
Meskipun sudah jauh berbeda, aku masih bisa mengenali wajah itu.
"Arya?"
"Ya. Aku Arya. Ibu siapa?"
"Ini aku, Zura."
"Zura yang mana ya?"
"Azzura."
Arya tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengenaliku.
"Sepertinya aku hanya mengenal satu nama Azzura. Apa Ibu Azzura yang pernah bekerja di, …"
"Iya. Ini Azzura."
"Kamu kok sekarang jadi begini?" tanyanya sembari mengamati penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kakiku.
"Begini gimana?"
"Maaf, dulu kan kamu selalu berpakaian terbuka. Sekarang penampilan kamu tertutup begini. Wajar lah, kalau aku pangkling."
Laki-laki yang mengobrol denganku adalah Arya. Dulu dia adalah bartender di tempat kami bekerja.
"Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi, Ra. Saat dulu kamu nekad melompat dari atap ke sungai, aku berpikir kamu tidak akan selamat," ucap Arya.
"Aku nyaris mati digigit buaya sungai, tapi Allah masih memberiku umur panjang. Ada seseorang yang menolongku terlepas dari buaya itu.
"Syukurlah. Orang itu pasti hebat. Yang nolong kamu laki-laki atau perempuan, Ra?"
"Laki-laki. Dan dialah yang menjadi suamiku."
"Manis sekali ceritamu. Seperti dongeng saja."
"Memang manis, pada awalnya, tapi kini begitu pahit, melebihi racun," gumamku dalam hati.
"Anak kamu dua?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Ya. Maureen usianya lima tahun, ini adiknya, Arman, baru enam bulan," jelasnya.
"Maaf, tadi kamu bilang ibunya sudah meninggal. Memangnya kapan istrimu meninggal? Apa beliau sakit?"
"Ya. Istriku meninggal karena penyakit usus buntu."
Astaghfirullah. Bukankah penyakit itu yang kini tengah menyerangku juga? Istri Arya kehilangan nyawanya karena penyakit ini. Bagaimana jika aku bernasib sama dengannya? Maureen dan Arman mungkin beruntung, memiliki ayah sebaik Arya. Tapi bagaimana dengan Lyra? Siapa yang kelak akan mengurusnya jika aku benar-benar pergi? Fabian? Karmila? Rasanya tidak mungkin. Ya Rabb, kenapa aku setakut ini? Bukankah semua yang Engkau ciptakan akan Engkau ambil kembali?
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Arya.
"Nggak apa-apa kok. Oh ya, kamu kerja di mana sekarang?" tanyaku.
"Di kantor BB. Setelah menikah aku memutuskan keluar dari pekerjaanku di klub, lalu mencoba melamar pekerjaan di kantor itu. Ya, walaupun hanya sebagai Office Boy, tapi aku merasa pekerjaan itu lebih baik daripada setiap saat harus berkutat dengan minuman yang memabukkan itu," ungkapnya.
"Kantor BB?"
__ADS_1
"Ya. Memangnya kenapa? Apa suami kamu bekerja di sana juga?"
"I-i-iya."
"Serius? Suamimu di bagian mana?"
"Namanya Fabian. Dia manager pemasaran."
"Oh, pak Fabian. Ya, aku tahu. Dulu dia sales biasa, tapi sejak kantor dipegang bu Silvi, semua manajemen dirubah. Tiba-tiba saja pak Fabian diangkat jadi manager marketing."
Siapa bu Silvi? Baru kali ini kudengar namanya. Ah bodo amat! Aku gak mau tahu apapun lagi soal Fabian.
"Oh ya. Kalau kamu bekerja, siapa yang mengasuh mereka?" tanyaku.
"Ibuku," jawab Arya.
"Alhamdulillah, masih ada ibu."
"Ya. Aku tidak tahu apa jadinya jika tidak ada ibu yang membantuku merawat mereka."
Tiba-tiba Arya mengamati wajah Lyra.
"Anakmu berapa bulan, Ra?" tanyanya.
"Hampir tiga bulan."
"Anakku dan anakmu seumuran. Mungkin kita bisa jadi besan," kelakarnya.
"Ngaco kamu. Anak masih bayi gini sudah main jodoh-jodohan aja," ucapku.
"Siapa tahu mereka memang jodoh."
Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan ini? Apa aku jujur saja jika aku tidak lagi tinggal bersama Fabian dan kini tinggal di tempat kost?
"Ra. Kamu kok diam saja?"
