Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Hanya sekedar mimpi?


__ADS_3

"Sebenarnya … sebenarnya … ehm, … anak laki-laki yang selama ini Ibu rawat bukan lah anak kandung Ibu," ucap Siska.


"Suster jangan main-main. Bagaimana mungkin Saddam bukan putera kandung saya? Suster yang membantu saya melahirkan 'bukan? Bahkan Suster sendiri yang menyerahkan Saddam untuk melakukan inisiasi menyusui dini."


"Ibu pingsan sesat setelah melahirkan. Di saat itu lah saya mendatangi ruang bersalin ibu Karmila dengan maksud memberikan imunisasi pertama bagi bayinya yang lahir beberapa menit lebih dulu dari bayi Ibu. Sepertinya ibu Karmila kecewa lantaran melahirkan bayi cacat. Dia pun menawarkan saya uang dalam jumlah besar agar saya menukar bayi Ibu yang terlahir sempurna dengan bayi bu Karmila," ungkap Siska.


Kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut Siska rupanya memberikan pukulan keras bagi Bu Mala. Tiba-tiba saja tubuh wanita yang usianya tidak terpaut jauh dariku itu lunglai.


"Astaghfirullahaldzim. Bu Mala!" Dengan sigap aku menopang tubuh itu lalu mengajaknya duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


Beberapa saat kemudian terlihat seorang anak laki-laki seumuran Lyra muncul dari dari dalam rumah.


"Ibu kenapa?" tanyanya sembari berlari mendekati bu Mala.


"Ibu tidak apa-apa, Sayang."


Aku pun lantas mengamati wajah anak laki-laki itu. Begitu mirip dengan Fabian. Apakah dia benar-benar anak Fabian dan kak Maureen?


"Siapa namamu, Sayang?" sapaku.


"Saddam."


"Oh ya, kenapa Saddam tidak berangkat sekolah hari ini?" tanyaku.


Saddam bersembunyi di balik badan bu Mala seolah meminta perlindungan. Sepertinya pertanyaanku membuatnya tidak nyaman.


"Saddam main di kamar dulu ya, Sayang," bujuk Bu Mala seraya mengusap lembut rambut bocah laki-laki itu. 


Aku merasa begitu lega. Saddam diperlukan dengan baik di rumah ini.


"Sudah beberapa hari Saddam tidak mau masuk sekolah. Dia merasa takut lantaran suka diejek kawan-kawannya karena dia memiliki kekurangan fisik. Saya sudah membujuknya dengan berbagai cara namun percuma. Saddam bahkan berniat berhenti sekolah."


"Saya benar-benar minta maaf, Bu. Saya terpaksa melakukan perintah bu Karmila karena saat itu saya membutuhkan uang untuk keluarga saya. Saya baru sadar jika apa yang saya lakukan ternyata berpengaruh besar pada kehidupan orang lain," ucap Siska.


"Saddam masih begitu kecil. Bagaimana cara saya memberitahu jika dia bukan anak kandung saya? Saya juga begitu menyayangi Saddam. Apa saya sanggup berpisah dengannya?" ucap bu Mala. Aku bisa menangkap kesedihan di sorot matanya.


Suasana hening sejenak. Sebagai sesama perempuan dan seorang ibu, aku paham betul perasaan bu Mala kini. 


"Bu Zura, …"


"Ya, Bu."


"Kenapa Ibu tidak bu Karmila sendiri yang datang untuk berbicara pada saya? Apa yang telah dia lakukan adalah sebuah kesalahan besar juga perbuatan melanggar hukum. Saya bisa saja membawa kasus ini ke jalur hukum," ucap bu Mala.


"Ibu tidak usah melaporkan kakak saya ke polisi, sudah tiga tahun ini dia menjadi tahanan di sana."


"Hah?! Memangnya apa yang sudah dilakukan bu Karmila?"


"Kakak saya terlibat pertengkaran dengan seseorang di tempat tinggalnya hingga secara tidak sengaja membuat orang lain kehilangan nyawanya. Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara selama empat tahun," ungkapku.


