
Bismillah, hari ini adalah hari pertamaku mulai membuka usaha jasa menjahit. Letak tempat kost yang berada di pinggir jalan cukup memudahkan warga sekitar untuk mengetahui usahaku ini. Keberadaan ibu juga sangat membantuku mengurus putri semata wayangku, Lyra.
Pelanggan pertamaku adalah cik Leni, pemilik tempat kost. Beliau memintaku mengecilkan gaun pesta yang diberikan oleh salah satu keponakannya saat hari besar agamanya.
"Gaun ini belum pernah kupakai karena terlalu besar. Sementara di daerah sini belum ada tukang jahit. Mbak Zura pintar sekali melihat peluang. Saya yakin 100% persen usaha ini pasti laku keras," ucap perempuan berkulit putih itu.
"Saya membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidup. Awalnya saya sempat berniat melamar pekerjaan di pabrik tekstil. Tapi atas saran ibu saya, saya pun akhirnya memutuskan untuk membuka usaha ini," ungkapku.
"Begitu, rupanya. Jahitan Mbak Zura tapi sekali. Saya akan bantu promosi pada teman-teman saya agar menjahit baju mereka di sini," ucap cik Leni sembari mengamati gaun miliknya yang baru selesai kujahit.
"Terima kasih, Cik."
"Oh ya. Berapa ongkos menjahitnya?"
"Tidak usah, Cik. Cik adalah pelanggan pertama saya. Saya gratiskan ongkos jahitnya."
"Jangan begitu. Mbak 'kan buka usaha juga untuk mencari uang. Saya tidak enak hati kalau Mbak menolak saya beri upah."
Aku tersenyum.
"Tidak apa, Cik. Anggap saja itu bagian dari promosi."
"Ya sudah kalau begitu. Saya do'akan semoga usahanya laris."
"Terima kasih, Cik."
Tiba-tiba pandangan perempuan paruh baya itu tertuju ke bagian dalam kamar kost ku.
"Lho, itu siapa?" tanyanya saat melihat ibuku yang tengah membersihkan bagian dalam rumah.
"Maaf, Cik. Saya belum sempat melapor jika sekarang saya tinggal bersama ibu saya," ucapku.
"Oh, ibunya. Tidak masalah kok. Yang penting yang tinggal di tempat ini sama-sama perempuan. Saya minta fotokopi KTP nya saja."
"Baik, Cik. Besok saya antar fotokopian nya ke rumah Cik."
"Saya permisi dulu, terima kasih untuk jahitannya."
Aku menganggukkan kepalaku, lantas tersenyum. Tidak berselang lama ia pun meninggalkan tempat kost.
****
"Agar lebih menarik lebih banyak pelanggan, bagaimana kalau Mbak Zura beri nama tempat usaha Mbak ini?" usul Rahma pada saat dia mendatangiku untuk memperbaiki resleting tas nya yang rusak.
"Memang itu penting ya?" tanyaku.
"Tentu saja penting, Mbak. Jika perlu aku juga akan membantu promosi lewat sosial."
"Tidak usah, Ma. Nanti kalau aku kebanjiran order gimana? Tanganku hanya dua, mesin jahitnya juga hanya satu."
"Kalau usaha Mbak ramai, aku pindah kerja di sini saja deh. Asalkan gajinya lebih besar dari gaji pabrik," kelakarnya.
"Kamu bisa saja. Oh ya, dari kemarin aku nggak melihat mbak Salma. Dia sehat-sehat saja 'kan?"
"Alhamdulillah, sehat Mbak. Usia kandungannya sudah mendekati persalinan. Dia bilang malas ngapa-ngapain," jelas Rahma.
"Seharusnya mendekati persalinan, perempuan hamil lebih banyak bergerak agar aliran darah lancar. Insyaallah proses persalinan akan mudah," ujarku.
"Ya, nanti aku sampaikan pada mbak Salma. Sepertinya sekarang mbak Salma sedang tidur," ucap Rahma. "Oh ya, gimana usulku tadi?" tanyanya kemudian.
"Usul yang mana?"
"Itu, soal nama usaha."
__ADS_1
"Menurut kamu, nama apa yang cocok untuk usaha ini?"
"Ehm, bagaimana dengan Azzura Taylor? Dari namanya sudah menjual loh Mbak.
"Ehm, begitu ya?"
"Kalau Mbak mau, besok aku minta kawanku untuk buatin. Kebetulan dia punya usaha percetakan."
"Nggak mahal 'kan, Ma?"
"Nggak kok Mbak. Tenang saja."
"Ya sudah, terserah kamu. Aku ikut."
"Oh ya. Di mana Lyra?"
"Lagi tidur."
"Kangen pingin main."
"Nanti saja kalau sudah bangun."
"Nanti aku masuk kerja, Mbak. Sekarang saja ya."
"Anak kecil kalau lagi tidur terus dibangunin nanti rewel."
"Gak apa-apa, aku bisa gendong kok."
