Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Siapa Saddam?


__ADS_3

Keesokan paginya.


"Rahma, aku minta tolong jam sepuluh nanti jemput Lyra di sekolah nya. Aku harus menemui rekan bisnisku jam sembilan pagi ini," ucapku pada Rahma saat ia tengah memasang benang pada mesin jahitnya.


"Baik, Mbak."


"Bagaimana, kamu nyaman kerja di sini?" tanyaku.


Gadis yang pernah menjadi tetanggaku saat masih tinggal di tempat kost itu tersenyum.


"Insyaallah betah, Mbak. Rekan-rekan di sini semuanya baik dan mau saling membantu. Tidak seperti di tempat kerja lamaku, tidak sedikit mereka menjadi penjilat, bahkan saling menjatuhkan. Itulah alasan mengapa aku tidak nyaman lagi bekerja di sana," ungkapnya.


"Oh ya, bagaimana kabar mbak Salma?"


"Mbak Salma masih menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Entah kapan jiwanya kembali stabil. Dokter pun di tidak bisa memastikannya."


"Yang terpenting kamu jangan putus do'a untuk kesembuhan mbak Salma," ujarku.


"Ya, Mbak. Hanya mbak Salma saudaraku satu-satunya. Aku ingin berkumpul kembali dengannya."


"Semoga Allah mengabulkan do'a mu."


"Aamiin …"


"Ibu, …"


Kulihat Lyra telah rapi dengan pakaian seragamnya. Tak ketinggalan tas ransel berwarna merah muda bergambar karakter kuda poni, yang menjadi tokoh kartun favoritnya.


"Kamu sudah siap, Sayang?" tanyaku sembari membelai kepalanya yang ditutupi hijab instan.


"Sudah, Bu. Ibu yang antal, ya," rengeknya.


"Ibu ada urusan, Sayang. Diantar bibi Mia saja ya," bujukku.


"Pokoknya aku mau diantal Ibu."


Ah! Kenapa dengan putri kecilku ini? Tidak biasanya dia merengek begini.


"Ya sudah, ibu antar Lyra. Tapi nanti pulangnya dijemput mbak Rahma ya," ucapku. Gadis kecilku itu menganggukan kepalanya.


Aku pun lantas beranjak meninggalkan ruang produksi dan mengantar Lyra ke sekolahnya dengan berjalan kaki. Karena kesibukanku, aku hampir tidak pernah mengantarnya ke sekolah ataupun menjemputnya.


"Lyra senang bersekolah?" tanyaku.


"Senang, Bu. Tapi ada teman satu kelasku yang suka mengejek kawan lainnya."


"Kenapa begitu?"


"Temanku itu diejek karena jalinya beda dengan Lyla."


"Memangnya kenapa dengan jari temannya Lyra?"


"Jalinya yang kanan ada empat, yang kili ada enam."


Entah mengapa ucapan Lyra membuatku kembali teringat pada pada bayi laki-laki yang pernah kutemui bersama ibunya di taman waktu itu. Usianya memang hanya berjarak beberapa bulan saja dari Lyra, dan aku masih ingat keadaan jari bayi itu berbeda dari bayi normal pada umumnya.


Apakah kawan sekolah Lyra yang dimaksud adalah bayi laki-laki itu?


Setelah sepuluh menit berjalan kaki, kami pun tiba di sekolah Lyra. Beberapa orangtua dan teman Lyra sudah lebih dulu sampai di sana.

__ADS_1


"Lyra diantar ibu, ya?" sapa salah satu ibu.


"Iya, Bu," sahutku.


"Ibu, Lyla masuk ke kelas dulu."


"Belajar yang benar ya, Sayang," ucapku sembari mengecup lembut keningnya.


"Assalamu'alaikum, Ibu."


Lyra pun lantas meraih tanganku lalu mengecupnya.


"Waalaikumsalam."


"Lyra baik banget sama teman-temannya. Putri saya bilang dia suka berbagi makanan," ucapnya salah satu ibu.


"Putra saya pun bilang begitu. Meskipun Lyra anak seorang pengusaha, dia mau berkawan dengan siapa saja tanpa pilih kasih. Bahkan saat putra saya menangis karena kotak bekal nya tertinggal di rumah, Lyra mengajaknya makan bekalnya bersama." Ibu lainnya menimpali.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau Lyra baik pada kawan-kawannya."


"Meskipun tanpa suami, Bu Zura berhasil mendidik Lyra dengan baik," ucap ibu lainnya. Kutanggapi ucapan mereka dengan senyum simpul di bibir.


"Oh ya. Tadi putri saya bercerita ada seorang kawan di kelasnya yang suka mengejek kawan lainnya karena ia memiliki kekurangan fisik. Apa ibu-ibu tahu siapa murid yang dimaksud putri saya?" tanyaku.


"Oh, murid yang dimaksud itu pasti Saddam."


Saddam? Ya, itulah nama bayi yang pernah kutemui di taman waktu itu. Sang ibu yang menyebutnya sendiri.


"Sekarang murid itu di mana, Bu?" tanyaku.


