
"Aku melihat suami Mbak Zura bersama, …"
"Sudah. Jika Ibu mengajak mbak Zura mengobrol terus, Ibu bisa terlambat menghadiri akad nikah keponakan Ibu," ucap pak Burhan.
"Ya sudah. Tapi setelah mengantar ibu Kinanti ke rumah sakit, Bapak harus segera menyusul ibu ke sana," ucap Bu Arum. Dia pun lantas meninggalkan halaman rumahnya.
"Mari, Mbak. Kita jemput ibu Kinanti," ucap pak Burhan sembari membuka pintu depan mobilnya. Kami pun lantas menuju rumahku.
"Saya titip Lyra ya, Bu. Ini susu untuknya." Aku memberikan sebuah botol berisi air susu yang baru saja kuperah pada bu Murni. Hanya beliau lah yang saat ini bisa kumintai tolong.
Usia Lyra baru dia bulan, pantang bagiku memberikan susu formula untuknya.
"Baik, Mbak. Semoga ibu Kinanti baik-baik saja."
"Aamin. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati Pak," ucap bu Murni pada pak Burhan sesaat sebelum menghidupkan mesin mobilnya.
Sekitar dua puluh menit kemudian kami tiba di rumah sakit.
"Kalau Bapak mau ke tempat undangan tidak apa," ucapku setelah perawat membawa ibu ke dalam ruang periksa.
"Saya tidak akan pergi dengan tenang sebelum tahu bagaimana keadaan ibu Kinanti," ujar pak Burhan.
Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka. Tampak seorang dokter keluar dari dalam sana. Kami pun bergegas menghampirinya.
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dokter?" tanyaku.
"Maaf jika saya harus menyampaikan kabar kurang baik ini."
"Kabar kurang baik apa, Dokter?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Pasien mengalami patah tulang yang cukup parah di bagian punggungnya dan harus secepatnya menjalani operasi," jelas dokter.
"Op-op-operasi?"
Tiba-tiba tubuhku terasa lemas, bahkan nyaris kehilangan tenaga. Jika pak Burhan tidak sigap menopangku, mungkin tubuhku sudah luruh di lantai.
"Apakah sakit ibu saya separah itu, Dokter? Sampai harus dioperasi?"
"Benar, Bu. Jika dibiarkan saja justru akan berbahaya untuk ke depannya," jelas dokter.
"Jika boleh saya tahu, berapa biaya operasi itu?"
"Sekitar sepuluh juta rupiah."
"Baik, Dokter. Saya akan segera menghubungi suami saya."
"Jika sudah membayar biaya administrasi, Ibu segera hubungi saya agar pasien lekas mendapat tindakan," ucap dokter.
Lekas kucari ponselku di dalam tasku namun aku tidak menemukannya.
Astaghfirullah! Aku baru ingat, ponselku tadi kehabisan daya.
"Maaf, Pak. Sekali lagi merepotkan. Apa saya boleh meminjam ponsel Bapak untuk menghubungi mas Fabian? Ponsel saya tertinggal di rumah," ucapku.
Pak Burhan pun lantas meraba saku belakang celananya.
"Waduh!"
"Kenapa, Pak?"
"Tadi kita buru-buru. Saya lupa tidak membawa ponsel saya."
__ADS_1
"Ya Allah, bagaimana ini?" gumamku.
"Mbak Zura hafal nomor ponsel nak Bian
'kan? Mbak Zura pinjam telepon di bagian administrasi saja," ucap pak Burhan.
Karena terlalu panik, aku tidak bisa berpikir jernih. Tentu saja aku hafal betul dua belas digit angka itu. Sejak kami kenal hingga saat ini mas Fabian tak pernah sekalipun mengganti nomor ponselnya.
"Saya ke bagian administrasi dulu, Pak," ucapku sembari berlalu dari hadapan pak Burhan. Akupun lalu berjalan menuju ruang administrasi.
"Permisi, Bu. Apa saya boleh meminjam telepon nya? Saya harus segera menghubungi suami saya," ucapku pada petugas yang berjaga di bagian administrasi.
"Silahkan."
Aku pun bergegas menekan tombol angka di telepon meja itu. Semoga mas Fabian tidak sibuk lagi dan bisa segera datang ke rumah sakit.
Aku menunggu beberapa saat hingga akhirnya mas Fabian menjawab panggilanku.
[Assalamu'alaikum, Mas]
[Maaf, ini siapa?]
Astaghfirullah! Ini bukan suara mas Fabian tapi suara perempuan.
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
🙏🙏