"Ehm, aku-aku tinggal tidak jauh dari pabrik tekstil LR."
"Aku boleh minta nomor telepon kamu 'nggak? Aku hanya ingin menyambung tali silaturahmi," ucap Arya sembari menyodorkan ponselnya ke arahku.
"Boleh." Aku meraih ponsel Arya lalu memasukkan nomor ponselku di buku telepon.
Tiba-tiba Arman yang berada di gendongan Arya menangis.
"Maaf, Ra. Aku harus pulang sekarang. Arman pasti sudah lapar," ucap Arya.
"Hati-hati," ucapku sembari mengusap lembut rambut Maureen.
"Assalamu'alaikum, Bu Azzura," ucap Maureen.
"Waalaikumsalam."
Arya dan kedua anaknya itu pun lantas meninggalkan taman. Dalam hati aku merasa kagum pada Arya. Meskipun begitu berat, dari raut wajahnya aku bisa melihat jika dia begitu ikhlas menjalani perannya saat ini. Menjadi ayah sekaligus ibu bagi kedua buah hatinya. Maureen dan Arman. Lalu, masih pantas kah jika aku mengeluh?
Setelah meninggalkan taman, aku pun lantas menuju supermarket yang berada tidak jauh dari taman. Kondisi keuanganku saat ini memaksaku untuk berhemat. Aju hanya membeli popok bayi, minyak telon serta bedak berukuran kecil.
__ADS_1
Hal yang tidak kuduga saat aku melintasi bagian baju-baju bayi. Kulihat seseorang tengah memenuhi keranjang belanjaannya dengan banyak pakaian bayi.
"Pakaian bayi hanya digunakan sebentar, sebaiknya membeli beberapa potong saja," ucapku.
"Aku belanja pakai uangku sendiri. Terserah mau kubelanjakan apa," ucapnya ketu tanpa menoleh sedikit pun ke arahku.
"Maaf, saya hanya memberi saran," ucapku
"Nggak usah sok ta…Mbak Zura?"
Aku kaget bukan main saat memandang wajah perempuan itu. Pengunjung toko itu adalah Karmila.
"Mila? Usia kandungan kamu masih muda. Tidak baik membeli perlengkapan bayi sedini ini. Sebaiknya kamu membelinya jika usia kandunganmu sudah memasuki tujuh bulan ke atas," ucapku.
"Mbak bicara begitu pasti karena iri melihatku berbelanja banyak."
"Bukan begitu, Mila. Ada pantangan bagi kita membeli perlengkapan bayi saat usia kandungan masih begitu muda. Takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."
"Oh, jadi Mbak nyumpahin bayiku kenapa-napa, gitu?"
"Bukan begitu. Apa salahnya jika kita menghindari pantangan itu untuk kebaikan kita sendiri."
"Kolot sekali cara pikir Mbak. Bilang saja Mbak iri karena uang belanjaku berkali lipat jumlahnya dari uang Mbak," ucap Mila. Dia lantas melirik ke arah keranjang belanjaku yang hanya berisi satu pak popok bayi.
"Iri kamu bilang? Tidak sama sekali. Sejak memutuskan pergi dari kehidupan Fabian, aku telah ikhlas memberikan laki-laki itu untukmu. Kamu kok bangga banget ya punya barang bekas pakai," sindirku.
"Apa kamu bilang?"
"Barang bekas pakai."
"Maksud kamu apa bicara begitu?"
"Kenapa kamu tersinggung? Ucapanku benar 'kan? Fabian memang barang bekas pakai dariku."
"Kurang ajar!"
Rupanya Mila tidak terima dengan ucapanku. Tiba-tiba dia mengangkut tangan kanannya dan bersiap melayangkannya ke arahku. Namun, dengan sigap aku menepisnya dan sengaja sedikit mencengkram nya.
"Sakit! Aw!"
Mila lekas menarik tangannya lalu mengusapnya berulang.
"Awas ya! Aku aduin kamu pada mas Fabian!" ancamnya.
"Aduin aja. Kamu pikir aku takut?"
"Aku mau bilang ke mas Fabian agar cepat-cepat mengurus perceraian kalian!"
"Silahkan. Aku justru senang kalau kami cepat resmi berpisah," ucapku.
"Maaf, ada apa ini?" tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri di belakangku. Aku pun sontak menoleh ke arahnya. Alangkah terkejutnya aku saat memandang wajah itu.
Bersambung….
Hai, pembaca setia….
__ADS_1
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