"Sudah beberapa hari ini Saddam tidak masuk sekolah. Mungkin dia tertekan karena sering diejek kawan-kawannya."


"Kalau tidak salah di jalan Anyelir. Sebenarnya orangtua Saddam itu cukup berada. Tapi kekurangan fisik pada Saddam itu lah yang sering membuat ibunya sungkan untuk berbaur dengan para orangtua murid."


"Begitu, ya. Baiklah, terima kasih untuk informasinya. Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam," jawab ketiganya serempak.


Tidak berselang lama terlihat seorang guru keluar dari ruang guru.


"Bu Azzura? Tumben ke sekolah," ucapnya.


"Iya, Bu. Tadi Lyra merengek minta diantar. Oh ya, apa saya boleh bicara sebentar dengan Ibu?"


"Mari, silahkan masuk."


Guru yang kerap disapa Bu guru Husna itu pun lantas mengajakku masuk ke dalam ruangannya.


"Ada apa, Bu?" tanyanya.


"Saya ingin menanyakan seorang murid bernama Saddam. Beberapa wali murid mengatakan sudah beberapa hari Saddam tidak masuk sekolah karena dia sering diledek kawan-kawannya."


"Benar, Bu. Saddam memang memiliki kekurangan fisik semenjak ia dilahirkan. Banyak selentingan di luar sana yang mengatakan jika Saddam bukan anak kandung orangtuanya karena ia tak memiliki kemiripan wajah dengan mereka. Bahkan beberapa orang mengatakan Saddam ditukar seseorang sesaat setelah ia dilahirkan di rumah sakit Medika. Tapi entahlah. Saya pun tidak berani berkomentar banyak karena itu bukan kapasitas saya," ungkap guru berhijab lebar itu.


Rumah sakit Medika? Bukankah itu rumah sakit tempat sahabatku Khumayra bekerja? Apakah aku perlu menemuinya? Identitas Saddam sungguh membuatku penasaran.


"Kenapa Bu Azzura bertanya tentang Saddam?" tanya bu Husna.


"Ehm … tidak apa, Bu. Saya hanya merasa miris, seorang murid enggan kembali bersekolah hanya karena dibully kawannya lantaran ia memiliki kekurangan fisik. Entah mengapa saya ingin sekali menemuinya."

__ADS_1


"Di antara wali murid di sekolah ini, hanya Ibu Azzura yang peduli pada Saddam."


"Bukankah kita harus saling peduli dengan sesama?"


Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba ponselku berdering. Kupikir seseorang menelponku, tapi ternyata pengingat.


"Jam 9, di cafe Rainbow". Begitu lah isi pesan yang kutulis sebagai pengingat.


Ah! Aku hampir lupa pagi ini harus bertemu Gibran untuk membicarakan rencana kerjasama kami.


Gibran. Hanya mengingat namanya saja sudah membuat jantungku berdegup kencang. Bagaimana jika nanti aku hanya duduk berduaan saja dengannya di cafe? Bisa-bisa aku mati kutu.


"Kamu mikir apa sih Zura? Fokus! Fokus! Ini urusan pekerjaan, bukan urusan yang lain," gumamku lagi.


"Bu Azzura kenapa?" tanya bu Husna.


"Ehm … Ti-ti-tidak apa. Maaf, Bu. Saya harus pergi sekarang, masih ada urusan. Terima kasih untuk informasinya, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Aku pun lantas meninggalkan sekolah Lyra. Demi mempersingkat waktu, aku sempat berpikir naik taksi saja menuju cafe. Namun, setelah kupikir ulang, lebih baik aku mengajak pak Amin bersamaku.


"Pak Amin, ke sekolah Lyra sekarang ya, tunggu," ucapku melalui sambungan telepon.


Beberapa saat kemudian si putih yang dikendarai pak Amin pun tiba di halaman sekolah Lyra.


"Kita mau kemana, Bu?" tanyanya.


"Ke cafe Rainbow. Bapak tahu kan?"


tanyaku. Pak Amin menganggukkan kepalanya.


Setibanya di cafe.


"Saya tunggu di mobil saja ya, Bu," ucap pak Amin.


"Pak Amin ikut masuk ke dalam temani saya."


"Tapi, Bu."


"Tidak apa-apa. Nanti saya traktir minum kopi."


Aku mengedarkan pandanganku di ruangan yang cukup luas itu. Namun, aku tidak menemukan keberadaan Gibran.


"Kenapa dia belum datang? Jangan-jangan dia lupa," gumamku.


"Silahkan, Pak." Aku mempersilahkan sopir pribadiku itu untuk menduduki salah satu bangku. Begitupun aku yang duduk persis di hadapannya.


"Selamat pagi, Ibu dan Bapak mau memesan apa?" tanya seorang pelayan cafe.


"Saya pesan segelas jus jeruk dan secangkir kopi." Aku lantas mendongakkan kepalaku. Alangkah terkejutnya aku saat memandang wajah pelayan cafe itu.


Bersambung …


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


🙏🙏


__ADS_2