Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Urusanku bukan urusanmu!


__ADS_3

"Jangan bicara yang tidak-tidak," ucapku.


"Aku mengenal betul sifat Gibran. Dari caranya menatapmu, aku yakin dia menyimpan rasa," ujar Keenan.


"Gibran itu anak band. Sudah pesti seleranya gadis-gadis muda dan seksi," tukasku.


Keenan tersenyum tipis.


"Seorang laki-laki memilih wanita yang mau diajak bersenang-senang saja ketika ia mencari pacar. Tapi, ia akan mencari perempuan baik-baik untuk dijadikan pendamping hidupnya."


"Untuk saat ini aku tidak berpikir sedikit pun untuk mencari pendamping. Aku hanya ingin fokus membesarkan dan merawat Lyra, itu saja," ujarku.


"Aku hanya mengatakan apa yang kuketahui. Maaf, jika ucapanku menyinggung perasaanmu."


"Sama sekali tidak."


Tiba-tiba mataku tertuju pada kaca spion di bagian depan mobil. Meski dari jarak yang tidak begitu dekat, aku mengenal betul pengendara sepeda motor itu. 


"Fabian? Mau kemana dia sepagi ini?" gumamku.


"Kenapa?" tanya Keenan. Kini dia tak lagi memanggilku dengan sebutan "mbak".


"Ehm, tidak apa."


Sekitar lima belas menit kemudian kami tiba di tempat kost ku. Aku pun lantas meminta Keenan menepikan mobilnya.


"Terima kasih," ucapku sesaat setelah pintu mobil mewah itu tertutup secara otomatis.


"Oh ya, apa aku bisa minta tolong?" tanya Keenan.


"Minta tolong apa?"


"Aku ingin bertemu pemilik tempat kost ini. Bagaimana pun Gibran harus bertanggung jawab karena telah membuat pagar besi ini rusak." Keenan mengacungkan jari telunjuknya ke arah pintu gerbang yang nyaris tak berbentuk itu lantaran semalam tertabrak mobil Gibran.


"Baik. Nanti aku akan menemui cik Leny dan memintanya datang ke sini," ucapku.


Keenan mengangguk paham.


"Aku pergi dulu. Dadah, Lyra," ucap Keenan yang dibalas putri kecilku dengan lambaian tangannya.


"Dadah, A-yah."


"Bukan ayah, Sayang. Pa-man Kee-nan," ralatku.


"Nan … Nan …"


"Ya, itu lebih baik," gumamku.


"Sampai ketemu lagi, Sayang. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Mobil itu pun lantas berlalu dari hadapanku.


Suara klakson sedikit mengagetkanku. Aku yang baru saja melangkah memasuki halaman tempat kost yang hampir setahun kutempati itu pun sontak menoleh ke arah belakang.


"Fabian?"


Pria yang pernah menjadi suamiku itu pun lantas menepikan sepeda motornya lalu menghampiriku.


"Dari mana kamu, dan siapa pria itu?" tanyanya.


"Aku-aku, …"


"Ini masih pagi. Memangnya semalam kamu tidur di mana? Jangan-jangan kamu menginap di rumah pria itu."


"Ya. Aku memang menginap di rumahnya. Tapi itu pun ada alasannya."


"Apa penghasilanmu dari menjahit tidak cukup, hingga kamu mencari pekerjaan sampingan dengan menjadi wanita panggilan?"


"Jaga ucapanmu! Aku tidak serendah yang kamu pikirkan!" bentakku.


"Pagi-pagi begini, seorang wanita pulang ke rumahnya diantar pria. Apalagi yang dilakukannya kalau bukan menjual diri."


"Plak!" Sebuah tamparan yang begitu keras baru saja mendarat di pipi pria yang pernah begitu kucintai itu.


"Meskipun aku seorang janda, aku masih punya moral!" tegasku.


"Jadi, kenapa kamu bisa pulang bersamanya?"


"Aku-aku, …"


"Bu Azzura!" pekiknya seraya menghambur ke dalam pelukanku.


"Fina."


"Aku khawatir sekali pada Ibu dan Lyra. Kenapa semalaman Ibu tidak pulang?" tanya Fina. Aku bisa menangkap kekhawatiran di sorot matanya.


