
Detik kemudian netra kami bersitatap. Jangan ditanya lagi bagaimana perasaanku sekarang. Suara detak jantungku melebihi kerasnya genderang yang dibunyikan ketika hendak terjadi peperangan.
"Ehem!" Keenan berdehem yang sontak membuatku salah tingkah. Gegas kuambil sepotong ayam goreng dari wadah itu lalu kuletakkan ke dalam piring Lyra. Demi menutupi kegugupanku, aku pun memulai menyantap makan malamku.
Aksi konyol Gibran dimulai. Aku merasa di bawah sana kakinya mulai menyentuh kakiku. Namun, tanpa sepengetahuannya aku menarik kakiku hingga akhirnya …
"Aduh! Kaki siapa ini?" Secara tiba-tiba ibu membuka kain penutup meja. Gibran tak dapat menyembunyikan rasa malunya saat ibu mendapati kakinya lah yang sedari tadi iseng di bawah meja.
"Ma-ma-af, Bu. Tadi sendok saya jatuh."
"Kenapa ngambil nya pakai kaki?"
"Ehm … anu … anu, …"
Aku hanya bisa menahan tawa mendapati ekspresi wajah Gibran lantaran menahan malu sekaligus kebingungan.
"Ehm … Zura," panggil Bu Anita.
"Ya, Bu."
"Apa kamu sudah punya jawaban?"
"Jawaban apa yang Ibu maksud?"
"Jawaban atas pertanyaan Gibran beberapa waktu yang lalu."
Bukankah makan malam ini adalah undangan dari bu Anita sebagai ucapan terima kasih nya karena aku telah menolongnya kemarin? Kenapa bu Anita jadi membahas masalah itu?
"Ehm … saya-saya, …"
"Aku sudah memberimu waktu yang cukup lama. Tinggal menjawab mau atau tidak saja susah banget," gerutu Gibran.
"Maaf, Nak ehm …"
"Gibran."
"Kamu 'kan tahu putri saya ini pernah terluka karena laki-laki. Saya harap kamu bisa paham. Zura pasti akan lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup karena dia tidak ingin terjatuh di lubang yang sama," ujar ibu.
"Percayalah, Bu. Putera saya ini sungguh-sungguh mencintai Azzurra. Dia juga akan menyayangi Lyra layaknya puteri kandungnya sendiri." Bu Anita menimpali.
"Paman Giblan suka ibu Lyla ya? Apa Paman mau menikah dengan ibu?" tanya Lyra dengan mata polosnya.
"Ehm … ibu, …"
"Lyra, ikut paman Nan-Nan lihat bintang di luar, yuk." Tiba-tiba Keenan mengalihkan perhatian putriku. Dia benar, obrolan ini tidak seharusnya didengar anak seusia Lyra.
"Maksud Paman bintang kecil yang seling Lyla nyanyikan di sekolah ya?"
__ADS_1
"Ya. Kita berdua akan menghitung bintang di langit."
"Pasti selu. Ayo Paman Nan-Nan," ucap Lyra penuh semangat. Dia pun lantas menggandeng tangan Keenan lalu mengajaknya meninggalkan ruang makan.
"Ehm … Bu Sabrina. Saya baru saja menemukan resep baru di majalah. Apa Ibu mau lihat?" ucap bu Anita.
"Boleh."
"Oh ya. Saya harus segera menghubungi klien saya," ucap pak Yudha. Ketiganya pun lantas meninggalkan meja makan.
Apa-apaan ini? Kenapa mereka mendadak sibuk dengan urusan masing-masing? Tujuan mereka pasti agar aku bisa berduaan dengan Gibran. Ya Rabb, apa aku terlalu konyol jika saat ini aku memilih menghilang dari hadapannya?
"Sekarang hanya ada kita berdua. Aku harap kamu jawab jujur. Apakah kamu tidak memiliki sedikit pun perasaan padaku?" ucap Gibran.
"Aku-aku … ehm, …"
"Kamu suka atau benci padaku?".
"Kenapa kamu terus mendesaku? Bukankah sudah kubilang aku perlu waktu untuk bisa kembali percaya pada laki-laki?"
