Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Ibuku sayang, ibuku malang


__ADS_3

Semenjak kematian pak Prayoga seminggu yang lalu, ibu seringkali mengunci dirinya di dalam kamar. Tak jarang beliau berteriak histeris sambil memaki perempuan bernama Helena, lalu menangis seolah menyesali pernikahannya yang gagal karena Allah memisahkannya dengan kematian. Namun yang menambah beban pikiranku adalah janin yang kini tumbuh di rahim ibu. Ibu berharap dengan menikahi pak Prayoga aibnya akan tertutupi. Tapi, manusia hanyalah perencana. Segala ketentuan adalah hak mutlak Allah. Bagaimana dengan kehamilan ibu? Haruskah aku mencari keberadaan Irwan dan memaksa laki-laki breng*ek itu untuk menikahi ibu?


"Bagaimana keadaan ibu?" tanya kak Darren siang itu saat mengunjungi tempat kost ku.


"Ibu masih sering berteriak histeris. Kadang tertawa lepas dan tiba-tiba menangis."


"Mungkin kita perlu membawa ibu ke psikiater," ucap kak Darren.


"Sebenarnya, ehm, …"


"Ada apa?"


"Ada satu hal dari ibu yang Kakak belum tahu."


"Kenapa dengan ibu?"


"Ehm, ibu-ibu, … hamil."


"Hamil?! Ibu sudah belasan tahun menjadi janda. Bagaimana mungkin ibu bisa hamil?" tanya kak Darren setengah tak percaya.


"Benar, Kak. Saat ini usia kehamilannya memasuki tiga bulan."


"Apa kamu tahu siapa laki-laki yang membuat ibu hamil? Jangan bilang laki-laki itu pak Prayoga."


"Bukan, Kak. Laki-laki itu bernama Irwan."


"Di mana rumah laki-laki itu? Aku mau temui dia."


"Percuma, Kak. Irwan bekerja di luar kota. Beberapa waktu yang lalu aku sempat mendatangi rumahnya dan meminta pertanggungjawabannya. Tapi laki-laki itu menyangkal dan menolak bertanggung jawab. Irwan justru menyalahkan ibu Kenapa bisa sampai kebobolan," ungkapku.


"Di mana rumah laki-laki itu? Aku akan mencarinya sampai ujung dunia sekalipun! Jangan harap dia bisa lolos dariku!"


"Rumah Irwan ada di jalan Flamboyan."


"Aku ke sana sekarang!" 


"Rumahnya pasti kosong. Dia tinggal bersama adik perempuannya yang kebetulan kawanku saat SMA dan bekerja di rumah sakit. Besok saja kita atur pertemuan dengan Mayra dan bicara baik-baik dengannya," ucapku. Kak Darren mengangguk setuju.


"Oh ya. Aku ingin membicarakan tentang 


Fatimah. Kakak masih sayang padanya 'bukan?" Aku sengaja mengalihkan pembicaraan.


Kak Darren terdiam.


"Aku harap Kakak merenungkan kata-kata ku kemarin. Fatimah istri yang baik. Jangan sampai Kakak meninggalkannya hanya demi gadis seperti Widya."


"Widya sebatang kara sekarang. Jika aku meninggalkannya, siapa yang akan melindungi dan menjaganya?"


"Lantas?"


"Mungkin aku akan menikahinya."


"Bagaimana dengan Fatimah dan Anisa?"


"Kamu jangan khawatir. Aku akan membicarakan rencana ini dengan Fatimah."


"Tidak ada seorang pun wanita di dunia ini yang mau dimadu."


"Aku sudah terlanjur nyaman dengan Widya. Apalagi dia telah kehilangan sosok ayah. Tak ada lagi yang menjadi teman ataupun pelindungnya."


Aku tersenyum hambar.

__ADS_1


"Kakak terlalu memikirkan Widya sampai-sampai mengabaikan Fatimah. Aku jamin Fatimah akan memilih berpisah daripada dia harus dimadu."


"Aku tak peduli dengan pendapatmu. Keputusanku untuk menikahi Widya sudah bulat!" tegas kak Darren.


Setelah aku, kini giliran sahabatku Fatimah yang akan merasakan pahitnya diduakan pasangan. Apakah di dunia ini sudah tiada lagi kesetiaan?


*****


"Aku belanja ke pasar dulu, Bu," ucapku pada ibu pagi itu. Aku memutuskan mengajak serta Lyra lantaran khawatir jika harus meninggalkannya bersama ibu di rumah. Emosi ibu yang terkadang tidak stabil yang menjadi alasannya.


Sesampainya di pasar.


Aku baru saja memasuki sebuah kios buah-buahan untuk membeli buah kesukaan ibu, yakni buah jeruk.


"Satu kilo jeruk, Pak," ucapku pada pemilik kios.


Dengan sigap pria paruh baya itu pun memasukkan jeruk ke dalam kantong plastik lalu menimbangnya. Namun, hal tak terduga terjadi. Kantong plastik berwarna hitam itu sobek hingga membuat buah jeruk yang berada di dalamnya terjatuh dan berceceran di atas lantai. Aku yang tengah menggendong bayi berusia delapan bulan tentu saja kesulitan untuk memungutinya. Rupanya salah satu buah jeruk itu terjatuh tepat di kaki seseorang yang baru saja datang ke kios tersebut.


"Ini buah jeruknya, Mbak."


Detik kemudian netra kami bersitatap. Aku cukup kaget memandang wajah begitu kukenali itu.


"Bu Murni?"


"Masya Allah, Mbak Zura?"


"Sudah cukup lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabar Bu Murni sekeluarga?" tanyaku.


"Alhamdulillah, saya dan Bapak sehat. Kabar keluarga Mbak Zura sendiri bagaimana?"


Haruskah aku mengatakan kabar keluargaku yang jauh dari kata baik-baik saja? Ataukah aku harus selamanya berbohong pada mantan tetangga di tempat tinggal lamaku itu?


"Bagaimana kalau kita mengobrol di warung sebelah sana?" tanyanya.


Setelah memasukkan kembali jeruk yang tercecer di atas lantai itu ke dalam plastik, kami pun lantas berjalan beriringan menuju sebuah warung makan yang berada tidak jauh dari kios tersebut.


"Dek Lyra sudah besar ya sekarang. Ibu kangen sama kamu, Nduk." Aku membiarkan saja saat Bu Murni mengambil alih Lyra dari gendonganku. Saat kami masih menjadi tetangga dulu, aku memang seringkali menitipkan putri kecilku itu pada beliau di saat aku kerepotan mengerjakan pekerjaan rumah.


"Usia Lyra sudah hampir sembilan bulan, Bu."


"Oh ya. Bagaimana kabar bu Kinanti? Beliau sehat-sehat saja 'kan?"


Entah mengapa pertanyaan itu membuat batinku terasa begitu perih. Aku tidak pernah tahu lagi kabar mantan ibu mertuaku itu apalagi setelah aku dan Fabian resmi bercerai.


"Mbak Zura kenapa? Apa saya salah bicara?" 


Bu Murni terlihat kebingungan saat mendapati raut wajahku yang mendadak berubah sedih. Mungkin ini saatnya aku mengungkapkan apa yang selama ini kupendam dan tidak pernah diketahui mantan tetanggaku yang sudah kuanggap layaknya saudara itu.


"Sudah cukup lama saya tidak bertemu ibu Kinanti."


Bu Murni mengerutkan keningnya.


"Mbak Zura pasti bercanda. Kalian 'kan tinggal serumah. Mana mungkin Mbak Zura tidak pernah bertemu bu Kinanti," ucapnya.


Aku membuang nafas sebelum mulai mengungkap cerita yang bisa dibilang pahit ini.


"Sebenarnya saya dan mas Fabian sudah resmi berpisah. Ibu Kinanti juga tidak tinggal bersama saya," ucapku.


"Berpisah?"


"Ya, Bu. Mungkin Ibu tidak tahu jika rumah tangga kami sudah goyah sejak lama. Bahkan setelah rumah kami terbakar itu saya sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan mas Fabian."

__ADS_1


"Saya lihat rumah tangga Mbak Zura dan mas Fabian baik-baik saja, bahkan terbilang harmonis. Kenapa tiba-tiba Mbak Zura memutuskan berpisah dengan mas Fabian?"


"Apa Ibu masih ingat perempuan yang bernama Melly?" tanyaku.


Bu Murni terlihat berusaha mengingat seseorang.


"Apa Melly yang Mbak maksud itu Melly yang pernah saya temui di rumah sakit saat Bu Kinanti dirawat? Dia adiknya mas Fabian 'bukan?"


Aku menggeleng pelan.


"Sebenarnya dia bukan adik ipar saya, Bu."


"Lantas?"


"Namanya Karmila. Dia adalah istri muda mas Fabian."


"Apa?! Istri muda?"


"Benar, Bu. Mas Fabian menikah lagi tanpa sepengetahuan saya. Dan saat rahasia itu terbongkar, saya memilih untuk pergi. Bagi saya pengkhianatan adalah satu-satunya hal yang tidak dapat saya maafkan."


"Astaghfirullahaldzim. Saya tidak menyangka mas Fabian yang kelihatannya baik dan alim itu ternyata begitu tega menyakiti perempuan sebaik Mbak Zura."


"Saya mencoba ikhlas, Bu. Mungkin jodoh kami hanya sampai di sini."


"Jadi, sekarang Mbak Zura tinggal di mana?"


"Saya dan ibu kandung saya kini tinggal di tempat kost tidak jauh dari kawasan industri tekstil."


"Tunggu. Mbak Zura tadi menyebut ibu kandung. Apakah ibu kandung Mbak Zura masih hidup?"


"Benar, Bu. Belasan tahun lalu ibu saya memang pernah pergi. Tapi Allah kembali mempertemukan kami."


"Syukurlah, saya ikut senang. Mbak Zura kembali dipertemukan dengan keluarga."


"Alhamdulillah, Bu. Saya senang kembali dipertemukan dengan ibu saya walaupun kini ibu saya juga tengah menghadapi masalah yang cukup berat."


"Kalau boleh saya tahu, masalah apa, Mbak?"


"Ibu saya gagal menikah lantaran calon suaminya meninggal beberapa hari yang lalu akibat kecelakaan."


"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un."


"Seperti jiwa ibu saya begitu terguncang. Beliau sering berteriak, tertawa dan menangis tidak jelas."


"Begitu banyak cobaan yang Allah berikan pada Mbak Zura. Tapi saya yakin Mbak Zura mampu melewatinya. Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan," ujarnya. Kutanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.


Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba terdengar suara benda bertabrakan dari arah jalan yang berada di depan pasar.


"Ada apa, Pak?" tanya pemilik warung pada seorang pengunjung pasar.


"Ada tabrakan, Pak. Mobil dengan sepeda motor. Pengendara sepeda motornya tewas di tempat.


"Laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki. Dari KTP nya namanya Irwan."


Astaghfirullahaldzim. Irwan? Apakah dia Irwan kakaknya Khumayra? Jika Irwan meninggal, bagaimana dengan nasib ibu dan bayi yang berada di dalam kandungannya?


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…


__ADS_2