
Setelah meminta pak Amin menepikan mobilku, aku pun turun dan menghampiri konveksi yang masih terbilang baru itu.
"Maaf, kalau boleh saya tahu, ada masalah apa di tempat ini, Pak?" tanyaku pada salah seorang pria yang berada di depan konveksi tersebut.
"Karyawan mogok kerja, Bu."
"Mogok kerja? Kenapa bisa terjadi mogok kerja?"
"Pemilik konveksi ini membayar gaji karyawan tidak sesuai yang dijanjikan. Bahkan gaji saya sendiri hanya dibayar 50% saja."
"Apa pemilik nya ada di dalam?" tanyaku lagi.
"Tidak, Bu. Kami sudah mencobanya menghubunginya, akan tetapi pak Fabian mengabaikan panggilan kami. Sepertinya dia sengaja menghindar."
"Mana bisa begitu. Gaji adalah hak karyawan, dan harus dibayarkan sesuai perjanjian."
"Jika Ibu mengenal bapak Fabian, mungkin Ibu bisa membantu kami agar kami mendapatkan hak kami," ucap pria itu.
"Baik, saya akan mencoba membantu menghubunginya. Semoga masalah ini lekas mendapatkan jalan keluar."
"Terima kasih, Bu."
Beberapa saat kemudian sebuah mobil berwarna hitam mengkilat berhenti di depan bekas ruko itu. Tidak salah lagi, Fabian pemiliknya. Syukurlah, kalau akhirnya dia datang.
"Pak Fabian! Bayarkan gaji kami sesuaikan perjanjian!"
"Jangan memakan hak kami!"
"Bayarkan gaji kami atau Bapak kami laporkan ke pihak berwajib!"
Seruan-seruan itu bergantian meluncur dari mulut karyawan Fabian. Apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah Fabian mengingkari kewajibannya?
"Tolong beri kami kejelasan, Pak. Kenapa Bapak mengingkari perjanjian yang sudah Bapak buat sendiri."
Kuamati Fabian dari kejauhan. Sepertinya dia tidak menyadari kehadiranku. Namun dari tempatku berdiri aku bisa mendengar suaranya dengan cukup jelas.
"Sebelumnya saya minta maaf atas ketidak nyamanan ini. Bukan saya bermaksud mengingkari janji, akan tetapi klien terbesar konveksi ini terlambat melakukan pembayaran sehingga berimbas pada pembayaran gaji kalian. Saya berjanji akan menyelesaikan masalah ini dalam waktu 1x24 jam. Saya harap kalian bisa kembali bekerja," ungkapnya.
Karyawan yang jumlahnya lebih banyak dari karyawan konveksi milikku itu pun lantas membubarkan diri lalu masuk ke dalam konveksi tersebut.
Tidak berselang lama kulihat kak Maureen turun dari dalam mobil.
"Dari awal kamu sudah salah strategi. Pada akhirnya kamu sendiri yang kewalahan," ucapnya.
"Tahu apa kamu tentang strategi bisnis. Aku sengaja menawarkan gaji yang cukup besar agar banyak karyawan yang tertarik untuk bergabung di konveksi ini."
"Lantas, uang dari mana yang akan kamu gunakan untuk menutup kekurangan gaji mereka?"
"Aku berniat menjual mobil ini."
"Aku tidak setuju! Mobil ini lah satu-satunya alat yang akan menunjukkan jika kita pengusaha berkelas."
"Bukan saat yang tepat membahas hal itu. Yang kita butuhkan sekarang adalah mengembalikan kepercayaan karyawan. Memangnya kamu mau mereka meninggalkan konveksi ini dan memilih berpindah ke konveksi Zura? Bukankah kamu tahu, tujuanku membuka konveksi ini untuk menyaingi dan menghancurkan usaha Zura "
"Daripada menjual mobil, kenapa tidak kamu gadaikan saja rumah kita untuk mengajukan pinjaman ke bank."
"Kamu ingin aku berhutang? Tidak!"
Tiba-tiba Fabian mengarahkan pandangannya padaku. Sepertinya ia menyadari kehadiranku. Ia pun lantas memberi isyarat kecil pada kak Maureen agar berhenti bicara. Namun percuma, aku sudah mendengar semua percakapan mereka.
__ADS_1
"Pak Amin, kita lanjutkan perjalanan ke rumah kak Darren,"
"Tidak apa, ada sedikit masalah tadi."
"Apa masalahnya sekalang sudah selesai?"
"Insyaallah."
Kami tiba di rumah kak Darren sekitar pukul tiga sore.
"Bagaimana Anisa saat tinggal di sana? Kamu tidak nakal 'kan, Sayang?"
"Tidak, Fat. Anakmu ini begitu manis dan penurut. Saat makan kue brownies pun dia masih saja ingat pada kalian. Jadi aku bungkus kan untukmu dan kak Darren."
