku menuju ruang kunjungan.
"Silahkan Ibu tunggu di sini."
Aku mengedarkan pandanganku di ruangan yang tidak begitu luas itu. Dari beberapa pengunjung yang datang, perhatianku tertuju pada seorang pria yang mengenakan baju tahanan. Jika dilihat dari wajahnya, usianya mungkin tidak terpaut jauh dari mendiang ayahku. Ah! Tiba-tiba saja aku teringat akan beliau.
Tepat di hadapan pria itu duduk seorang wanita yang tengah menyuapi si pria semangkuk makanan yang sengaja dibawanya dari rumah. Samar-samar kudengar obrolan mereka.
"Ibu sudah tidak sabar lagi menunggu Bapak pulang," ucap si wanita.
"Sabar, Bu. Masa hukuman bapak hanya tinggal dua tahun lagi."
"Ibu masih setia 'kan sama bapak?" tanya si pria.
"Iya, Pak. Ibu akan selalu menunggu Bapak."
"Apa Ibu sudah memaafkan Bapak?"
"Sebelum meminta maaf pun, ibu sudah memaafkan Bapak."
"Terima kasih, Bu. Bapak sungguh beruntung memiliki istri seperti Ibu."
Pria itu meraih tangan si wanita lalu mencium punggung tangannya berulang. Menyadari jika kuperhatikan, si pria itu pun salah tingkah. Ia bergegas melepas tangan si wanita dari genggamannya. Aku hanya menganggukkan kepalaku sembari tersenyum dengan sikap pria tersebut.
Tidak berselang lama seorang wanita yang mengenakan baju tahanan berdiri di hadapanku. Benarkah wanita ini Karmila? Kenapa penampilannya berubah begini? Di mana Karmila yang dulu berwajah glowing dan selalu berpenampilan modis itu?
Mila yang berada di hadapanku sekarang sungguh berbeda dari Mila yang kukenal. Tubuhnya terlihat begitu kurus, wajahnya kusam, rambut panjangnya yang selalu hitam mengkilap itu pun kini begitu berantakan dan tidak terawat.
"Assalamu'alaikum, Mila," sapaku.
"Waalaikumsalam."
Aku cukup kaget dengan reaksinya. Sepanjang aku mengenalnya, inilah kali pertama dia menjawab salamku. Dari cara menatapku pun aku tak menemukan dendam ataupun kebencian di sorot matanya.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Mila?" tanyaku.
"Kamu lihat sendiri 'kan? Kabarku semakin buruk," ucap Mila dengan wajah tertunduk.
"Fabian masih sering datang mengunjungimu 'bukan?" tanyaku.
Mila tersenyum getir.
"Belakangan mas Fabian jarang mengunjungiku lagi. Aku sudah berkali-kali menelponnya dengan telepon Lapas ini, namun ia selalu menolaknya."
"Mungkin suamimu tidak menyimpan nomor telepon Lapas ini. Dia pasti berpikir nomor itu hanya nomor iseng yang ingin mengerjainya. Itulah sebabnya dia tidak menjawab teleponmu."
"Aku tidak yakin itu alasannya."
"Apa maksudmu?"
"Aku merasa mas Fabian berubah. Awalnya dia begitu perhatian padaku, Tapi sekarang begitu acuh padaku."
"Dia pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya," ujarku. Oh ya, Rayyan di mana sekarang? Apa suaminya jadi mengirimnya ke panti asuhan?" tanyaku kemudian.
Mila menggelengkan kepalanya.
"Lantas?"
"Mas Fabian memang berniat menitipkan Rayyan ke panti asuhan. Namun, mas Fabian tuba mengatakan jika Rayyan dititipkan pada seorang pengemudi taksi yang sama sekali tidak dikenalnya."
"Mungkin saat itu pikiran mas Fabian begitu kacau. Apalagi dia tidak memiliki saudara yang bisa ia mintai tolong untuk merawat Rayyan. Itulah sebabnya dia menerima tawaran itu dengan mudah."
"Semoga pria itu merawat Rayyan dengan baik," ucapku.
Tiba-tiba Mila mengalihkan pandangannya pada Lyra yang berada di gendonganku.
"Hai, Lyra. Sudah bisa apa kamu, Sayang," sapanya.
"Lyra sedang belajar berjalan, Auntie," ucapku.
"Anak pintar," puji Mila yang ditanggapi putri kecilku itu dengan senyum lebarnya.
Mila benar-benar sudah berubah. Tak hanya sikapnya yang ramah, nada bicaranya pun kini terdengar sedikit lembut.
"Oh ya. Aku bawakan makanan untukmu," ucapku sembari meletakkan rantang susun dua di atas meja.
"Zura, …"
__ADS_1
"Ya. Kenapa?"
Tiba-tiba Mila menggenggam erat tanganku dan menatap mataku lekat.
"Setelah apa yang kulakukan padamu, kenapa kamu masih saja peduli denganku?"
Aku bisa menangkap sorot matanya yang kini berkaca-kaca.
"Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Aku bersyukur sekarang kamu sudah banyak berubah," ujarku. Mila menanggapi ucapanku dengan senyum simpul di bibir.
"Bagaimana usaha menjahitmu?"
Mila mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah, pelangganku semakin banyak. Aku juga sudah memiliki seorang karyawan untuk membantuku."
"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya."
"Sepertinya aku harus pulang sekarang," ucapku.
"Hati-hati."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Aku baru saja keluar dari pintu Lapas ketika tiba-tiba ponselku berdering. Kontak bernama RSJ yang menelponku. Aku pun bergegas menjawab panggilan itu.
[Halo, selamat pagi]
[Selamat pagi]
[Apa benar ini dengan Ibu Azzura?]
[Benar, dengan saya sendiri. Ada apa Ibu menghubungi saya?]
[Ibu Sabrina]
[Kenapa dengan ibu saya?]
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…