Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Sebuah tanya


__ADS_3

 “Kenapa Bu


Sabrina harus marah? Saya hanya bercanda,” ucap perempuan berhijab itu.


“Saya tidak suka


Ibu bicara begitu.”


“Bu Sabrina benar


juga. Dia ‘kan nggak punya suami. Mana mungkin bisa hamil. Seorang warga


lainnya menimpali.


“Maaf, cucu saya


harus istirahat. Kejadian hari ini pasti cukup membuatnya lelah,” ucap ibu.


“Lain kali lebih


hati-hati ya, Mbak. Kalau perlu pintu selalu dikunci agar kejadian ini tidak


terulang lagi,” ucap salah satu warga.


“Orang gil* nya


sudah di rumah sakit jiwa. Jadi lingkungan kita sudah aman,” ujar ibu.


“ Ya sudah, kami


permisi dulu. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Warga pun lantas


meninggalkan tempat kostku.


Tiba-tiba pandangan ibu tertuju pada Fabian yang berdiri tidak jauh dari


mobilnya.


“Kenapa kamu tidak


pulang juga?” tanyanya sinis.


“Sepertinya Ibu


tidak menyukai keberadaanku di tempat ini.”


“Setelah apa yang


kamu lakukan pada putriku, kamu masih berani berkata begitu?”


“Ibu seharusnya


berterima kasih pada saya. Jika bukan karena saya, mungkin Lyra tidak akan


selamat.”


“Astaga. Lyra ini


kan anakmu sendiri. Bagaimana kamu bisa berkata begitu? Atau memang kamu sudah


tidak sayang lagi padanya?” ucap ibu.


“Kalau kalian tidak sanggup menjaga Lyra dengan baik, biar aku saja yang merawatnya.”


“Jangan sok-sokan kamu. Mau jadi apa Lyra di tangan istri mudamu itu? Bisa-bisa cucuku mati konyol.”


“Bagaimana pun Lyra adalah putri kandungku, dan aku memiliki hak atas dia.”


“Kita lihat saja di persidangan nanti. Bisa kupastikan hak asuh Lyra akan jatuh di tangan Zura.”


“Belum tentu, Bu. Penghasilanku sebagai manager berkali lipat besarnya dibandingkan Zura yang


hanya tukang jahit.”


“Oh, jadi sekarang kamu merendahkan Zura? Dasar laki-laki tidak punya otak!”


“Sudah, Bu. Jangan berdebat lagi. Jangan sampai tetangga kembali ke sini karena mendengar kalian ribut,” ucapku.


“Laki-laki tidak tahu diri ini yang memulai.”


Dari ibu, pandanganku beralih pada Fabian.

__ADS_1


“Sebaiknya kamu pergi sekarang sebelum terjadi keributan di sini,” ucapku.


“Ingat! Sekali lagi Lyra mengalami kejadian yang mengancam nyawanya, aku tidak akan ragu untuk mengambilnya dari kalian!” ancam Fabian.


“Kamu tidak usah khawatir. Kejadian ini tidak akan terulang kembali. Lagipula orang gil* itu


sudah tidak lagi tinggal di tempat ini.”


“Baik, kupegang omongan kalian. Saya permisi, Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Fabian lantas masuk ke dalam mobilnya. Tidak berselang lama mobil itu pun meninggalkan tempat kostku.


“Ibu heran, kenapa kamu bisa jatuh cinta pada laki-laki model begitu. Wajahnya memang


lumayan tampan, tapi sifatnya membuatku mudah naik darah,” ucap ibu sesaat


setelah kami masuk ke dalam rumah.


“Dulu mas Fabian baik, Bu. Entahlah apa yang membuatnya jadi berubah begini,” ujarku.


“Fabian tidak tahan dengan godaan perempuan.”


“Sudahlah, Bu. Mungkin di antara kami memang sudah tidak ada kecocokan lagi. Prinsip kami berbeda. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk mengalah dan pergi


meninggalkannya.”


“Lyra tidur, ibu tidurkan dia dulu di kamar.”


Ibu beranjak dari ruang tamu lalu masuk ke dalam kamarku.


*****


“Kemarin aku bertemu Fatimah,” ucapku di sela makan malam kami.


“Oh ya. Apa ada hal penting yang kalian bicarakan?”


“Ehm, iya, Bu. Ini soal kak Darren.”


“Kenapa dengan kakakmu itu?”


“Fatimah menduga jika kak Darren berselingkuh dengan perempuan lain.”


“ini baru dugaannya, Bu. Semoga dugaan itu tidak terbukti. Kak Darren memiliki anak


perempuan, mana mungkin dia berbuat begitu.”


Suasana hening sejenak.


“Maaf, Bu. Apa aku boleh bertanya sesuatu?”


“Apa yang ingin kamu tanyakan?”


“Ehm, apa kak Darren dan kak Maureen adalah anak kandung Ibu dan ayah?” tanyaku yang sontak membuat ibu terkejut hingga ia tersedak oleh makanan yang baru saja melewati kerongkongannya.


Dengan sigap kutuangkan air minum ke dalam sebuah gelas lalu kuberikan pada ibu.


Aneh, kenapa ibu terlihat panik mendengar pertanyaan itu? Apa ada sesuatu yang ia rahasiakan dariku?


“Kenapa kamu bertanya begitu?”