Bu Mala menyeringai kecut.


"Hukuman itu pantas bagi perempuan sepertinya," ujarnya.


"Atas nama kakak saya, saya juga minta maaf," ucapku.


"Apa saya bisa bertemu dengan anak kandung saya sekarang?" tanya bu Mala yang sontak membuatku kebingungan.


Apa yang harus kukatakan pada bu Mila? Dia akan semakin marah jika aku mengatakan apa yang dilakukan Fabian pada anak kandungnya. 


"Ehm … ma-ma-af, Bu. Saat ini Ibu belum bisa bertemu dengan anak kandung Ibu."

__ADS_1


"Kenapa bisa begitu?" Bu Mala mengerutkan keningnya.


"Saya pun tidak tahu di mana keberadaan anak kandung Ibu sekarang."


"Ibu Zura ini mempermainkan saya, ya? Bukankah tadi Ibu mengatakan jika bu Karmila menukar bayinya dengan bayi saya? Kenapa sekarang Bu Zura bilang tidak tahu keberadaan anak kandung saya?"


Suara Bu Mala terdengar sedikit lebih keras.


"Bukan begitu maksud saya, Bu. Keadaan memaksa suami kakak saya untuk meminta orang lain merawat Rayyan. Saya pun tidak tahu persis siapa dan di mana orang yang merawatnya."


"Tidak suami, tidak istri. Sama-sama tidak waras! Saya tidak mau tahu. Bu Azzura harus secepatnya mencari keberadaan anak saya dan membawanya ke rumah ini! Saya harap sekarang juga kalian pergi tinggalkan rumah saya dan jangan pernah kembali sebelum menemukan anak saya!" seru bu Mala.


Tidak kusangka, seseorang yang memiliki tutur lembut dan santun seperti bu Mala, perangainya bisa berubah saat dia dikuasai amarah.


"Baik, Bu. Kami permisi, Assalamu'alaikum."


Jangankan menjawab salamku, bu Mala justru lebih dulu meninggalkan ruang tamu sebelum kami melangkah keluar dari ruangan itu.


"Saya minta maaf, Bu. Masalah ini terjadi akibat kesalahan yang saya buat. Demi menebus kesalahan saya, saya akan membantu Ibu mencari keberadaan anak bu Mala sampai ketemu," ucap Siska sesaat setelah mobilku melaju meninggalkan rumah bu Mala.


"Syukurlah jika kamu menyadari kesalahanmu. Tapi, sekarang sudah jam tiga sore. Sebaiknya besok saja kita memulai pencarian Rayyan. Saya juga perlu berbicara dengan suami kakak saya," ucapku.


"Maaf, apa boleh saya menyimpan nomor ponsel Ibu?" Siska mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempang miliknya.


Aku pun lantas mencatat nomorku di ponsel itu.


"Sudah saya ping ya, Bu. Kapanpun Ibu membutuhkan bantuan saya, saya siap," ucapnya. Kutanggapi ucapan itu dengan senyum tipis di bibir.


Hari yang begitu melelahkan. Setelah mengantar Lyra, aku mengunjungi kak Maureen di LP, lalu menemui Mayra di rumah sakit. Dilanjutkan dengan mencari Siska dan diakhiri dengan mendatangi rumah bu Mala yang disambut ramah pada awalnya dan diakhiri pengusiran. 


"Sepertinya hari ini kamu sibuk sekali," ucap ibu saat aku baru saja duduk di sofa ruang tamu.


"Masalah apalagi, Nak?" tanya ibu penasaran.


"Ternyata dugaanku benar. Rayyan bukan lah anak kandung kak Maureen dan Fabian."


"Maksud kamu apa, Nak?" Ibu mengerutkan keningnya.


"Kak Maureen membuat pengakuan jika dia membayar seorang perawat untuk menukar bayinya dengan bayi lain karena anaknya terlahir cacat."


"Astaghfirullahaldzim. Apa yang dilakukan kakakmu itu sudah melewati batas. Bagaimana mungkin dia berpikir menukar bayinya dengan bayi lain? Apa dia sudah kehilangan akal?"


