Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Resah


__ADS_3

Aku beranjak dari kamarku. Kulihat ibu mertuaku dan Mila masih mengobrol di ruang tamu. Entah apa yang topik pembicaraan mereka hingga membuat ibuku tertawa lepas.


"Ibu pikir kamu tidur, Nduk," ucap ibu.


Aku menggeleng pelan.


"Dingin-dingin begini pasti enak minum wedang jahe," ucap Mila.


"Memangnya Nak Mila bisa membuatnya?" tanya ibu.


"Bisa, Bu. Pasti Mbak Zura suka membeli minuman instan yang dijual di warung kan?" tanyanya setengah meledek.


Suara adzan tiba-tiba berkumandang.


"Bangunkan dulu Fabian, biar memimpin shalat berjamaah," ucap ibu.


"Kamu shalat juga kan?" tanyaku pada Mila.


"Ehm, aku-aku sedang datang bulan."


Tentu saja aku paham. Pada usia subur seorang wanita akan mendapatkan tamu bulanan. Tapi entah mengapa aku merasa Mila sedang berbohong.


"Bener?" 


"Su-su-suwer."


Aku beranjak dari ruang tamu dan masuk ke dalam kamar untuk membangunkan mas Fabian sekaligus membopong Lyra. Ibu mengatakan tidak baik seorang bayi tidur di saat adzan Maghrib. Kalau dia sudah terlanjur tidur, maka disarankannya memangku atau menggendongnya.


"Mas… sudah Maghrib," ucapku.


Mas Fabian lekas beranjak dari tempat tidurnya, dan keluar dari kamar.


"Mari, Nak. Kita shalat berjamaah," ucap ibu.


"Mbak Zura mana?" tanya Mila.


"Di kamar memangku Lyra yang sedang tidur."


"Ayo kita ambil air wudhu," ucap Mila.


"Lho, bukannya tadi Nak Mila bilang sedang datang bulan?" tanya ibu.


"Ehm…aku baru ingat sudah selesai."


Mas Fabian berjalan menuju kamar mandi sementara ibu mertuaku dan Mila mengikuti di belakangnya.


Seusai shalat Maghrib berjamaah hujan bum juga reda. Perasaanku semakin tidak menentu. Tidak rela jika Karmila benar-benar harus menginap di rumahku.


"Hujannya belum juga reda. Nak Mila menginap saja di sini," ucap ibu saat mereka kembali berbincang di ruang tamu. Kulihat ada empat cangkir wedang jahe di atas meja. Kuyakini Mila membuatkan untukku juga.


Aku yang kebetulan keluar dari dalam kamar usai menidurkan Lyra sontak menyerukan kalimat protes.


"Hujannya tidak begitu deras, lagipula nanti mas Fabian mengantarnya dengan mobil. Mila tidak akan kehujanan."

__ADS_1


Aku melirik sejenak ke arah Mila. Raut wajahnya masam yang menunjukkan dia tidak menyukai ucapanku.


Tanpa persetujuan mas Fabian aku mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja rias di dalam kamar lalu memberikan benda itu padanya.


Tapi, tiba-tiba mas Fabian memegangi perutnya sambil mengaduh kesakitan.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya ibu.


"Perutku sakit."


"Ini pasti gara-gara kamu makan sambal terong itu. Ibu tahu kamu kepedesan tapi kamu gak mau berhenti."


"Aku-aku nggak memakai banyak cabe kok, Bu," bantah Mila.


"Kalau kamu tidak memakai banyak cabe, Mas Fabian tidak akan sakit perut," ucapku yang sontak membuat Mila diam.


Mas Fabian beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju ke arah toilet.


"Sekarang Mas antar Mila pulang."


Aku kembali menyodorkan kunci mobil padanya saat suamiku itu kembali dari toilet.


Mas Fabian menerima kunci mobilnya namun, dia kembali memegangi perutnya dan bergegas kembali ke toilet. Begitu berulang-ulang hingga kulihat wajah pria yang begitu kukasihi itu terlihat begitu pucat.


"Sebaiknya Mbak Zura beliin obat diare untuk mas Fabian. Di dekat rumah ini ada apotek yang buka 24 jam," ucap Mila.


Beraninya dia menyuruhku. Mas Fabian sakit perut gara-gara dia membuat sambal yang terlalu pedas.