"Maaf, jadi merepotkan."
"Sama sekali tidak. Kamu 'kan tahu, dari dulu aku paling suka membuat kue."
"Ya sudah, kita ngobrol di dalam saja. Ajak pak Amin juga untuk masuk."
Kami pun lantas masuk ke dalam rumah kak Darren.
"Saat menuju rumah ini, aku aku berhenti sejenak di konveksi milik Fabian. Ada kegaduhan di sana."
"Kegaduhan apa, Ra?"
"Para karyawan Fabian mogok kerja lantaran gaji yang dibayarkan pada mereka tidak sesuai perjanjian awal."
"Sebenarnya dia becus nggak sih mengelola usaha? Bisa-bisanya bermasalah dalam membayarkan gaji karyawannya."
"Dia mengatakan masalah itu terjadi lantaran pelanggan nya terlambat melakukan pembayaran sehingga berimbas pada terjadinya masalah ini."
"Tidak baik bicara begitu," ujarku.
"Oh ya, ngomong-ngomong dia punya
uang darimana untuk modal membuka konveksi? Modalnya pasti tidak kecil."
"Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja aku bertemu ayahnya Silvia."
"Silvia?"
"Ya, dia mantan atasan sekaligus mantan istrinya Fabian. Pak Anthony mengatakan jika beliau lah pelaku tabrak lari pada Amira sepuluh tahun silam. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengabulkan apapun permintaan pejalan kaki itu jika memang ia masih hidup, dan memberi apapun yang diminta keluarga si pejalan kaki jika ia sudah meninggal. Fabian memiliki bukti yang sangat kuat jika Amira memang lah pejalan kaki yang selama ini dicari pak Anthony."
"Lantas?"
"Fabian dan ibunya memanfaatkan kesempatan itu untuk memeras pak Anthony dengan meminta uang ganti rugi sebesar lima ratus juta rupiah. Sepertinya masuk akal jika uang itu lalu ia gunakan sebagai modal untuk membuka konveksi."
"Ckckckck. Benar-benar licik dan tamak. Bagaimana ia berpikir mengambil keuntungan dari kematian adiknya. Uang yang digunakan untuk modal usaha itu tidak berkah, aku yakin dia akan sering mengalami banyak masalah," ucap Fatimah.
Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba ponselku berdering. Ah! Kenapa Gibran harus menelpon di saat aku sedang berada di depan Fatimah?
"Siapa, Ra?" tanyanya.
"Ehm … anu … salah satu pelangganku."
"Ya sudah, cepat angkat teleponnya, barangkali penting."
Meski sedikit canggung, aku memilih menjawab panggilan itu tanpa berpindah tempat.
__ADS_1
[Halo, Assalamu'alaikum]
[Waalaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh. Kamu di mana?]
[Aku-aku sedang di luar]
[Di luar itu di mana? Di teras, di halaman atau di atap?]
[Yang benar saja. Memangnya aku mau ngapain di atap?]
[Barangkali mau melamun. Ha ha ha]
[Aku lagi di rumah kakakku. Ada apa menelponku?]
[Oh ya, tentang tambahan karyawan itu. Aku sudah menghubungi pelamar yang dulu pernah melamar pekerjaan sebagai penjaga toko pakaianku. Alhamdulillah, mereka mau menerima tawaranku untuk bekerja di konveksi milikmu. Dari Lima orang, hanya tiga orang saja yang bisa menjahit. Aku sudah memberi alamat rumahmu. Mereka akan datang besok pagi]
[Alhamdulillah. Terima kasih banyak untuk bantuannya]
[Tidak perlu berterima kasih. Sebagai sepasang kekasih, sudah seharusnya saling membantu dan melengkapi]
[Ke-ke-kasih?]
[Ya. Memangnya hubungan kita mau disebut apa?]
[Tidak usah bicara yang aneh-aneh, kamu menelponku saat aku di depan istri kakakku]
[Tinggal bilang saja, pacarmu yang menelpon. Mudah 'bukan?]
[Sekali lagi aku berterima kasih atas bantuanmu, tutup teleponnya, Assalamu'alaikum.]
[Gibran terdiam beberapa saat]
[Sudah tutup teleponnya]
[Kamu yang menelepon, tidak sopan kalau aku yang memutus sambungan]
[Tidak apa]
[Ya sudah, aku tutup teleponnya. Assalamu'alaikum]
Klik. Kuakhiri percakapan.
"Benar itu pelanggan kamu?" tanya Fatimah yang lebih terdengar seperti sebuah sindiran itu.
"Be-be-benar kok. Dia memang salah satu pelanggan konveksi ku]
[Kenapa wajahmu berseri-seri begitu saat mengobrol dengannya?"
"Ah ti-ti-tidak kok. Biasa saja." Aku kebingungan menyembunyikan wajahku yang tiba-tiba terasa memanas.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1