
Siang ini aku diizinkan meninggalkan rumah sakit. Perawat sudah melepas selang infus yang melekat di tubuhku, hanya tinggal menunggu pak Amin datang menjemput.
"Bagaimana dengan Herdian?" tanya ibu tiba-tiba.
"Apanya yang bagaimana, Bu?"
"Bukan hanya sekali saja dia menyelamatkan nyawamu. Apa perasaan itu belum tumbuh?"
"Ibu ini kenapa? Dari kemarin nanya perasaanku pada Herdian terus. Memangnya apa yang harus kujawab jika saat ini aku tidak memiliki perasaan apapun padanya."
"Ehm …lantas bagaimana dengan Keenan?"
"Sama. Aku tidak memiliki perasaan lebih padanya."
"Oh ya, semalam saat ibu bersama bu Anita di kantin, beliau bercerita jika Luna muncul lagi. Apa benar begitu?"
"Ya, Bu. Kami tidak sengaja bertemu dengannya di tempat pemakaman umum."
"Memangnya dia sudah bebas?"
"Dia bebas dalam bulan ini. Rupanya Luna sengaja mengikuti bu Anita dari rumahnya. Dia begitu terpukul saat tahu Gibran sudah meninggal dunia. Dia menuduhku sebagai perempuan pembawa sial dan sempat menyerangku. Namun aku tidak diam saja. Aku melakukan perlawanan hingga membuatnya jatuh terjengkang di atas rerumputan," paparku.
"Dia itu memang perempuan tidak tahu diri! Rupanya penjara sama sekali tidak membuat perilaku buruknya berubah. Kamu harus tetap hati-hati dengan Luna. Bukan tidak mungkin dia masih menyimpan dendam padamu," ucap ibu.
Aku mengangguk paham.
Tidak lama kemudian seseorang membuka pintu ruangan. Rupanya sopir pribadiku, pak Amin.
"Ibu jadi pulang sekarang?" tanyanya.
"Pak Amin ini bagaimana. Dari tadi kami nungguin pak Amin datang," ucap ibu.
"Maaf, Bu. Anu … tadi saya lupa di mana menaruh kunci mobil."
"Astaga. Pak Amin 'kan belum tua-tua banget. Masa sudah pikun," ucap ibu.
yang ditanggapi pak Amin dengan menggaruk bagian tengkuknya yang kurasa sama sekali tidak gatal.
"Ya sudah, kita pulang sekarang, Pak."
Aku beranjak dari tempat dudukku. Kami pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.
"Mulai hari ini ibu tidak akan mengizinkanmu naik taksi. Ibu tidak ingin kejadian ini kembali terulang," ujar ibu di tengah perjalanan pulang.
"Tapi, Bu. Tugas pak Amin ini 'kan bukan hanya mengantar jemput aku saja. Tapi Fina dan Lyra juga."
"Ya sudah, kamu belajar naik mobil, lalu beli mobil sendiri saja. Atau kamu cari sopir baru lagi. Jadi tugas pak Amin nanti hanya mengantar jemput Lyra dan Fina saja. Ibu rasa kamu punya cukup uang untuk membeli mobil baru lagi."
"Ehm … benar juga. Nanti aku pikirkan. Oh ya, Pak. Kita mampir sebentar di toko," ucapku pada pak Amin.
__ADS_1
Sesampainya di toko.
"Ya Allah, Bu. Akhirnya Ibu muncul juga. Kami khawatir karena dari kemarin sore ibu tidak menjawab telepon dari kami. Ditambah lagi bu Anita terus menelepon kami menanyakan pesanan kue nya," ucap Ririn.
"Ibu kok dari arah sana. Memangnya Ibu dari mana atau mau kemana?" Ana menimpali.
"Zura ini baru pulang dari rumah sakit," jelas ibu.
"Rumah sakit?" Kedua karyawanku itu tampak tercengang.
"Ya. Zura mengalami musibah saat hendak mengantar kue pesanan bu Anita."
"Innalilahi. Tapi, Ibu tidak kenapa-napa 'kan?" tanya Ririn.
"Tidak kenapa-napa bagaimana? Kalau tidak kenapa-napa tidak mungkin Zura dirawat inap," tukas Ibu.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi, Bu?" tanya Ana.
"Taksi yang saya tumpangi mengalami korsleting listrik setelah mengisi bahan bakar dan saya terkunci di dalamnya. Saya sempat tak sadarkan diri. Alhamdulillah Allah mengirimkan pertolongannya melalui seseorang yang saya kenal," paparku.
