
Hari ini aku memutuskan untuk mengunjungi rumah Fatimah yang tak lain adalah istri kakak kandungku, kak Darren. Aku sengaja datang siang hari ketika kak Darren berada di luar rumah untuk bekerja.
"Kamu datang kok nggak kasih kabar dulu sih Ra? Aku kan bisa masak atau buatin cemilan buat kamu," ucap Fatimah sesaat setelah aku memasuki ruang tamu.
"Aku datang ke sini karena kangen dengan Anisa, bukan untuk meminta makanan ataupun camilan."
"Tetap aja aku nggak enak. Tadi pagi aku hanya masak sedikit."
"Sudah, tidak usah bahas makanan lagi. Di mana Anisa?"
"Baru saja kenyang menyusu, terus tidur. Anisa kalau malam begadang, kalau siang tidur."
Aku tersenyum.
"Lyra juga dulu begitu. Tapi, jika kita ikhlas menjalankannya, insyaallah lelah kita akan menjadi berkah," ujarku.
"Aamiin."
"Oh ya. Bagaimana dengan kak Darren? Apa dia masih bersikap acuh pada Anisa?" tanyaku.
"Begitulah, Ra. Mas Darren sama sekali tidak peduli pada Anisa. Dia tidak pernah mau membantuku mengurusnya. Kalau malam aku juga begadang sendirian. Lihat nih, mataku seperti mata panda."
"Kamu jangan putus berdoa, memohon lah pada Allah agar suamimu dibukakan mata hatinya. Dia mau menerima dan menyayangi Anisa dengan sepenuh hati layaknya ayah yang mengasihi anaknya," ucapku. Fatimah mengangguk paham.
"Duduk dulu, Ra. Aku buatkan minum," ucap Fatimah.
"Nggak usah repot-repot. Kaya sama siapa aja."
"Cuma air kok, sudah ada."
Fatimah beranjak dari ruang tamu dan berjalan ke arah dapur. Tidak berselang lama dia kembali dengan membawa secangkir teh hangat beserta tatakannya.
"Oh ya. Bagaimana keadaan ibumu?" tanyanya sembari duduk persis di sebelahku.
"Ibu masih sering kesakitan di bagian kepalanya, terutama jika beliau memikirkan sesuatu yang cukup berat."
"Jadi, ibumu sendirian ya di rumah sakit?" tanya Fatimah.
"Ada seseorang yang jagain ibu."
"Siapa?"
"Namanya mbok Sumi."
"Mbok Sumi siapa Ra?"
Aku membuang nafas sebelum bercerita pada kawan lamaku yang kini telah menjadi kakak iparku itu.
"Begini. Siang kemarin saat aku mendatangi rumah sakit, aku melihat adal seorang laki-laki di kamar perawatan ibu. Dia tengah menyuapi ibu makan siang."
"Siapa laki-laki itu, Ra?" tanya Fatimah penasaran.
"Namanya pak Prayoga, beliau mengaku sebagai teman laki-laki ibu."
__ADS_1
"Maksud kamu, pak Prayoga itu pacar ibumu?"
"Bisa dibilang begitu. Hubungan mereka sudah cukup lama, bahkan pak Prayoga berencana melamar ibu dalam waktu dekat. Karena kejadian ini pak Prayoga terpaksa menundanya."
"Terus, apa hubungan mbok Sumi dengan pak Prayoga? Kenapa dia yang jagain ibu kamu di rumah sakit?"
"Mbok Sumi adalah salah satu kawan pak Prayoga. Dulunya beliau adalah penjahit. Namun terpaksa berhenti lantaran penglihatannya mulai bermasalah. Sejak saat itu beliau menerima pekerjaan apapun termasuk saat pak Prayoga membayar beliau untuk menjaga ibu di rumah sakit. Pak Prayoga juga yang akan menanggung semua biaya pengobatan ibu."
"Masyaallah, udah baik, banyak duit lagi. Aku jadi penasaran pingin lihat wajahnya," ujar Fatimah.
"Jangan deh. Nanti kamu naksir," kelakarku.
"Memangnya pak Prayoga ganteng ya, Ra?"
"Sudah pasti ganteng. Dia kan laki-laki juga," ucapku yang sontak membuat Fatimah mendengus kesal.
"Aku tidak keberatan jika memang pak Prayoga dan ibu menikah. Sepertinya dia pria yang tulus dan… setia."
"Setia nggak seperti suami kamu," ucap Fatimah.
"Oek…oek…"
Fatimah lekas beranjak dari tempat duduknya saat tiba-tiba terdengar suara tangisan Anisa dari dalam kamar.
