Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
POV Author


__ADS_3

POV Author


Di rumah Fabian.


"Sebentar lagi usia kandunganku memasuki tujuh bulan. Aku ingin membuka acara selamatan yang meriah di rumah kita," ucap Karmila di sela sarapan pagi mereka.


"Tidak perlu meriah. Mengundang warga perumahan ini saja sudah cukup," ucap Fabian.


"Tapi aku ingin ada acara baby shower juga."


"Bukankah dokter sudah mengatakan jika jenis kelamin bayi kita laki-laki? Tidak perlu pakai baby shower segala."


"Ini anak pertama kita. Aku mau membuat orang lain terkesan."


"Selamatan saja sudah cukup. Zura saja waktu hamil Lyra dulu tidak pernah macam-macam pingin ini lah, itu lah, baby shower lah."


"Aku paling tidak suka Mas membandingkanku dengan perempuan itu."


"Bukannya aku membandingkanmu dengannya. Aku hanya tidak menyukai sesuatu yang berlebihan," ujar Fabian.


"Aku tidak mau tahu. Acara tujuh bulanan calon anak kita harus dengan acara baby shower, titik!" Karmila meninggalkan piringnya yang belum benar-benar kosong itu lalu berjalan menuju kamarnya.


"Kenapa kamu keras kepala begini? Daripada membuang uang untuk hal yang tidak begitu penting, lebih baik uangnya ditabung untuk biaya persalinanmu nanti."


Fabian sengaja meninggikan suaranya agar terdengar hingga ke kamar.


"Kamu kan tahu, biaya persalinan tidak kecil. Itu pun kalau normal. Bagaimana jika harus dioperasi?"


"Pokoknya aku mau pakai acara baby shower!" tegas Karmila.


"Dasar keras kepala!" umpat Fabian.


"Zura…Lyra…" lirih sang ibu dari dalam kamarnya.


Fabian yang tengah kesal lantaran perdebatannya dengan Mila itu kini mulai tersulut amarahnya.   


"Ada apa lagi?" tanyanya dengan nada yang terdengar sedikit kasar.


"Mana Zura? Ibu ka-ka-kangen."


"Aku sudah menemui Zura dan memberitahu keadaan Ibu tapi tanggapannya acuh. Sudahlah, Ibu tidak usah ingat-ingat dia lagi. Dia sudah tidak peduli pada Ibu."


"Zura…Lyra…hu…hu…hu…"


"Apa Ibu pikir dengan menangis bisa membawa Zura datang ke rumah ini? Dia sudah melupakan Ibu," ucap Fabian.


"Zura…Lyra…hu…hu…hu…"


"Ibu itu ngeselin banget sih! Sudah bagus aku mau mengurus Ibu. Masih saja rewel! Sana pergi sendiri temui menanti kesayanganmu itu!" seru Mila setengah berteriak.


"Mila! Berani sekali kamu membentak ibu!"


seru Fabian. Rupanya dia tidak terima dengan perlakuan istrinya itu.


"Ibu kamu tuh memang ngeselin! Merepotkan lagi! Selama ini aku sudah cukup sabar. Jika Ibu memang ingin tinggal dengan Azzura, biarkan saja. Aku sudah lelah!"


"Jadi, kamu sudah tidak mau mengurus ibu?"


"Kirim saja ibu ke panti jompo biar tidak merepotkanku lagi. Sebentar lagi aku melahirkan, aku tidak akan sanggup merawat dua bayi sekaligus," ucap Mila.


"Astaghfirullah. Apa selama ini kamu menganggap ibu sebagai beban?"

__ADS_1


"Kenyataannya memang begitu. Ibu membuatku lelah fisik dan mental."


"Jika kamu memang tidak mau merawat ibu lagi, baiklah. Mulai besok aku akan membayar orang untuk mengurusnya yang berarti jatah bulanan dariku akan berkurang."


"Nggak bisa gitu dong Mas. Aku mau jatah bulananku tetap utuh."


"Mana bisa begitu? Kamu pikir siapa yang akan membayar perawat ibu?"


"Ya sudah, Mas kirim saja ibu ke rumah Zura. Dia pasti tidak akan keberatan merawat ibu. Lagipula dia tidak akan meminta upah 'kan?"


"Zura sekarang tinggal di tempat kost sempit. Ada ibunya juga di sana. Tempat itu tidak akan cukup jika harus menampung ibu juga," ucap Fabian.


"Ya sudah, kirim saja ibu ke panti jompo, urusan selesai!"


"Apa kata orang nanti jika aku mengirim ibu ke panti jompo? Mereka akan menganggapku sebagai anak durhaka yang tidak mau mengurus ibunya."


"Kenapa Mas harus peduli dengan apa kata orang? Mereka hanya bisa berkomentar tanpa mau tahu apa yang aku rasakan. Belum tentu mereka mau mengurus orang sakit yang hanya bisa menghabiskan waktunya di tempat tidur."


"Hari ini aku akan mendatangi yayasan untuk mencari perawat ibu. Hanya itulah satu-satunya jalan tengah untuk masalah ini," ucap Fabian.


"Tapi, Mas, …"


"Aku berangkat ke kantor dulu, sudah siang."


"Apa tidak sebaiknya kita mengirim ibu ke, …"


"Assalamu'alaikum."


Karmila memberengutkan wajahnya saat Fabian beranjak dari kamar sang ibu lalu mengambil tas kerjanya yang berada di atas sofa ruang tamu.


