
Sungguh, obrolan yang baru saja kudengar dari ibu-ibu yang berbelanja di tukang sayur keliling itu cukup mengganggu pikiranku. Apakah yang mereka bicarakan adalah Mila dan ibu? Apakah selama ini Mila tidak merawat ibu dengan baik?
Kupercepat langkahku meninggalkan kerumunan para ibu-ibu yang tengah asyik bergosip itu. Tak sabar rasanya ingin lekas sampai di blok H. Tempat di mana mas Fabian, Mila, dan ibu mertuaku tinggal. Aku ingin segera membuktikan rasa penasaranku.
Aku baru sampai di blok F, ketika tiba-tiba mobil berwarna hitam itu muncul dan melaju dengan kecepatan rendah. Mobil yang tak asing bagiku. Ya, mobil itu adalah mobil mas Fabian. Netra kami sempat bersitatap sebelum mas Fabian menepikan mobilnya dan beranjak dari bangku kemudi.
"Assalamu'alaikum, Dek… ehm… Azzura."
"Waalaikumsalam, Mas. Ehm…pak Fabian."
Untuk pertama kalinya kami saling menyapa dengan panggilan yang berbeda.
"Kamu mau kemana?" tanya Fabian
"Aku ingin menjenguk ibu."
"Kamu tidak perlu khawatir, Mila merawat dan mengurusnya dengan baik."
"Pak Fabian yakin?"
Lidahku terasa aneh saat memanggil pria yang kini berdiri di hadapanku dengan sebutan "Pak". Tapi, sepertinya panggilan itu lah yang pantas untuknya. Dia kan memang bapak-bapak?
"Kenapa kamu ngomong begitu?"
"Tadi aku sempat mendengar obrolan ibu-ibu yang sedang berbelanja di tukang sayur keliling, mereka membicarakan menantu yang suka berlaku dan berkata kasar pada ibu mertuanya."
"Jadi, kamu menuduh menantu itu Mila? Aku melihat sendiri Mila memperlakukan ibu dengan begitu baik. Lagipula menantu di area perumahan ini bukan hanya Mila saja. Bisa saja yang mereka obrolkan itu orang lain. Aku tahu kamu tidak menyukai Mila. Tapi jangan selalu berpikiran buruk tentangnya. Dia tidak seburuk yang kamu pikir," ucap Fabian.
"Tapi, …"
"Assalamu'alaikum, solehah nya ayah," sapanya pada Lyra. Jangankan tersenyum, putri kecilku itu justru menangis.
Fabian mengambil Lyra dari gendonganku lalu mendaratkan ciuman di keningnya.
Bukannya diam, tangisnya terdengar semakin nyaring.
"Ini ayahmu, Sayang. Kenapa kamu jadi begini? Apa kamu mengajarinya untuk membenciku?"
"Astaghfirullah. Pak Fabian ini bicara apa. Aku bersumpah demi apapun, tidak pernah mengajarkan Lyra untuk membenci apalagi dendam pada ayahnya. Lagipula dia masih begitu kecil, pasti belum paham dengan apa yang terjadi sekarang."
"Digendong saja tidak mau!" gerutunya sebal. Aku pun lantas mengambil kembali Lyra dari gendongannya.
"Aku mengijinkanmu menemui ibu. Tapi, jangan membuat keributan di rumah kami," ucap pak Fabian.
"Istri kamu tuh yang gampang sekali marah," ucapku.
__ADS_1
"Sudah. Aku harus berangkat sekarang."
Pak Fabian menarik handle pintu mobil lalu masuk ke dalamnya. Mobil itu berlalu begitu saja dari hadapan kami. Tanpa ucapan salam ataupun lambaian tangan dari pengemudinya. Fabian Yusuf benar-benar telah berubah. Dia bukan lagi Fabian Yusuf yang kukenal.
Aku beranjak dari tempat itu dan berjalan menuju blok H. Jantungku berdegup kencang saat aku semakin dekat dengan rumah bercat biru muda itu. Tak kudengar suara apapun apalagi ucapan kasar dari dalam sana. Mungkin yang diobrolkan mereka bukan lah Mila dan ibu.
Aku baru saja hendak mengetuk pintu depan rumah Mila ketika tiba-tiba terdengar suara mirip gelas atau piring yang terjatuh di atas lantai.
"Mungkin Mila tidak sengaja menjatuhkan piring saat mencucinya," pikirku.
"Sudah berapa banyak perabotan yang Ibu pecahkan dalam tiga hari ini 'hah? Apa Ibu pikir perabot di rumah ini dibeli dengan daun?
