Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Pantang menyerah


__ADS_3

Kemana aku harus mencari alamat rumah Mila? 


"Tenang Zura. Jangan panik. Itu tak akan menyelesaikan masalah," gumamku.


Aku berpikir sejenak hingga tiba-tiba ingatanku tertuju pada kwitansi pembayaran uang muka rumah yang kutemukan di dalam kotak yang disimpan mas Fabian di bawah kolong lemari.


Aku berusaha keras mengingat nama perumahan itu. Perumahan Ed… Ed…Edelweiss. Itu dia! Nama perumahan itulah yang tercantum di kwitansi tersebut. Meskipun mas Fabian membantah jika rumah itu dibelinya untuk Mila, aku tak percaya begitu saja padanya. Aku yakin jika rumah itu memang rumah Mila.


"Perumahan Edelweiss, Pak," ucapku pada pengemudi taksi. Aku yakin semua pengemudi taksi tahu di mana letak alamat tersebut.


"Baik, Bu."


Sekitar lima belas menit kemudian taksi itu menurunkanku di depan sebuah gapura bertuliskan huruf yang berukuran cukup besar. "EDELWEISS REGENCY".


Ckckck, dari namanya saja sudah kelihatan jika harga rumah di tempat ini pasti cukup menguras kantong. Ya, meskipun mas Fabian membayarnya dengan mencicil.


Aku turun dari taksi, lantas kulangkahkan kakiku menuju pos jaga yang berada di dekat gapura tersebut. Tampak seorang laki-laki yang mungkin usianya tidak terpaut jauh dari mas Darren. Ah! Kenapa aku jadi mengingat kakak laki-lakiku? Bagaimana kabarnya sekarang? Apa Dia benar-benar tidak mau mengenaliku sebagai adiknya lagi?


"Assalamu'alaikum, Pak," sapaku pada pria berseragam itu. Kubaca bordir nama di bagian dada sebelah kirinya, "FREDDY"


Loh, kok namanya mirip dengan seseorang yang lagi viral di sosial media itu? 


"Fokus, Zura. Fokus! Kamu kesini untuk menjemput Lyra. Bukan untuk main-main," gumamku.


"Waalaikumsalam. Ada yang bisa saya bantu, Bu?" 


"Saya datang ke sini untuk mencari rumah kawan saya yang bernama Karmila."


"Tunggu sebentar."


Security bertubuh kekar itu pun lantas mengeluarkan buku berukuran besar dari dalam laci lalu membukanya. Sepertinya buku itu berisi data pemilik rumah di komplek perumahan tersebut.


"Maaf, Bu. Dari data yang tertulis di buku ini, tidak ada pemilik rumah atas nama Karmila. Yang ada Kartini, Kartono, dan 


Karsun."

__ADS_1


Aku menahan diri untuk tidak tertawa. Meskipun aku tahu security itu mencoba mengajakku bercanda.


"Apa Bapak tidak salah? Coba Bapak periksa sekali lagi. Mungkin nama Karmila ada di bawah nama Kartono."


"Hahaha!" Freddy yang entah siapa nama belakangnya itu tertawa lepas.


"Bapak jangan bercanda terus dong. Saya sedang serius ini."


"Maaf, Bu. Saya dari sononya memang begini. Susah untuk serius," kelakarnya.


Sekali lagi security itu memeriksa buku tersebut. Nyatanya nama Karmila memang tidak tercantum di dalamnya.


"Ibu mungkin salah alamat. Yang Ibu terima mungkin alamat palsu. Hahahaha!"


Ya Rabb! Dosa apa hambamu ini dipertemukan dengan orang sekonyol ini?


"Ya sudah, saya serius sekarang. Apa kawan Ibu sudah lama tinggal di perumahan ini?"


"Belum begitu lama. Mungkin baru sekitar  dua atau tiga bulan."


"Kalau boleh saya tahu, siapa saja pemilik rumah di blok itu?"


"Bapak Adam, Bapak Jordan, Bapak Ari, Bapak Wibowo."


Loh. Kok nama artis semua? Security ini pasti bercanda lagi.


"Bapak bisa serius nggak?" protesku.


"Saya serius loh Bu. Kalau Ibu tidak percaya, lihat saja sendiri nama-nama pemilik rumah di blok H ini," ucapnya sembari menyodorkan buku itu ke arahku.


Benar rupanya. Nama-nama itu memang tertulis di sana. Tapi tunggu! Di nomor paling bawah pemilik rumah di blok H itu tertulis nama bapak Fabian. Entah mengapa aku begitu yakin jika Fabian itu memang mas Fabian. Aku paham sekarang, mungkin mas Fabian mengatasnamakan rumah ini dengan namanya sendiri lantaran syarat pengajuan kredit pemilikan rumah harus lah seorang yabg memiliki pekerjaan dan gaji yang cukup besar.


"Bagaimana, Bu. Ibu sekarang sudah percaya sama saya?" tanyanya.


"Ya, Pak."

__ADS_1


"Ibu berdosa."


"Kenapa?"


"Percaya itu ya sama Allah saja, jangan sama saya. Hahahaha." Freddy terkekeh.


"Ya sudah, Pak. Saya mau cari rumah kawan saya dulu di blok H."


"Tadi Ibu cari Karmila. Saya bilang nama itu tidak tercantum di buku. Kenapa Ibu tetap ingin mencarinya?"


"Saya baru ingat, nama suami kawan saya Kartono. Terima kasih. Assalamu'alaikum."


Aku beranjak dari pos jaga. Lantas kulangkahkan kakiku menyusuri perumahan yang cukup luas ini. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya aku memasuki papan berukuran besar bertuliskan blok H.


Ah! Kenapa tadi aku tidak bertanya nomor rumah atas nama Fabian?


Dari tempatku berdiri tiba-tiba kudengar suara tangisan bayi. Tangisannya terdengar cukup kencang, membuat siapapun yang mendengarnya iba. Aku hafal betul, itu suara tangisan putriku, Lyra. Rupanya suara itu berasal dari rumah bernomor 003. Tidak salah lagi, pasti itu rumah yang dibelikan mas Fabian untuk Mila.


Kupercepat langkahku menuju teras rumah bercat biru muda itu. Apa yang terjadi pada putriku hingga dia menangis sekencang ini?


Lekas kuketuk pintu depan rumah itu. Namun, sepertinya suara tangisan Lyra lebih kencang dari suara ketukan pintu. Penghuni rumah tak kunjung keluar meskipun aku sudah berulang kali mengetuk pintu tersebut. Akhirnya aku nekad memutar gagang pintu dan mendorongnya.


"Lyra!" jeritku. Hatiku perih bukan main mendapati pemandangan yang berada di depan mataku. Lyra, bayi berusia dua bulan itu dibiarkan tergeletak begitu saja di atas sofa tanpa ditemani siapapun.


"Mas Fabian! Keterlaluan kamu, Mas!" teriakku.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2