"Kamu ngeyel banget kalau dikasih tahu," gerutuku sebal. Namun gadis itu justru terkekeh.
"Ya sudah, aku keluar dulu membeli makan."
"Ngak usah beli," ucapku.
"Kebetulan hari ibu memasak soto cukup banyak. Kalau kamu mau, ambil saja di dapur."
"Beneran?"
"Ya bener lah, masa bohong."
"Ya sudah, lumayan gratisan. Hehehe."
"Ambilin buat mbak Salma juga."
"Aku ambil piring dulu."
Rahma berlalu dari hadapanku, kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Begitulah hubunganku dengan Rahma. Meski bukan saudara ataupun kerabat, kami cukup akrab. Terlalu akrab mungkin Aku seringkali berbagi dengannya. Sebaliknya, saat ada masalah, dia juga tidak sungkan berbagi denganku.
Seperti sore itu saat dia baru saja pulang dari tempatnya bekerja. Wajahnya terlihat begitu murung. Aku yang penasaran pun menegurnya.
"Kamu kenapa, Ma? Pulang kerja kok wajah kusut begitu kaya setrikaan."
"Aku-aku… hu hu hu…"
"Loh. Kok malah nangis? Sini masuk dulu ke rumahku." Aku menggandeng tangan Rahma lalu mengajaknya ke dalam rumahku.
"Kamu Kenapa?"
"Aku-aku diputusin pacarku."
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."
__ADS_1
"Dia nggak mati, Mbak," protesnya.
"Apa yang kamu alami adalah suatu musibah juga. Bukan kah saat kita mendapat musibah, sebaiknya mengucapkan kalimat itu?"
"Bener juga sih. Tapi hu…hu…hu…"
"Jangan nangis terus. Apa nggak malu dilihatin Lyra?" ucapku. Saat itu Lyra berada di gendonganku.
Aku memberikn selembar tissue untuk Rahma. Dia pun lantas menyeka air matanya.
"Kalau sudah nangis nya, cerita pelan-pelan," ucapku.
"Bayu jahat banget sama aku. Hu…hu…hu…"
"Jahat kenapa? Dia mukul kamu atau gimana?"
"Bayu mutusin aku tanpa alasan yang jelas. Padahal kurang baik aku selama ini? Aku sering pinjamin uang ke dia. Aku tidak masalah dia nggak pernah balikin. Tapi, tiba-tiba saja dia kirim pesan minta putus. Hu…hu…hu…"
"Dari ceritamu saja dia bukan laki-laki yang baik. Kenapa kamu harus kecewa dan berkecil hati hanya karena diputuskan olehnya?"
"Tapi, Mbak. Aku mencintai Bayu," ucap Rahma.
"Percayalah, Allah tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Lebih Allah menunjukkan keburukan Bayu sekarang sebelum kalian memiliki hubungan yang lebih serius. Bagaimana jika Allah menunjukkan keburukannya setelah kalian menikah?" ucapku.
Ah! Bisa-bisanya aku memberi nasehat pada orang lain, tapi aku sendiri mengalami hal itu. Fabian yang kupikir pria sempurna itu ternyata… sudahlah. Aku tidak mau lagi memikirkannya.
"Apa aku bisa melupakan Bayu, Mbak?" tanya Rahma.
"Bisa, pasti bisa. Kamu perempuan yang baik. Allah pasti sudah mempersiapkan laki-laki yang baik pula untukmu."
Kulihat tangis Rahma sudah mulai reda. Sorot matanya yang tadi dipehuhi kesedihan, kini terlihat berbinar.
"Terima kasih, Mbak. Sudah mau mendengar keluh kesahku. Sekarang perasaanku sedikit lebih lega," ucap Rahma.
"Syukurlah. Sekarang kamu pulang dan istirahat."
"Terima kasih, Mbak. Aku pulang sekarang. Assalamu'alaikum."
"Oh, jadi kamu lebih memilih berbagi kesedihan dengan orang lain dibandingkan dengan saudara sendiri?"
Aku cukup terkejut saat mendapati mbak Salma tiba-tiba berdiri di tengah pintu.
"Mbak Salma jangan salah paham dulu.
Aku hanya tidak ingin menambah beban pikiran Mbak," ucap Rahma.
"Alah. Bilang saja kamu lebih percaya pada orang lain dibandingkan saudara sendiri."
"Aku tahu Mbak Salma masih berduka karena kehilangan mas Roni. Aku hanya tidak ingin menambah beban pikiran Mbak," ucap Rahma.
"Ya sudah kalau kamu memang tidak menganggapku saudara. Lebih baik aku pergi. Untuk apa kita tinggal bersama jika kamu tidak pernah menganggapku ada?"
Mbak Salma yang sudah kesulitan berjalan lantaran perutnya yang semakin membesar itu beranjak dari ruang tamu. Namun, suasana berubah panik saat tiba-tiba ia mengaduh kesakitan sembari memegangi perutnya.
"Aduh! Perutku!" pekiknya.
"Mbak Salma kenapa?" tanyaku.
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