"Jangan pernah lagi bersikap kasar pada ibu!" seru Fabian sesaat sebelum benar-benar berlalu dari hadapan Mila.


****


"Kamu ini kenapa? Datang-datang kok wajahnya kusut begitu seperti pakaian belum disetrika saja," ucap Silvia, sang direktur cantik itu saat mendatangi ruangan Fabian.


"Aku pusing."


"Pasti istrimu yang membuat pusing."


"Begitulah."


"Memangnya kenapa dia kenapa lagi?"


"Mila ingin acara selamatan tujuh bulanan kehamilannya disertai acara baby shower. Dia juga tidak mau lagi mengurus ibu dan memintaku mengirimnya ke panti jompo," ungkap Fabian.


"Istrimu kok gitu sih? Aku pikir dia istri penurut dan sayang sama ibu mertuanya. Tapi ternyata, …"


"Dia membuat kepalaku serasa mau pecah saja!" 


"Lantas, tindakan apa yang kamu ambil? Apa kamu berencana mengirim ibumu ke panti jompo?"


"Tidak, Bu. Jika aku mengirim ibu ke panti asuhan, orang-orang akan menganggapku sebagai anak durhaka. Aku tidak ingin orang lain memandang buruk padaku. Hari ini aku berencana mendatangi yayasan untuk mencari perawat ibu."


"Ya, sepertinya itu lebih baik," ucap Silvia.


Tiba-tiba perempuan berusia tiga puluh tahunan itu mengamati wajah Fabian.


"Wajah pucat. Sepertinya kamu terlalu lelah," ucapnya.


"Akhir-akhir ini aku cukup disibukan dengan pekerjaan kantor."

__ADS_1


"Aku paham kok kamu sudah bekerja keras untuk perusahaan ini." Silvia yang tadinya berdiri di depan meja itu kini menggeser langkahnya mendekat ke arah Fabian.


"Besok aku ada acara seminar bisnis di luar kota. Kamu mau 'kan nemenin aku?" 


Fabian menelan salivanya saat Silvia mulai memainkan dasi yang melingkar di lehernya. Dia dapat melihat wajah menawan atasannya itu dari jarak yang begitu dekat. Kulit wajah yang senantiasa terawat, bibir merah merona, serta sorot mata yang membuat dirinya merasa dibutuhkan itu. Sungguh menguji imannya.


"Ehm, tapi-tapi, …"


"Tapi kenapa? Aku takut keluar kota sendirian. Bagaimana jika di tengah jalan ada yang berbuat jahat padaku. Apa kamu tega?"


Dari dasi, tangan sang direktur itu beralih ke dada Fabian. Sungguh, sentuhan lembut itu membuat aliran darahnya berdesir. Degup jantungnya pun kini mulai tak beraturan. Ingin rasanya menghindar, namun, rasanya tak sanggup menolak kehangatan itu.


"Bian, …"


"Ya, Bu."


"Sudah berapa kali kubilang, jangan memanggilku ibu. Aku merasa begitu tua."


"I-i-iya, Bu- Sil-Silvia."


"Kamu tahu, ada banyak lelaki di luar sana yang berlomba-lomba mendekatiku. Tapi, aku tidak pernah menggubris mereka. Hanya ada satu laki-laki yang membuatku jatuh cinta. Laki-laki itu kamu," ucap Silvia setengah berbisik.


"Ehm… saat ini aku masih berstatus suami Mila. Aku belum bisa memberi jawaban apapun."


"Aku mau sabar menunggu kok sampai kamu resmi berpisah dengan istrimu itu."


Silvia menempelkan wajahnya di dada Fabian. Ia dapat mendengar begitu jelas degup jantung Fabian yang begitu kencang.


"Bian, …"


"Ya, Bu. Ehm…Sil-Via."


"Kenapa kita dipertemukan saat kamu sudah menjadi suami orang? Seandainya saja kamu masih sendiri. Detik ini juga aku akan menikahimu."


Silvia mendongakkan wajahnya. Sedetik kemudian netra keduanya bersitatap. Untuk pertama kalinya bibir mereka benar-benar tak berjarak. Sekali lagi Fabian menelan salivanya, berharap tidak ada se*an yang lewat agar ia tak terpancing untuk melakukan adegan yang terlarang.


"Ma-ma-af, Via. Saya harus mulai bekerja," ucap Fabian.


"Santai saja. Aku kan direktur nya."


"T-t-tapi, …"


Apa yang dilakukan Silvia sungguh di luar dugaan Fabian. Untuk itu kalinya Perempuan bertubuh se*si itu benar-benar mendaratkan ci*man di bibir Fabian.


"Astaghfirullah!" Fabian sontak mendorong tubuh Silvia hingga membuatnya jatuh terduduk di atas kursinya.


"Kenapa, Bian?"


"Ma-ma-af, Via. Kita tidak bisa melakukannya."


"Kamu tidak usah panik begitu. Yang penting kita tidak sampai berhubungan badan 'bukan?"


Sepertinya memang ada se*an yang lewat saat itu. Tiba-tiba saja Silvia menarik dasi Fabian yang menjuntai itu hingga membuat tubuhnya ambruk dan menimpa tubuh Silvia.


Di saat itulah seseorang memasuki ruangannya. Tentu saja ia terkejut dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya itu.


"Astaghfirullah. Pak Fabian…Bu Silvia. Apa yang kalian lakukan?" 


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…


__ADS_2