
"Me-me-nikah secepatnya, Pak?" tanyaku.
"Ya, Nak. Bagaimana kalau minggu depan?"
"Ehm … ehm … "
"Ibu rasa semakin cepat semakin baik," ujar ibu.
"Benar, Ra. Jika kalian sudah sama-sama saling memantapkan hati, aku rasa tidak ada salahnya jika pernikahan itu dilaksanakan secepatnya." Fatimah menimpali.
Aku menghela nafas sebelum memberikan jawaban. Bismillah.
"Insya Allah saya siap," jawabku.
"Alhamdulillah," ucap semua yang berada di ruangan itu tak terkecuali puteriku, Lyra. Sepertinya dia paham dengan obrolan kami.
"Hole! Ibu dan Paman Giblan mau menikah!" soraknya sembari mengajak Anisa melompat-lompat.
"Karena tidak lama lagi akan menikah, kamu panggil Paman Gibran dengan sebutan ayah," ucap Bu Anita.
"Ayah Giblan?"
"Ya mulai sekarang dan seterusnya seperti itulah kamu akan memanggilnya," ucap pak Yudha.
"Ayah Giblan."
Gibran melebarkan kedua tangannya bersiap menyambut Lyra ke dalam pelukannya.
"Lyla senang kalau paman Giblan jadi ayah Lyla," ujarnya.
"Ayah juga senang memiliki putri sepertimu, Sayang."
Aku merasa buliran hangat itu tiba-tiba mengalir dari sudut mataku. Allah begitu baik padaku. Mungkin aku pernah terluka karena seorang laki-laki bernama Fabian, namun engkau menggantinya dengan sosok yang lebih jauh segalanya darinya.
__ADS_1
"Baiklah, jadi keputusannya adalah pernikahan kalian akan diadakan setelah kamu pulih," ucap pak Yudha. Kuanggukkan kepalaku sebagai tanda setuju.
*****
Sore itu ruang perawatanku terlihat begitu ramai. Ya, hampir semua karyawan konveksi datang menjengukku. Mereka berbondong-bondong membawa buah-buahan, camilan, bahkan buket bunga untukku.
"Ya Allah, kenapa kalian repot-repot begini?"
"Kamu sama sekali tidak repot kok, Bu. Ini sebagai tanda jika kami menyayangi Ibu," ucap Ayu sebagai perwakilan dari mereka.
"Terima kasih, semuanya."
"Oh ya, mungkin minggu depan konveksi diliburkan untuk beberapa hari," ucap ibu yang kebetulan berada di dalam ruangan.
"Memangnya kenapa, Bu?" tanya Seto.
"Bos kalian ini akan menikah."
"Alhamdulillah."
"Selamat ya, Bu."
"Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah."
Satu persatu dari mereka bergantian menyalamiku.
"Astaga. Menikah saja belum, kenapa sudah mengucapkan kalimat itu," protes ibu yang sontak mengundang gelak tawa dari semua yang berada di dalam ruang perawatanku.
"Ya nggak papa dong Bu. Doa 'kan bisa diucapkan teman saja," celetuk Handoko.
"Ngomong-ngomong siapa laki-laki itu beruntung itu?" tanya Seto.
"Kamu kenal kok sama orangnya. Kamu juga sudah beberapa kali mengantarkan barang pesanan ke tokonya," jelasku.
__ADS_1
"Yang mana, Bu? Sepertinya kebanyakan pemilik toko perempuan. Tapi tunggu dulu! Ada seorang pemilik toko yang tampan, kalau tidak salah namanya pak Gibran. Apa dia orangnya, Bu?" tanya Seto.
Kuanggukan kepalaku sebagai jawaban.
"Saya sering mendengar istilah cinta lokasi. Kalau ini berarti bos jatuh cinta pada pelanggannya." Tutik menimpali.
Sekali lagi ruanganku dipenuhi gelak tawa dari mereka.
"Bu Zura masih perlu banyak istirahat, kalau kami berlama-lama di sini, kami takut akan menghambat masa pemulihan," ucap Fahmi.
"Tidak apa, saya justru merasa senang. Kapan lagi kita bisa mengobrol sedekat ini?" ujarku.
"Oh ya, Bu. Kalau Ibu membutuhkan orang untuk membantu di acara pernikahan Ibu dan pak Gibran, kami siap," ucap Seto.
"Benar, Bu. Kami juga tidak akan meminta untuk dibayar." Handoko menimpali.
Aku tersenyum haru.
"Terima kasih, kalian bukan hanya sebagai karyawan, tetapi saya menganggap kalian sebagai keluarga," ujarku.
"Kami pun sangat menyayangi Ibu."
Ayu dan Tutik lantas mendekap tubuhku.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1