Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Jabatan baru


__ADS_3

Setengah jam kemudian Fabian sadar. Tentu saja terkejut mendapati Karmila berada di dalam ruangan itu.


"Mil-Mil-Mila? Bagaimana kamu bisa berada di sini?" tanyanya.


"Siapa perempuan itu?" Mila balik bertanya.


"Perempuan yang mana, Sayang?"


"Sudahlah. Tidak perlu berbohong. Aku sudah tahu ceritanya. Mas keluar kota tidak diantar sopir 'kan? Melainkan Mas sendiri yang menjadi sopir Silvia."


"Aku-aku, …"


"Kenapa Mas harus berbohong padaku?"


"Aku terpaksa menemani bu Silvia karena jika aku menolak, dia mengancam akan menurunkan jabatanku. Memangnya kamu mau aku kembali menjadi menjadi pegawai marketing?"


"Mas dan perempuan itu nggak ngapa-ngapain 'kan? Kalian tidak tidur dalam satu kamar 'kan?"


Fabian terdiam. Tentu saja pertanyaan itu cukup sulit untuk dijawab. 


"Kenapa Mas diam saja? Kalian tidur di kamar terpisah 'kan?" Mila mengulangi pertanyaannya.


"Ya. Ten-ten-tu saja. Kami tidak mungkin tidur berdua di dalam satu kamar."


"Permisi, Dokter," ucap seorang perawat yang baru saja memasuki ruangan itu.


"Ada apa, Suster?"


"Pasien korban kecelakaan di ruangan sebelah belum sadarkan diri. Saya khawatir terjadi sesuatu padanya."


"Maaf, Sus. Apakah pasien yang dimaksud adalah perempuan yang bersama suami saya saat terjadi kecelakaan tadi?" tanya Mila.


"Benar, Bu. Namanya Silvia."


"Syukurin!" umpat Mila.


"Jika dalam beberapa jam ke depan pasien tak kunjung siuman, kemungkinan besar ia mengalami koma," jelas dokter.


"Bagus lah, kalau Silvia koma. Lebih bagus lagi kalau dia tidak pernah bangun lagi. Dengan begitu dia akan bungkam tentang apa yang sudah terjadi di kamar hotel itu," gumam Fabian.


"Lantas, bagaimana keadaan suami saya, Dok? Apa dia sudah diperbolehkan pulang?"


"Saya tidak menyarankan begitu. Luka di bagian kepala pasien masih belum kering. Alangkah baiknya pasien dirawat selama beberapa hari sampai kondisinya membaik," jelas dokter. Karmila mengangguk paham.


Tiba-tiba seseorang muncul dan mengetuk pintu kamar perawatan Fabian. Laki-laki yang baru saja memasuki ruangan itu bernama Evan, dia adalah salah satu orang kepercayaan keluarga Silvia.


Laki-laki berusia empat puluh tahunan itu terlihat mendorong kursi roda yang dinaiki seorang pria yang wajahnya tidak asing baginya.


"Tuan Anthony?" gumam Fabian.


"Permisi, apa kami bisa bicara dengan bapak Fabian?" tanya Evan.


"Silahkan."

__ADS_1


Dokter itu pun lantas meninggalkan ruang perawatan Fabian.


"Saya sudah mendengar apa yang terjadi pada putri saya, dan saat ini posisi direktur di perusahaan saya kosong. Jadi, saya berencana untuk menawarkan posisi tersebut pada anda," ucap pria yang usianya lebih dari setengah abad itu.


"Apa, Pak? Saya-saya diminta mengganti kan ibu Silvia sebagai direktur?" tanya Fabian.


"Benar. Saya rasa hanya anda orang yang tepat untuk mengisi posisi ini."


Meski terlihat kebingungan, tentu saja kabar baik ini adalah sebuah kejutan tak terduga. Kapan lagi dia bisa merasakan jabatan sebagai direktur? Rupanya kecelakaan yang dialaminya justru memberinya keuntungan yang teramat besar.


"Tapi, Tuan, …"


"Sudahlah, Mas. Terima saja tawaran ini. Bukannya dari dulu Mas ingin naik jabatan?" bisik Karmila.


"Bagaimana, apa anda menerima tawaran saya?" tanya tuan Anthony.


Tentu saja tawaran itu begitu menggiurkan bagi Fabian yang haus akan jabatan. Namun, ia bersikap wajar di hadapan ayah kandung Silvia itu.


"Tapi, Tuan. Apa saya sanggup menjalankan tugas sebagai direktur?"


"Saya tahu kemampuan dan kapasitas anda. Saya yakin anda mampu menggantikan Silvia untuk sementara waktu. Setidaknya hingga dia sadar dari koma nya," ungkap tuan Anthony.


"Baiklah, demi kebaikan bersama, saya terima tawaran Tuan."


"Terima kasih atas kerjasama nya. Anda jangan khawatir, selama mengisi jabatan sebagai putri saya, saya akan memberikan fasilitas tempat tinggal dan kendaraan pribadi untuk anda."


Kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut tuan Anthony membuat sorot matanya berbinar. Ia merasa mendapatkan durian runtuh.


"Ja-ja-di kami akan mendapatkan rumah dan mobil, Tuan?" tanyanya penuh semangat.


"Baik, Tuan. Setelah saya pulih nanti saya akan menjalankan tugas dari Tuan."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, selamat siang."


"Selamat siang," ucap Fabian dan Karmila bersamaan.


"Astaga. Kita kaya sekarang. Mas sudah menjadi direktur. Kita akan punya rumah dan mobil mewah," ucap Mila dengan raut wajah berseri.


"Jangan berlebihan begitu. Ingat, jabatan ini hanya sementara saja sampai Silvia sadar dari koma nya," ucap Fabian.


"Semoga saja Silvia tidak pernah sadar lagi. Dengan begitu posisi Mas tidak akan diambil kembali. Tuan Anthony juga sudah lumpuh. Dia tidak akan bisa memegang perusahaan."


Fabian terdiam sejenak, ia lantas berpikir.


"Benar juga. Kalau Silvia tidak bangun lagi, aku akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Keuntungan pertama, dia tidak akan pernah menuntutku untuk menikahinya karena peristiwa di kamar hotel itu. Dan keuntungan yang ke dua, aku bisa menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan tuan Anthony," gumamnya.


"Mas percaya 'kan sekarang? Aku membawa keberuntungan bagi Mas. Saat Mas masih bersama Zura, apa pernah Mas mendapatkan keuntungan sebesar ini?" ucap Mila.


"Ya, aku percaya. Tidak hanya kamu, bayi kita juga membawa keberuntungan bagi kita," ucap Fabian sembari mengusap perut Karmila.


"Jadi, aku boleh 'kan mengadakan acara baby shower untuk bayi kita?" Tiba-tiba Mila mengalihkan pembicaraan.


"Jangankan baby shower, kamu boleh mengadakan acara apapun yang kamu mau. Jika perlu kita akan buat pesta untuk merayakan pencapaian ini."

__ADS_1


"Oh ya. Bagaimana dengan ibu? Mas kemarin bilang mau mengirimnya ke panti jompo 'bukan?"


"Aku tidak ingin reputasiku buruk di mata tuan Anthony hanya gara-gara mengirim ibu ke panti jompo."


"Lantas?"


"Aku akan menggunakan jasa perawat untuk ibu. Upah bukan masalah lagi bagiku."


"Ya terserah Mas. Yang penting aku nggak mau lagi direpotkan lagi dengan mengurus ibu."


******


Tiga hari kemudian.


Seperti biasanya, setiap pagi Arya akan membuat minuman dan mengantarkannya ke setiap ruangan. Ia berpikir Silvia masih dirawat di rumah sakit. Jadi ia sengaja tidak mengantarkan minuman ke ruang Direktur.


"Arya, kamu diminta mengantarkan minuman ke ruang direktur," ucap kepala office boy.


"Bukannya bu Silvia masih dirawat di rumah sakit? Untuk siapa aku mengantar minuman ke ruangan itu?"


"Aku yang mendapat perintah agar kamu yang mengantar minuman ke ruang direktur. Kalau kamu masih betah bekerja di sini, ikuti saja perintahnya."


Arya pun lantas membuat secangkir teh hangat lalu mengantarkannya menuju ruang direktur.


"Tok tok tok. Permisi, saya mau mengantarkan minuman," ucapnya setelah mengetuk pintu ruangan itu.


"Masuk," sahut seseorang dari dalam sana.


"Sepertinya suara itu tidak asing," gumam Arya. Dia pun lantas memasuki ruangan tersebut. Tampak seorang laki-laki yang mengenakan jas tengah duduk di kursi membelakanginya.


"Ini minumannya, Pak," ucap Arya sembari memindahkan secangkir teh hangat itu dari nampan ke atas meja. 


"Siapa laki-laki ini?" Arya mengamati punggung pria itu dan berniat memandang wajahnya dari arah samping. Sial, kakinya justru tersandung meja hingga membuat nampan yang dibawanya terjatuh di atas lantai. Laki-laki yang duduk di balik meja direktur itu pun sontak membalikkan badannya dan memandang ke arah Arya.


"Kalau bekerja itu yang benar, jangan ceroboh. Untung saja yang jatuh bukan cangkirnya," ucapnya.


"Pak Fab-Fab-Fabian? Apa yang Bapak lakukan di ruangan ini?"


"Ruangan ini sekarang menjadi milik saya."


"Apa maksud Bapak?"


"Mulai hari ini panggil saya pak Direktur."


"Bapak pasti bercanda. Mana mungkin Bapak tiba-tiba menjadi direktur?"


"Tuan Anthony sendiri yang memberikan jabatan ini kepada saya. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakan langsung ke bagian HRD," jelas Fabian.


"Kenapa pak Anthony senekat ini memberikan jabatan direktur pada pak Fabian?" gumam Arya.


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…


__ADS_2