"Kak Maureen sudah menyadari kesalahannya. Dia memintaku untuk mencari di mana keberadaan bayi itu dan menyerahkannya kembali pada ibu kandungnya."


"Masalah ini terjadi karena perbuatannya sendiri. Kenapa kamu yang repot?"


Aku tersenyum.


"Bagaimana pun kak Maureen adalah kakak kandungku. Suaminya sibuk dengan urusannya sendiri. Jika bukan aku yang membantunya, siapa lagi?"


"Ibu tidak habis pikir, terbuat dari apa hatimu, Nak. Setelah apa yang Maureen lakukan padamu, kamu masih saja bersikap baik padanya, bahkan membantu menyelesaikan masalahnya," ujar ibu.


Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba Lyra keluar dari kamarnya dan berlari menghampiriku. Rupanya gadis kecilku itu baru bangun dari tidur siangnya.


"Ibu sudah pulang?" tanyanya.


"Baru saja, Sayang. Oh ya, bagaimana tadi sekolah mu?" Aku mengangkat tubuh mungilnya lalu meletakkannya di pangkuanku.


"Di kelasku ada mulid balu, Bu."


"Oh, ya? Laki-laki atau perempuan?"

__ADS_1


"Laki-laki, namanya Alden. Tapi Lyla tidak suka."


"Kenapa bisa begitu?"


"Alden hanya memilih teman yang olangtuanya punya mobil."


"Biarkan saja, yang penting Lyra jangan membeda-bedakan teman. Berteman lah dengan siapa saja tanpa pandang bulu. Lyra paham 'kan maksud ibu?"


Gadis kecilku itu mengangguk paham.


"Ufhht. Bau apa ini?" sindirku.


"Lyla belum mandi, Bu," ucapnya. Ia lantas terkekeh pelan.


"Pantas saja ibu mencium bau kecut."


Aku berpura-pura menutup hidung.


"Ya sudah, Lyra mandi dulu yuk sama nenek. Biar ibumu istirahat." Ibu menggandeng tangan Lyra lalu mengajaknya menuju arah kamar mandi.


Aku baru saja merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku. Entah mengapa rasa kantuk tiba-tiba menyerangku.


Tiba-tiba saja aku berada di sebuah padang ilalang yang begitu luas. Tak ada seorangpun terlihat di sana. Setelah beberapa saat mengedarkan pandanganku, mataku tertuju pada beberapa ekor kupu-kupu yang berterbangan mengelilingi sebatang pohon bunga mawar. Bukan kupu-kupu yang menarik perhatianku, melainkan warna bunga itu yang begitu cerah. Jika bunga mawar pada umumnya berwarna putih atau merah, bunga yang kulihat itu berwarna jingga. Rasa ingin memetiknya begitu kuat menguasaiku. Dengan hati-hati aku pun memetik bunga itu. Ah! Tetap saja jariku tertusuk duri tajamnya. 


"Aww!" Duri pohon mawar itu ternyata begitu tajam hingga membuat salah satu jari tanganku berdarah.


"Kamu kenapa?" tanya seseorang yang entah dari mana datangnya.


"Tidak apa, hanya luka kecil tertusuk duri pohon mawar."


"Jangan meremehkan luka kecil. Mana kulihat tanganmu."


Aku yang sedari membelakangi pria itu pun menoleh ke arahnya.


"Kamu siapa? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku.


Pria itu tersenyum.


"Aku dikirim Tuhan untuk mengobati lukamu," ujarnya.


Aku pun lantas mengamati wajah pria itu.


"Zura … bangun, Nak. Sudah adzan Maghrib."


Suara dari luar pintu kamarku sontak membuatku terjaga dari tidur singkatku ini.


Rupanya aku baru saja bermimpi.


Tapi, siapa pria yang datang dalam mimpiku itu, dan apa maksud ucapannya tadi? Apakah ini hanya sekedar mimpi? Ataukah …


Bersambung …


 


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2