"Perlu kamu tahu, tidak semua laki-laki seburuk yang kamu pikirkan. Mungkin Fabian pernah melukai perasanmu, tapi aku bukan dia. Aku berjanji akan selalu menyayangimu dan membuatmu bahagia," ungkap Gibran.
"Jujur, aku merasa nyaman saat berada di dekatmu. Tapi ini terlalu dini untuk mengartikannya sebagai cinta."
"Berapa lama lagi waktu yang kamu butuhkan untuk berpikir? Nanti keburu aku dipanggil Tuhan."
"Hati-hati kalau bicara. Ucapan adalah do'a."
"Mengapa kamu terus menekanku?"
"Kamu mau tahu alasannya? Aku begitu mencintaimu dan takut kehilanganmu."
"Yang kamu rasakan bukan cinta, tapi na*su. Jika kamu memang mencintaiku, kamu pasti mau memahamiku, bukan malah terus mendesakku," ujarku.
"Aku hanya ingin menjadi laki-laki yang setiap saat bisa menjaga dan melindungimu, juga Lyra."
"Jangan terus mendesakku, aku tidak suka."
"Memangnya salah jika seorang laki-laki jatuh cinta pada seorang perempuan dan ingin memilikinya?"
"Cinta tak pernah salah. Aku hanya tidak suka ditekan apalagi dipaksa. Jika kamu memang tidak mau bersabar, silahkan cari perempuan lain. Kawan gadismu banyak 'bukan?"
"Aku memang suka berhubungan dengan gadis-gadis cantik dengan seksi. Tapi itu dulu sebelum Allah mempertemukan kita. Kamu lain dari perempuan yang sudah pernah kukenal dalam hidupku."
"Aku belum bisa memberi jawabannya," ucapku.
Gibran membuang nafas.
__ADS_1
"Maafkan aku, mungkin selama ini aku terlalu memaksakan kehendakku. Seharusnya aku paham jika cinta tak bisa dipaksakan."
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari langit yang menandakan tidak lama lagi akan turun hujan.
"Ayo cepat keluar dari persembunyian Ibu. Aku tahu kalian bertiga sedari tadi menguping pembicaraan kami," ucapku.
Benar saja, ibu secara tiba-tiba muncul dari balik dinding ruang makan disusul bu Anita dan pak Yudha setelahnya.
"Astaga. Dari sedari tadi kalian menguping pembicaraan kami?" tanya Gibran.
"Kami minta maaf, Nak. Kami hanya penasaran dengan jawaban Zura," ucap pak Yudha.
Aku mengulas senyum.
Tidak apa, Pak, Bu."
"Maaf, Pak, Bu. Bukannya kami tidak ingin berlama-lama di rumah ini. Tetapi sopir kami tidak bisa mengendarai mobil dalam keadaan hujan, pandangannya sudah sedikit berkurang," ucap ibu.
Tidak lama kemudian kulihat Lyra dan Keenan kembali ke ruang makan. Putri kecilku itu tampak begitu nyaman terlelap di dekapannya.
"Saat menghitung bintang tadi tiba-tiba Lyra sudah tertidur di pangkuanku," jelas Keenan.
"Ini memang sudah jam tidurnya. Lagipula sebentar lagi sebentar lagi mau turun hujan. Kami harus segera pamit," ucapku.
"Mari aku antar Lyra sampai ke mobil," ucap Keenan.
Setelah berpamitan pada kedua orangtua Gibran, kami pun meninggalkan rumah tersebut.
"Apa yang membuatmu ragu untuk menerima Gibran, Nak? Ibu lihat dia benar-benar tulus mencintaimu," ucap ibu saat dalam perjalanan pulang.
"Entahlah, Bu. Setelah pernikahanku dan Fabian gagal, rasanya begitu sulit membuka pintu hati ini untuk pria lain."
"Tanyakan pada hatimu, bagaimana perasaanmu pada Gibran. Hanya kamu yang mengetahui isi hatimu sendiri."
"Meskipun terkadang konyol dan menjengkelkan, jujur aku merasa nyaman saat di dekatnya," ujarku.
Ibu mengulas senyum.
"Sepertinya kamu sudah tahu jawabannya," ucapnya.
Apakah ini artinya aku benar-benar sudah jatuh cinta pada Gibran?
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰 🥰🥰🥰