Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kebenaran belum terungkap


__ADS_3

"Silvia!" teriak tuan Anthony sesampainya di ruang tamu rumahnya.


Silvia yang tengah mendengarkan musik dari ponselnya dengan volume tinggi itu tentu saja tidak mendengar seruan sang ayah. Dia baru menyadari kehadirannya setelah pria yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu melempar selembar kertas tepat di hadapannya.


"Astaga. Ayah? Ada apa, Yah?"


Mendapati raut wajah sang ayah yang begitu tegang, Silvia pun bergegas mematikan pemutar musik di ponselnya.


"Apa ini?!" tuan Anthony menunjuk surat perjanjian hasil tulisan tangannya itu.


"Dari mana Ayah mendapatkan surat perjanjian ini?" tanyanya.


"Kamu tidak perlu tahu. Aku hanya ingin mendengar penjelasan kenapa kamu melakukan kebohongan ini!"


"Aku-aku, …"


"Jawab!"


"Seandainya Ayah tahu, aku melakukan semua ini demi Ayah. Aku tidak ingin Ayah mengalami sesuatu yang buruk apalagi jika Ayah sampai dipenjara."


"Dipenjara?"


"Ya. Aku takut jika pejalan kaki yang Ayah tabrak sepuluh tahun silam benar-benar tewas. Keluarganya bisa saja menuntut Ayah. Hanya Ayah satu-satunya yang kumiliki di dunia ini. Aku tidak mau jika Ayah masuk penjara. Itulah sebabnya aku dan Evan mengatur sandiwara ini," ungkap Silvia.


"Lantas, kamu pikir apa yang sudah kamu lakukan itu akan menyelesaikan masalah?!"


Silvia terdiam dengan wajah tertunduk.


"Kamu tahu, kedua perempuan yang kamu bayar itu hari ini meninggal dunia."


"Meninggal dunia? Mana mungkin. Beberapa jam yang lalu aku dan Evan mendatangi rumah mereka."


"Aku yang melihat dengan mata kepalaku sendiri kedua perempuan itu mengalami kecelakaan di jalan raya. Gadis yang mengaku sebagai Amira tewas lebih dulu sebelum akhirnya sang ibu juga meregang nyawa beberapa saat setelahnya," ungkap sang ayah.


"Astaga! Ja-ja-di mereka meninggal karena kecelakaan?"


"Ya, dan ini semua karena kesalahanmu."


"Ap-ap-apa? Kenapa aku yang disalahkan?"


"Mereka mengendarai sepeda motor yang baru saja dibeli, dan aku yakin uang itu adalah pemberianmu sebagai imbalan karena mereka telah membantumu menjalankan rencana ini. Kalau saja kamu tidak mengajak mereka terlibat dalam sandiwara ini, mereka tidak akan membeli sepeda motor itu yang pada akhirnya akan mengantar mereka menuju kematian."


"Salah mereka sendiri. Kenapa memilih jalan raya untuk belajar mengendarai sepeda motor?"


"Semua ini tidak akan terjadi jika kamu tidak memiliki pikiran selicik itu."


"Aku tidak licik, Yah. Aku melakukan ini demi Ayah."


"Apa yang kamu lakukan justru membuat penyesalanku semakin bertambah," ujar tuan Anthony.

__ADS_1


"Aku mengaku salah, Yah. Aku minta maaf."


"Ayah akan memaafkanmu asalkan kamu menemukan siapa dan di mana sebenarnya pejalan kaki itu. Kalaupun dia sudah meninggal, pertemukan ayah dengan keluarga atau kerabatnya."


"Ba-ba-baik, Ayah."


"Kamu akan tahu akibatnya jika kamu berani membohongi ayah lagi!" ancam sang ayah.


Silvia menganggukkan kepalanya.


"Evan!"


Evan yang sedari tadi hanya berdiri di luar kamar Silvia itu pun bergegas menghampirinya.


"Ya, Tuan," ucapnya dengan wajah tertunduk. Setelah apa yang terjadi ia tak memiliki keberanian untuk menatap wajah sang tuan.


"Kamu bantu Silvia melakukan tugas dari saya."


"Ba-ba-baik, Tuan."


"Sekarang antar saya ke ke kamar."


Evan mendorong kursi roda itu keluar meninggalkan kamar tersebut.


"Dasar ceroboh! Bagaimana ayah bisa menemukan surat perjanjian itu? Bukankah sudah kubilang untuk menyimpannya baik-baik?" ucap Silvia sesaat setelah Evan keluar dari kamar tuan Anthony.