"Saat aku berjalan kaki menuju klinik, aku bertemu seseorang yang berniat jahat padaku. Setelah bersitegang akhirnya aku berhasil lolos dari pria itu. Aku terus berlari sampai di klinik. Namun ternyata klinik itu tutup. Aku yang sudah kehabisan tenaga karena terlalu lama berlari akhirnya tak sadarkan diri. Aku tak ingat apapun lagi hingga saat aku sadar, aku sudah berada di rumah Keenan."


"Mas Keenan? Apa maksud Ibu Mas Keenan yang semalam datang ke rumah kita?"


"Oh, jadi pria itu yang menjemputmu kemari?" tanya Keenan ketus.


"Bukan begitu, Pak. Semalam mas Keenan memang datang ke tempat ini tapi bukan untuk menjemput bu Zura." Fina menimpali.


"Lantas, mau apa pria itu datang kemari?"


"Bu Zura menghubungi mas Keenan karena saudaranya mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak pagar besi itu." Fina mengacungkan jari telunjuknya ke arah pintu gerbang.


"Maaf, aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak," ucap Fabian dengan wajah tertunduk malu.


"Kita sudah hidup masing-masing. Aku harap kamu tidak perlu tahu ataupun ikut campur urusan pribadiku," ucapku.

__ADS_1


"Aku-aku hanya tidak suka jika kamu dekat dengan pria lain."


"Aku ini bukan istrimu lagi. Kamu tidak punya hak untuk melarangku dekat dengan pria manapun!"


"Zura … aku menyesal sudah menyakitimu. Ternyata aku tidak bisa menggantikanmu dengan perempuan manapun. Aku ingin kita, …"


"Fina, mari kita masuk." Aku menggandeng tangan Fina lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Zura! Tunggu! Aku minta maaf!" teriak Fabian. Namun aku tak menghiraukannya. Aku justru meminta Fina menutup pintu lalu menguncinya. Beberapa saat kemudian kudengar deru sepeda motor yang menandakan jika dia sudah meninggalkan tempat kost ku.


"Pak Fabian bersikap begitu karena cemburu pada Ibu. Dia tidak suka Ibu dekat dengan pria lain. Sepertinya pak Fabian masih mencintai Ibu," ucap Fina.


"Aku memang pernah begitu dalam mencintainya, namun rasa itu perlahan berkurang saat dia lebih memilih cinta barunya. Hingga akhirnya rasa itu benar-benar hilang," ujarku.


"Apa Ibu membenci pak Fabian?" tanya Fina.


Aku menggeleng pelan.


"Tidak ada gunanya aku membencinya. Bagaimana pun dia adalah ayah kandungnya Lyra. Aku juga tidak akan pernah sekalipun mengajari Lyra untuk membenci ayahnya."


"Aku heran, kenapa pak Fabian bisa berpaling dari istri sebaik Ibu."


"Mungkin jalan jodoh kami memang sudah usai. Namun, di balik semua yang telah kualami, aku yakin jika Allah lah sebaik-baik perencana."


"Ibu perempuan baik, suatu saat nanti Allah akan memberikan pendamping pengganti yang lebih baik dari pak Fabian," ujar Fina.


"Aku pasrahkan semua pada Allah. Jika memang aku ditakdirkan hanya menikah sekali seumur hidup, aku akan menerimanya dengan ikhlas. Pun jika Allah menghadirkan cinta lagi di hatiku, aku akan lebih berhati-hati sebab aku tak ingin gagal untuk ke dua kalinya."


Tiba-tiba kudengar suara khas dari perut gadis yang sudah kuanggap layaknya anak sendiri itu.


"Ayo bantu aku memasak di dapur," ucapku.


Fina mengangguk setuju. Kami pun lantas beranjak dari ruang tamu dan berjalan menuju dapur.


"Ngomong-ngomong, Ibu cocok dengan mas Keenan," ucap Fina di sela kegiatannya mengiris sayuran.


"Cocok bagaimana?" Aku yang tengah menghaluskan bumbu memandangnya penuh tanya.


"Kalian sama-sama baik dan berhati lembut. Cocok sekali menjadi pasangan."


Tiba-tiba saja aku teringat wajah Gibran. Meski sikapnya sedikit kasar, aku yakin sebenarnya hatinya baik.


Ah! Kenapa aku jadi mikirin dia?


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2