"Tunggu sebentar, Anisa bangun."
Aku pun beranjak dari tempat dudukku lalu berjalan menuju kamarnya.
"Aduh!"
"Popok Anisa habis."
"Lantas?"
"Kamu tunggu di sini. Aku ke supermarket dulu membeli popok. Supermarket nya tidak jauh kok."
"Kamu yakin mau ajak Anisa yang baru berumur satu Minggu keluar rumah siang bolong begini?"
"Memangnya kenapa?"
"Kamu di rumah saja. Biar aku yang pergi ke supermarket."
"Tapi, Ra, …"
"Nggak apa-apa. Kasihan Anisa kalau kena udara panas," ucapku.
"Maaf ya, Ra. Merepotkan. Kamu tahu kan letak supermarket nya?" tanya Fatimah sembari memberikan selembar uang pecahan seratus ribu padaku.
"Tahu kok. Apalagi keperluan Anisa yang habis? Biar sekalian aku beliin."
"Ehm… oiya. Sekalian minyak telon."
"Aku pergi dulu."
__ADS_1
"Hati-hati."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Letak supermarket dari rumah Fatimah sekitar 2 kilo meter. Hanya dalam waktu beberapa menit saja angkutan kota yang kutumpangi tiba di supermarket tersebut. Dari tempat dudukku aku bisa melihat antrean yang mengular di bagian kasir. Aku berpikir jika berbelanja di sini pasti akan membutuhkan waktu yang begitu lama. Akhirnya aku memutuskan untuk berbelanja di toko lain.
"Kenapa nggak jadi turun, Bu?" tanya pengemudi taksi yang mendapati aku tidak beranjak dari bangku penumpang.
"Antreannya panjang. Kita ke toko lain saja, Pak," ucapku.
"Baik, Bu."
Jarak supermarket yang ke dua tidak begitu jauh dari supermarket yang pertama. Hanya sekitar lima menit perjalanan. Supermarket ini lebih besar dari supermarket tadi. Aku harus naik lift untuk sampai ke toko perlengkapan bayi.
Aku baru tahu jika di lantai dua supermarket itu ada apotek juga. Saat aku melintas di apotek itulah tidak sengaja telingaku menangkap obrolan seorang pembeli dengan seorang apoteker.
"Satu pak alat kontras*psi," ucapnya.
Tunggu! Sepertinya suara itu tidak asing bagiku.
Aku menghentikan langkahku. Di saat bersamaan pembeli itu menoleh ke arahku. Benar saja, pembeli itu adalah seseorang yang begitu kukenal. Lebih tepatnya seseorang dari masa lalu kelamku.
"Azzura?"
"Ma-ma-ma Lucy?"
Perempuan yang baru saja memesan satu pak alat kontras*psi itu adalah Mama Lucy. Pemilik tempat hiburan malam yang pernah menjadi tempatku bekerja. Jauh sebelum aku bertemu mas Fabian. Laki-laki yang kemudian menuntunku pada jalan kembali kepada Rabb ku.
"Masih hidup kamu?" tanyanya ketus.
"Alhamdulillah, Allah masih memberi nafas bagiku," jawabku.
"Ckckkck… penampilan dan cara bicaramu benar-benar sudah mirip pendakwah."
"Alhamdulillah, Allah menuntunku menuju jalan kembali kepada Rabb ku."
"Cuih! Perempuan tidak tahu diuntung! Kalau bukan karena jasaku, dulu kamu sudah mati kelaparan," ucap wanita ber make up tebal itu.
"Saya tidak pernah melupakan jasa Mama Lucy. Tetapi maaf, jika akhirnya saya meninggalkan klub malam itu. Saya tidak mau menjual tubuh saya untuk sembarangan lelaki. Saya bekerja di tempat itu bukan untuk menjual tubuh saya, tapi hanya untuk mencari penghasilan agar bisa bertahan hidup."
"Omong kosong! Kamu sudah membuat saya kecewa dan malu. Saya sumpahi kamu tidak akan pernah bahagia seumur hidupmu!"
"Astaghfirullah. Tidak baik menyumpahi orang. Doa buruk untuk orang lain bisa saja berbalik pada diri kita," ujarku.
"Ceramah saja terus. Kamu memang perempuan yang tidak tahu balas budi!"
Entah kenapa kalimat itu terdengar begitu menyakitkan. Ingatanku pun tiba-tiba kembali pada masa laluku yang begitu pahit dan kelam…
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
__ADS_1
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