"Ini semua di luar dugaan. Aku sudah menyimpan surat perjanjian itu di dalam tas kerjaku. Aku tidak tahu bagaimana caranya surat perjanjian itu bisa berada di tangan Tuan Anthony."


"Tapi, Nona, …"


Silvia enggan menanggapi ucapan Evan. Dia justru beranjak meninggalkan ruangan itu lalu berjalan menuju mobilnya yang berada di halaman rumah.


"Aku takut terjadi sesuatu jika kamu menyetir dalam keadaan pikiran kacau," gumamnya.


Lima belas menit kemudian Silvia tiba kembali di kantor Fabian bertempat dengan jam pulang kantor. Tentu saja Fabian heran mendapati atasannya tengah duduk santai di atas sepeda motornya.


"Bu … ehm … Silvia. Kamu kok di sini? Bukannya tadi kamu keluar bersama Evan?" tanyanya.


"Aku kecewa dengan Evan. Dia ceroboh dan tidak bisa diandalkan!"


"Kenapa kamu bisa bilang begitu? Bukankah dia orang kepercayaanmu dan juga tuan Anthony?"


Silvia mengedarkan pandangannya. Di saat jam pulang kantor tentu saja hampir seluruh karyawan mendatangi tempat parkir untuk mengambil kembali kendaraannya. Tidak sedikit dari mereka yang memandang keduanya dengan tatapan heran lantaran begitu akrab mengobrol. Silvia yang merasa tidak nyaman itu pun akhirnya memilih mengajak Fabian masuk ke dalam mobilnya.


"Bagaimana dengan sepeda motorku?"


"Besok kamu masih bisa kembali ke kantor ini 'bukan? Aku juga akan mengantarmu sampai di depan rumahmu."


"Memangnya kita mau kemana?"

__ADS_1


"Menyelidiki sesuatu."


"Apa yang ingin kamu selidiki?" Fabian mengerutkan keningnya.


"Jadi begini, sepuluh tahun yang lalu ayah pernah melakukan sebuah kesalahan besar."


"Apa maksudmu?"


"Sepuluh tahun yang lalu ayah pernah menabrak seorang pejalan kaki.


"Lantas, bagaimana nasib pejalan kaki itu?"


"Ayah tidak tahu."


"Kenapa tuan Anthony tidak tahu?"


"Waktu itu ayah juga sedang terburu-buru karena asisten rumah tangga di rumah kami menelpon ayah dan memberitahu jika ibu terpeleset dari tangga. Ayah terpaksa meninggalkan pejalan kaki itu karena berpikir keselamatan ibu lebih penting. Setelah sepuluh tahun berlalu, Belakangan ini ayah seringkali mengalami mimpi buruk seolah pejalan kaki itu memintanya untuk bertanggung jawab," jelas Silvia.


Fabian terdiam sejenak, ia lantas berpikir.


"Sepuluh tahun yang lalu tuan Anthony menabrak seseorang. Kenapa kejadiannya begitu mirip dengan apa yang dialami mendiang adik perempuanku? Jangan-jangan, … Tidak! Ini pasti hanya kebetulan," gumamnya.


"Ayah menyuruhku mencari di mana pejalan kaki itu."


"Lantas? Apa kamu sudah menemukannya?" tanya Fabian.


Silvia menggelengkan kepalanya.


"Kamu pikir aku akan membiarkan ayahku masuk penjara jika ternyata pejalan kaki itu benar-benar meninggal dunia? Tentu saja tidak!"


"Maksud kamu apa?"


"Aku begitu menyayangi ayah. Hanya beliau lah satu-satunya yang kumiliki di dunia ini. Demi ayah aku dan Evan membuat sandiwara."


"Sandiwara?"


"Ya. Aku membayar dua orang perempuan. Satu orang berperan sebagai korban tabrakan itu sementara perempuan lainnya berperan sebagai ibunya. Aku meminta mereka membuat pengakuan jika korban tabrakan itu baik-baik saja. Hana satu alasannya. Aku tidak mau ayah dipenjara jika ternyata pejalan kaki itu meninggal dunia."


"Apa rencanamu berhasil?"


"Gagal total. Semua ini gara-gara Evan si ceroboh itu. Entah bagaimana caranya selembar kertas berisi surat perjanjianku dengan kedua perempuan itu bisa jatuh ke tangan ayah. Aku pun dimarahi habis-habisan olehnya," ungkap Silvia.


"Ehm … apa aku boleh tahu siapa nama pejalan kaki yang ditabrak tuan Anthony?" tanya Fabian penuh selidik.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Happy reading…


__ADS_2