"Sebenarnya aku mau saja ke apotek. Tapi bagaimana kalau nanti Lyra tiba-tiba bangun? Apalagi dia sedang kurang sehat. Aku harus memberinya lebih banyak ASI," ucapku.


"Ya sudah biar ibu saja yang ke apotek. Nggak enak nyuruh tamu," ucap ibu.


Aku merogoh saku rokku lalu memberikan uang pecahan dua puluh ribu padanya. Uang itu sisa belanja di abang sayur pagi tadi.


"Maaf ya, Bu. Merepotkan," ucapku.


"Tidak apa, Nduk. Nanti kalau Lyra bangun kami pasti kerepotan menenangkannya."


Aku mengambil payung yang kusimpan di dalam salah satu ruang di buffet yang berada di ruang tamu lalu memberikannya pada ibu.


"Hati-hati, Bu," ucapku.


"Oek… oek…"


Kudengar suara khas tangisan Lyra dari dalam kamar. Seketika aku merasa berat meninggalkan ruang tamu ini yang artinya aku membiarkan mas Fabian dan Karmila berduaan. Tapi aku tak mungkin membiarkan putriku menangis.


"Lyra bangun tuh Mbak," ucap Mila.


Telingaku masih normal. Tentu saja aku mendengar dengan jelas suara tangisannya.


Meskipun ragu, akhirnya aku memilih masuk ke dalam kamar. Aku membaringkan tubuhku di samping Lyra dan menyusuinya. Tubuh ini memang di dalam kamar, tapi pikiranku tidak. Tiba-tiba saja aku membayangkan mas Fabian tengah bermanja-manja dengan Mila di sana. Mila membelai rambutnya, lalu… lalu… Astaghfirullah. Apa yang kupikirkan? Aku kenal betul siapa mas Fabian. Dia tidak mungkin berbuat sesuatu di luar koridor agama meskipun tidak lama lagi Mila akan menjadi istrinya.


Sekitar sepuluh menit kemudian Lyra mulai melepas daging kenyal dari mulut mungilnya. Dia pun kembali terlelap. Aku memasang kembali kancing bajuku dan bergegas keluar dari dalam kamar. Darahku seolah mendidih saat kulihat mas Fabian telah bertelanjang dada di depan Karmila.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Mas!" pekikku.


"Mbak Zura kenapa? Mas Fabian memintaku untuk ngerokin dia. Katanya perutnya mual."


 


Mila memperlihatkan sebotol minyak kayu putih dan uang koin padaku.


"Sini! Biar aku yang ngerokin mas Fabian." Aku mengambil alih kedua benda itu dari tangan Mila dengan cukup kasar.


"Tidak lama lagi aku ini jadi istri mas Fabian juga lho Mbak. Jadi aku juga harus belajar bagaimana merawatnya," ucap Mila.


"Tetap saja haram hukumnya jika kalian bersentuhan sekarang!" bentakku.


"Maaf, Dik. Mas rasanya sudah nggak karuan. Mau minta tolong tapi kamu masih ngelonin Lyra," ucap mas Fabian.


"Ya sudah, di kamar saja kerokannya." 


Mas Fabian baru saja beranjak dari sofa ketika tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Kupikir itu ibu yang baru saja pulang dari apotek, ternyata bukan. Tamu itu adalah pak Burhan, ketua komplek perumahan tempat tinggal kami.


"Assalamualaikum, Mas Fabian, Mbak Zura," ucapnya sopan.


"Waalaikumsalam, Pak. Mari silahkan masuk," ucapku.


"Ada keperluan apa Bapak malam-malam begini mendatangi rumah kami?" tanya mas Fabian.


"Ehm, itu …anu …bu Kinanti."


"Kenapa dengan ibu saya, Pak?" tanya mas Fabian.


"Ibu Kinanti terpeleset dan jatuh. Sekarang beliau ada di rumah saya. Beliau mengeluh sakit pada bagian punggungnya," jelas pak Burhan.


"Astaghfirullah!" seruku.


"Baik, Pak. Sekarang juga saya ke rumah Bapak."


"Ehm, ngomong-ngomong Mbak ini siapa?" tanya pria berbadan gemuk itu saat mendapati Mila yang masih belum beranjak dari sofa.


"Ehm, saya-saya Mila, teman mbak Azzura," jawabnya.


Apa? Kenapa dia jadi mengaku kawanku?


"Mbak Mila mau menginap di rumah ini?" tanya pak Burhan lagi.


Bersambung….


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2