"Alhamdulillah. Ibu orang baik, Allah pasti akan melindungi Ibu," ujar Ririn.
"Aamiin."
"Oh ya, Bu. Saya sudah tahu kenapa MAUREEN CAKE ramai beberapa hari belakangan ini," ucap Ana.
"Tunggu. Tadi karyawanmu bilang nama toko kue itu MAUREEN CAKE. Apa kamu tahu siapa pemiliknya? Jangan bilang kalau pemiliknya si keras kepala itu," ucap ibu.
"Ehm … pemilik toko kue itu memang kak Maureen, Bu."
"Benar-benar ggak kreatif. Ibu tidak habis pikir, setelah suaminya membuka konveksi untuk menyaingi usahamu, kini giliran dia membuka toko kue. Pasti tujuannya untuk menyaingi toko kue mu ini. Tapi kakakmu itu 'kan dari kecil tidak punya bakat apapun selain merebut apa yang menjadi milik orang lain. Contohnya dia merebut Fab- …"
"Bu," Aku menggelengkan kepalaku sebagai isyarat agar ibu tidak membuka aib kak Maureen di hadapan kedua karyawanku.
"Ehm … Rin … Na. Saya pulang dulu, ya. Badan saya rasanya masih sedikit lemas," ucapku.
"Ya sudah, Ibu istirahat yang cukup agar cepat pulih," ucap Ririn.
"Benar, Bu. Untuk pesanan kue insyaallah bisa saya handle sendiri."
"Jika sekiranya kamu kewalahan, kamu tolak saja pesanannya. Insyaallah dalam Minggu ini saya carikan teman buat kamu."
"Baik, Bu."
"Kami pamit dulu, Assalamu'alaikum."
Aku, ibu, dan pak Amin pun lantas meninggalkan toko kue.
Kepulanganku disambut Lyra dengan senyum cerianya. Namun tidak dengan Fina, entah mengapa aku melihat raut wajahnya begitu masam.
__ADS_1
"Fina, bantu ibumu masuk ke kamarnya," titah ibu.
"Memangnya nggak bisa jalan sendiri?!" sungutnya.
"Kamu ini kenapa sih? Saya hanya memintamu membantu Zura masuk ke dalam kamarnya. Kenapa kamu sinis begitu?!" ucap ibu.
"Sudah, Bu. Tidak apa. Aku bisa kok masuk ke kamar sendiri," tukasku.
Aku pun beranjak dari ruang tamu lalu melangkah menuju kamarku. Aku tak mempermasalahkan sikap Fina barusan. Mungkin dia sedang mengalami PMS sehingga moodnya sedang kurang baik.
****
"Bagaimana kuliahmu, Fin?" tanyaku pada Fina di sela makan malam kami.
"Biasa saja, tidak ada yang istimewa," jawaban tanpa sedikitpun memandang ke arahku.
"Oh ya, kamu satu kelas dengan Rizal 'bukan? Ibu dengar dia membiayai kuliahnya sendiri dengan menjadi freelance di sebuah majalah remaja. Apa benar begitu?"
"Maksud Ibu apa bicara begitu? Ibu ingin membandingkanku dengan Rizal yang mampu membiayai sekolahnya sendiri tanpa bergantung pada orangtuanya? Tidak seperti aku yang bisanya merepotkan? Aku bisa kok cari uang sendiri untuk membayar biaya kuliahku."
"Fina! Kamu ini sebenarnya kenapa? Zura ini bertanya baik-baik. Kenapa kamu menanggapinya kalimat yang tidak enak didengar begitu?" protes ibu.
"Aku sudah kenyang!" Fina beranjak dari tempat duduknya lalu meninggalkan piringnya yang belum benar-benar kosong.
"Kenapa dengan anak itu? Dari siang tadi aneh," ucap ibu.
"Mungkin Fina sedang pusing karena banyak tugas kuliah," ucapku.
"Ibu," panggil Lyra.
"Ya, Sayang."
"Mbak Fina tadi pagi menangis."
"Menangis? Memangnya kenapa?" tanyaku.
"Mbak Fina menangis setelah membuang buket bunga di tempat sampah."
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sikap Fina berubah dingin padaku? Lalu apa hubungannya dengan buket bunga itu?
Bersambung …
Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1