“Apa Ibu tahu, kak Darren sempat tidak mengakuiku sebagai adiknya saat kami kembali dipertemukan beberapa waktu yang lalu. Saat kutanya alasannya, ternyata dia


menyimpan dendam padaku lantaran merasa ayah dan Ibu membedakan perlakuan


padanya. Kak Darren merasa ayah dan Ibu tidak berlaku adil padanya. Dan perihal


peristiwa kebakaran yang terjadi di rumah kita belasan tahun silam, aku merasa


ada campur tangan kak Darren dan kak Maureen di dalamnya,” ungkapku.


Ibu menghentikan makannya sejenak, raut wajahnya kini terlihat begitu serius.


“Bagaimana Darren dan Maureen bisa berpikir ayah dan ibu berlaku beda pada mereka? Tentu saja mereka anak kandung ayah dan ibu. Hanya saja, ...”


“Kenapa, Bu?”


“Bisnis keluarga kita mengalami keterpurukan semenjak ibu melahirkan Maureen. Keluarga kita selalu terlilit hutang dan perusahaan ayahmu berada dia ambang kehancuran.


Namun, setelah kamu lahir, semuanya berubah 360 derajat. Perusahaan ayahmu


berkembang pesat bahkan manjadi deretan perusahaan bonafit kala itu. Kami


menganggap kehadiranku sebagai pembawa keberuntungan dalam keluarga kita.

__ADS_1


Itulah sebabnya kami memperlakukanmu bak seorang putri,” ungkap ibu.


“Bagaimana pun kak Darren dan kak Maureen adalah anak ayah dan Ibu juga. Ibu seharusnya bersikap adil pada mereka. Apa Ibu pernah berpikir, jika sikap tidak adil Ibu


dan ayah lah yang pada akhirnya membuat petaka bagi keluarga kita. Setelah


pesta ulang tahunku yang ke tujuh belas, aku tidak sengaja mendengar obrolan


mereka yang berniat ingin menyingkirkanku dari rumah kita.”


“Astaga! Apa benar yang kamu katakan itu?”


“Tidak ada gunanya aku berbohong.”


“Lantas, apa hubungan peristiwa kebakaran itu dengan kedua kakakmu? Apakah mereka yang


membakar rumah kita?”


Aku menghela nafas berat.


“Mereka tidak menggunakan tangan mereka sendiri untuk menyingkirkanku dari rumah kita.”


“Apa maksudmu?”


“Malam itu lampu di kamarku tiba-tiba padam. Aku pun menyalakan lilin sebagai penerangan. Di saat itulah aku melihat bayangan seseorang dari arah samping kamarku. Karena penasaran, aku pun memeriksanya. Aku tidak tahu persis siapa pria itu. Tiba-tiba saja dia membekap mulutku dan menarikku keluar dari dalam kamar. Aku


berusaha melakukan perlawanan dengan berpegangan pada korden jendela. Naas,


korden jendela itu justru menyambar api pada lilin yang berada dia atas meja yang terletak di dekat ranjang. Dari situlah kebakaran terjadi hingga akhirnya melahap habis rumah kita,” ungkapku.


“Kurang ajar! Ternyata anakku sendiri yang menyebabkan kehancuran di keluarga kita. Ibu harus


membuat perhitungan dengannya.”


“Sudahlah, Bu. Yang lalu biarkan berlalu. Tidak ada gunanya juga kita menyalahkan kak Darren. Apa yang terjadi pada keluarga kita bukan sepenuhnya salah kak Darren. Kalau saja Ibu dan ayah bersikap adil pada mereka, mungkin kak Darren dan kak Maureen tidak


akan pernah berpikir untuk berniat buruk padaku,” ujarku.


Ibu terdiam dan tampak berpikir.


“Kamu benar, Nak. Yang terjadi pada keluarga kita adalah salah ibu juga. Ibu sudah pilih kasih pada kalian yang pada akhirnya berakibat buruk bagi keluarga kita.”


Suasana hening sejenak.


“Besok ibu ingin menemui Darren. Apa kamu mau menemani ibu?” tanya ibu.


Aku tersenyum.


“Tentu saja, Bu.”


*****


Keesokan harinya.


“Ibu takut,” ucap ibu sesaat setelah kami turun dari taksi yang mengantarkan kami menuju rumah kak Darren.


“Kenapa Ibu harus takut? Kita datang ke rumah ini dengan tujuan baik ‘bukan?”


Meski awalnya ragu, ibu akhirnya mengetuk pintu depan rumah itu. Perlu menunggu beberapa saat sebelum seseorang membukakan pintu untuk kami.


‘’Zura...? Ibu...?” Fatimah cukup kaget melihat kedatangan kami di rumahnya.


“Kenapa kalian tidak bilang mau datang ke rumahku?” tanyanya.


“Ibu ingin bertemu kak Darren. Apa dia ada di rumah?” tanya ibu.


“Ehm...mas Darren...mas Darren, ...”


“Kenapa dengan mas Darren? Dia ada di rumah kan?”


Aku mengamati wajah sahabat lamaku sekaligus kakak iparku itu.


“Fatimah, wajah kamu kenapa?” tanyaku.


Bersambung....


Hai pembaca setia,


Ditunggu dukungannya ya...


Jangan lupa beri like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan, akan sangat berarti bagi author.


🥰🥰🥰


Happy reading...

__ADS_1


__ADS_2