
Dua hari kemudian.
"Mumpung aku libur mengajar, bagaimana kalau kita datangi rumah sahabatmu itu dan meminta alamat Irwan," ucap kak Darren saat mendatangi tempat kost ku siang itu.
Aku bersyukur. Kak Darren yang dulu begitu membenci ibu bahkan menyimpan dendam padanya, akhir-akhir ini mulai menunjukkan sikap pedulinya.
"Percuma, Kak. Kita tidak akan pernah bertemu Irwan lagi."
"Dia hanya di luar kota saja. Bukan hal sulit bagiku untuk menemukannya."
"Tapi, Kak, …"
"Kenapa? Kamu takut? Biar aku yang menghadapinya. Kita harus mencari keadilan untuk ibu.
"Apa kamu tega membiarkan ibu melahirkan bayinya tanpa suami?"
"Kita tidak akan bisa menemui Irwan sampai kapan pun."
"Maksud kamu apa?"
"Irwan sudah tiada, dia sudah meninggal."
"Ha ha ha…aku paham sekarang. Kamu pasti kesal dengan laki-laki itu sampai-sampai kamu nyumpahin dia mati. Begitu 'kan?" Kak Darren terkekeh.
"Irwan benar-benar sudah meninggal dunia, Kak."
"A-a-pa?!"
"Irwan meninggal dunia dua hari yang lalu akibat kecelakaan. Sepeda motor yang dikendarainya menabrak mobil. Dia tewas di tempat kejadian."
__ADS_1
"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un."
"Kamu tidak sedang bercanda 'kan?"
"Kakak mengenalku 'bukan? Aku bukan tipe orang yang suka main-main apalagi bercanda untuk hal sepenting ini."
"Benar juga. Dari mana kamu tahu jika Irwan sudah meninggal?"
"Kebetulan siang itu aku berada di pasar. Aku mendengar suara tabrakan dari arah jalan di depan pasar. Seorang warga mengatakan jika korban kecelakaan itu bernama Irwan. Ternyata benar, dia adalah
Irwan kakak kandung sahabatku, Mayra."
"Hilang sudah harapan kita untuk menyelamatkan ibu," ujar kak Darren.
"Ya, meskipun Irwan sempat memiliki niat baik sebelum dia menemui ajalnya."
"Niat baik? Bukankah kamu yang bilang sendiri jika dia menyangkal perbuatannya pada ibu dan menolak bertanggung jawab?"
"Apa? Irwan meninggal?"
Aku dan kak Darren sontak menoleh ke arah suara itu. Ibu yang kupikir tengah tidur siang di dalam kamarnya ternyata mendengarkan obrolan kami.
"Ibu sudah bangun? Apa Ibu lapar?"
Aku sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Apa benar yang ibu dengar tadi kalau Irwan meninggal?" tanyanya.
Aku memandang wajah kak Darren sesaat sebelum menganggukkan kepalaku.
__ADS_1
"Siapa ayah bayi ini? Bayiku tidak punya ayah. Hu … hu … hu… Bayiku sudah jadi yatim sejak di dalam perut. Ha ha ha …
Kenapa kamu tidak ikut mati saja bersama ayahmu itu? Ha ha ha!" Ibu memukuli perutnya sendiri dengan penuh amarah.
"Ibu, jangan!" Aku beranjak dari tempat dudukku dan mengajaknya duduk di atas sofa.
"Yoga mati, Irwan juga sudah mati. Bayiku tidak punya ayah lagi. Ha ha ha! Hu… hu… hu…"
Ibu akan tertawa terbahak-bahak kemudian menangis, dan beberapa saat kemudian kembali tertawa. Begitu seterusnya. Kurengkuh tubuh perempuan yang begitu kukasihi itu, lantas aku tergugu di pundaknya.
"Semakin hari keadaan ibu semakin memprihatinkan. Bagaimana kalau kita bawa ibu ke rumah sakit jiwa?" ucap kak Darren yang sontak membuatku tercengang.
"Rumah sakit jiwa, Kak?"
"Benar. Saat ini kondisi kejiwaan ibu sedang tidak stabil. Aku khawatir, jika dibiarkan keadaannya akan semakin parah," ungkap kak Darren.
Tiba-tiba aku teringat mbak Salma yang saat ini tengah menjalani perawatan di rumah sakit jiwa lantaran mengalami depresi setelah kematian suami dan bayinya dalam waktu yang bersamaan.
Dulu, ibu seringkali menghina mbak Salma jika dia perempuan sin*ing, tidak waras, bahkan gil*. Kenapa kini semua seolah terjadi pada ibu sendiri? Apakah benar hukum karma itu benar-benar ada dan masih berlaku?
"Yoga mati! Irwan juga mati. Ha ha ha…
Siapa ayah bayiku? Hu … hu… hu…"
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading…