
"I-i-iya, Bu. Saya di sini untuk membantu merawat bibi Kinanti," jawab Mila.
Lelucon macam apa ini? Tiba-tiba Mila mengaku sebagai keponakan ibu mertuaku.
"Syukurlah. Kalau Mbak Melly di sini bisa sedikit membantu pekerjaan mbak Zura," ujar bu Murni. Kutanggapi ucapan bu Murni dengan senyum simpul di bibir.
"Maaf, saya permisi dulu. Masih ada pekerjaan rumah yang belum saya selesaikan," ucap bu Murni.
"Terima kasih, Bu," ucapku.
"Sama-sama, Mbak. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
"Kita perlu bicara," ucapku pada Mila.
"Kalau Mbak mau ngomong, ngomong aja di sini."
"Kita bicara di ruang tamu."
"Oek…oek…"
Tiba-tiba Lyra yang berada di gendonganku menangis. Dia pasti kehausan.
"Aku susui Lyra dulu di kamar," ucapku sembari berjalan menuju kamar.
Setelah kenyang menyusu, putri kecilku itu tertidur. Aku beranjak dari kamar dan menuju ruang tamu.
"Di mana mas Fabian?" tanyaku.
"Lagi nyuci mobil di depan," jawab Mila. Matanya tak sekalipun beralih dari layar ponselnya.
"Kenapa kamu bohong?" tanyaku.
__ADS_1
Mila tak menanggapi ucapanku. Dia justru tertawa cekikikan sembari terus memainkan ponselnya. Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu apa yang ia tertawakan.
"Aku bicara denganmu!"
Sengaja kutinggikan suaraku agar mas Fabian juga mendengarnya. Benar saja, pria yang yang sudah sepuluh tahun menjadi imamku itu meninggalkan pekerjaannya dan masuk ke dalam ruang tamu.
"Ada apa ini? Suaramu terdengar sampai keluar," ucapnya.
"Aku ingin bicara dengan kalian berdua," ucapku.
"Bicara apa?"
"Kalian sudah berbohong pada bu Murni, dan bohong padaku."
"Bohong apa?" Mas Fabian mengerutkan keningnya.
Kutatap tajam mata Mila. "Melly itu sebenarnya kamu kan?" tanyaku.
"Ya," jawabnya tanpa basa-basi.
"Seharusnya kamu paham. Kami berbohong demi nama baik keluarga kita."
"Nama baik keluarga? Kamu sendiri yang telah mencorengnya, Mas," gumamku.
Aku menghela nafas berat sebelum kalimat ini meluncur dari bibirku.
"Apa sebenarnya hubungan kalian? Apa kalian sudah menikah?" tanyaku sembari menatap wajah mas Fabian dan Karmila secara bergantian.
Suasana hening sejenak. Kulihat mas Fabian tiba-tiba menundukkan wajahnya.
"Kenapa kalian diam saja?" tanyaku.
"Aku sudah lelah selalu menutupi hubungan kami. Benar, kami sudah menikah siri sebulan yang lalu," jawab Karmila.
__ADS_1
Kurasakan tubuhku tiba-tiba gemetar, dadaku pun bergemuruh hebat. Apa yang kutakutkan selama ini ternyata benar terjadi. Fabian Yusuf, pria yang kuanggap paling tampan di mataku ternyata mengkhianati ikrar suci pernikahan kami. Bahkan dia melakukannya secara diam-diam tanpa izin dan sepengetahuanku.
Aku tak bisa membendung lagi buliran bening yang tiba-tiba mengalir deras dari sudut mataku. Siapapun yang berada di posisiku sekarang, munafik jika berkata dirinya baik-baik saja. Hatiku kini hancur, remuk redam.
"Apa benar yang dikatakan Karmila, Mas?" tanyaku pada mas Fabian. Wajahnya masih saja tertunduk.
Aku berharap mas Fabian menggelengkan kepalanya dan menyangkal pengakuan Mila. Namun, rupanya dia juga tak ingin berlama-lama lagi menutupi pernikahan sirinya dengan Karmila.
"Benar, Dek. Kami sudah menikah secara siri satu bulan yang lalu di rumah Mila."
"Plak!"
Pertama kali dalam hidup, aku melayangkan tamparan di wajah mas Fabian. Kuakui tamparan itu cukup keras, namun tetap saja tak sebanding dengan hancurnya perasaan ini.
"Mbak Zura kok kasar gitu sih sama suami. Apa Mbak Zura gak takut dosa?" protes Mila.
"Diam kamu! Wanita perebut suami orang!" teriakku.
"Mbak jangan menuduh sembarangan. Aku nggak pernah menggoda mas Fabian. Kami menikah karena amanat dari almarhum suamiku," bantah Mila.
"Kenapa Mas setega itu? Mas tahu 'kan? Aku tidak mengijinkan Mas menikah lagi. Tapi kenapa Mas justru menikahi Mila secara diam-diam?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Mas minta maaf, Dek. Mas harus secepatnya menikahi Karmila karena, …"
"Karena apa, Mas?" tanyaku penuh selidik.
Bersambung….
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
🙏🙏