Tubuhku tiba-tiba gemetar. Tidak salah lagi, suara yang baru saja kudengar adalah suara Karmila. Jika Fabian telah berangkat bekerja, artinya dia hanya berdua dengan ibu. Jadi benar, yang Ibu-ibu bicarakan itu adalah Mila dan ibu? Apakah Mila sering berlaku dan berkata kasar pada beliau?
Kuketuk pintu depan dengan cukup keras.
"Siapa?"
Aku sengaja tak menjawab. Jika tahu aku yang datang, Mila pasti tidak akan membukakan pintu untukku.
Sekali lagi kuketuk pintu depan rumah Mila. Kali ini aku menggedornya. Rupanya tindakanku berhasil memancing Mila keluar.
Aku bisa menangkap kepanikan di raut wajahnya saat melihat aku yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Jadi begini perlakuanmu pada ibu saat mas Fabian tidak berada di rumah?"
"Mbak ini bicara apa? Aku-aku, …"
"Ternyata benar yang dikatakan ibu-ibu penghuni komplek perumahan ini kalau
kamu sering berlaku kasar pada ibu."
"Itu nggak benar, Mbak. Aku merawat ibu dengan baik. Beliau sudah kuanggap seperti ibu kandungku sendiri."
"Omong kosong! Aku mendengar sendiri tadi kamu memarahi ibu setelah ibu menjatuhkan gelas."
"Apa maksud Mbak? Mbak salah paham. Tadi aku marah-marah karena ada kucing yang mencuri makananku di meja makan. Kucing itu menyenggol gelas dari atas meja dan jatuh."
"Kamu pikir aku percaya dengan ucapanmu?"
Aku menerobos masuk ke dalam kamar ibu meskipun Mila berusaha menghalangiku.
"Mbak ini punya tidak punya sopan santun ya? Masuk ke rumah orang tanpa permisi."
Aku tak memperdulikan ucapannya. Aku justru melangkah kakiku menuju sebuah kamar yang kuyakini adalah kamar ibu.
__ADS_1
"Berhenti! Aku tidak mengijinkan Mbak masuk ke dalam kamar ini!"
Mila berlari ke arah pintu lalu merentangkan kedua tangannya di pintu yang tertutup rapat itu.
"Minggir!" Aku mendorong tubuh Mila. Memang, dibandingkan denganku, Mila memiliki postur tubuh yang lebih pendek dariku.
"Mbak ini benar-benar gak punya sopan santun ya?"
Lekas kuputar gagang pintu dan mendorongnya. Benar dugaanku, Mila berbohong. Gelas jatuh itu bukanlah berasal dari arah dapur, melainkan dari kamar ini. Terlihat pecahan gelas itu masih berserakan di atas lantai.
"Lihat saja. Aku akan mengadukan perbuatanmu pada Fabian!"
"Silahkan saja. Mas Fabian Tidak akan percaya lagi pada Mbak. Di matanya aku lah istri yang terbaik. Mbak sudah tidak berharga lagi baginya!"
"Karmila. Kamu, …!"
Amarah ini tak terbendung lagi. Aku mengangkat kedua tanganku dan bersiap melayangkannya ke wajah Mila. Tak kuduga seseorang menahan tanganku dan mencengkeramnya dengan cukup kuat.
"Mas… Fabian?"
"Aku tidak yakin kamu tidak akan membuat keributan di rumah ini. Itulah sebabnya aku kembali ke rumah ini!"
"Mbak Zura datang dan tiba-tiba memakiku, Mas. Dia bahkan memecahkan gelas di kamar ibu. Hu…hu…hu…"
"Itu fitnah! Aku mendengar dari luar jika istrimu yang tercinta ini sedang memarahi ibu karena ibu menjatuhkan gelas."
"Aku tahu, dari dulu Mbak tidak pernah menyukaiku. Tapi, jangan fitnah aku sekejam ini. Hu…hu…hu…"
"Hapus air mata buayamu, Mila! Kamu jangan memutar balikkan fakta!" seruku.
"Mas, suruh dia pergi. Aku takut bayi kita kenapa-napa kalau dia berlama-lama di rumah kita. Hu…hu…hu…"
Aku tahu tangis itu hanya pura-pura. Dia sengaja ingin menjatuhkanku di depan Fabian.
"Demi Allah, semua yang dikatakan Mila tidak benar. Aku mendengar Mila, …"
"Azzura binti Prasetya! Cukup! Keluar dari rumah kami sekarang!" bentak Fabian.
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1