Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Sisi buruk Karmila


__ADS_3

"Pak Prayoga?"


"Nak Zura?"


Sepertinya pak Prayoga cukup terkejut melihatku berada di tempat ini.


"Saya mendengar keributan dari arah sini. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Ti-ti-tidak, Pak. Bukan masalah penting," jawabku.


"Begitu, ya." 


"Bapak belanja di sini juga?" tanyaku sengaja mengalihkan pembicaraan.


Pria berjambang tipis itu tersenyum.


"Tidak, kebetulan toko ini milik saya. Saya mampir sepagi ini untuk memeriksa stock barang di gudang," jelasnya. Aku mengangguk paham.


Tiba-tiba pandangannya tertuju pada keranjang belanja yang kutenteng dengan tangan kiriku.


"Beli popoknya Lyra, ya?" tanyanya.


Aku menganggukkan kepalaku.


"Ya sudah, lanjutkan belanjanya."


"Baik, Pak. Maaf sudah mengganggu kenyamanan Bapak."


"Tidak masalah. Saya permisi ke gudang dulu." Pak Prayoga pun lantas berlalu dari hadapan kami.


"Sepertinya kalian akrab sekali. Jangan-jangan kamu istri simpanannya," cibir Mila.


"Kalau bicara itu dipikir dulu. Aku kasih tahu ya, pasang telingamu lebar-lebar. Nama pria itu pak Prayoga. Beliau adalah kawan ibuku."


"Nggak usah mengada-ada. Mas Fabian bilang ibu kamu mingg*t dari rumah kalian. Kenapa kamu bawa-bawa namanya? Eh, tapi aku heran. Kenapa selera kamu rendah banget ya? Kalau memang ingin punya suami baru, cari lah yang lebih keren dari mas Fabian. Bukannya malah pacaran sama laki-laki tua seusia bapak kamu."


Aku membuang nafas. Bsiaa saja aku menbantah tuduhan Mila. Namun, aku memilih diam. Pun percuma bicara dengan perempuan keras kepala sepertinya.


"Aku sudah selesai. Permisi."


Detik kemudian langkahku kembali terayun menuju meja kasir untuk membayar barang belanjaanku.


Drama kembali terjadi saat Mila juga hendak membayar barang belanjaannya.


Dengan angkuhnya dia meletakkan barang belanjaannya di meja kasir. Tanpa bicara pun aku paham dia bermaksud pamer padaku.


"Semuanya satu juta dua ratus lima puluh, Bu," ucap sang kasir sesaat setelah menghitung barang belanjaan Mila yang seluruhnya adalah perlengkapan bayi.


"Hah? Apa kamu tidak salah hitung? Kok banyak banget sih," protes Mila.


"Tidak, Bu. Saya sudah menghitungnya sesuai dengan label harga yang tertera di setiap barang."


"Caba kami hitung sekali lagi. Mungkin mesinnya error."


"Tidak, Bu. Mesin ini tidak rusak," bantah sang kasir.

__ADS_1


"Ya sudah, hitung ulang saja. Mungkin kamu yang kurang teliti," ucap Mila.


Aku bisa menangkap raut wajah kesal sang kasir. Pun dia tetap menuruti permintaan pembelinya.


"Ibu lihat sendiri 'kan? Jumlah belanjaan Ibu sudah benar, semuanya satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah," ucapnya sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah monitor.


"Ehm, saya-saya, …"


"Kenapa, Bu? Ada masalah?"


"Saya-saya hanya membawa uang tunai lima ratus ribu rupiah saja, kebetulan kartu ATM saya tertinggal di rumah."


"Lantas?"


"Apa saya bisa membatalkan beberapa barang yang sudah saya beli?" tanya Mila.


"Maksud Ibu?"


"Uang saya kurang. Saya hanya akan membeli barang sejumlah uang yang saya miliki."


"Maaf, Bu. Tidak bisa. Semua barang yang sudah masuk mesin kasir tidak bisa dibatalkan."


"Masa begitu saja tidak bisa? Toko macam apa ini?"


"Tidak bisa, Bu. Jika Ibu tidak percaya, Ibu bisa menanyakannya sendiri pada pak Prayoga selaku pemilik toko ini," jelas kasir.


Di saat itulah pria yang dipanggil pak Prayoga itu terlihat keluar dari dalam gudang.


"Pak Prayoga," panggil sang kasir.


"Ya, ada apa?"


"Lantas?"


"Ibu ini bermaksud membatalkan barang yang sudah saya catat di mesin kasir."


"Maaf, Bu. Peraturan di toko ini, pembeli tidak bisa membatalkan barang yang sudah masuk mesin kasir. Apalagi jumlah harga yang batal dibeli cukup besar," jelas pak Prayoga.


"Jadi, saya harus bagaimana?"


"Ibu tadi bilang kartu ATM Ibu tertinggal 'kan? Ibu bisa pulang untuk mengambilnya, tentunya dengan syarat Ibu harus meninggalkan uang lima ratus ribu yang ibu bawa sebagai jaminan."


"Loh, kok begitu?"


"Kalau kasir saya tidak menahan uang Ibu, saya yakin Ibu akan kabur dan tidak akan kembali ke toko ini." Pak Prayoga menimpali.


"Rumah saya jauh. Apa Bapak tidak kasihan dengan saya yang sedang hamil harus bolak-balik ke sini?"


Tiba-tiba Karmila memasang wajah memelas.


"Ya sudah. Saya akan menahan uang Ibu sampai Ibu membayarkan uang sejumlah barang yang tadi sudah Ibu beli."


Mila yang tengah dilanda kebingungan itu pun mengambil ponselnya. Aku yakin, dia akan menghubungi suaminya, Fabian.


Benar saja, tidak berselang lama setelah mengakhiri panggilan teleponnya, terlihat seseorang memasuki toko. Tentu saja pria itu sama sekali tidak asing bagiku. Dia lah Fabian, suami- eh, sebentar lagi menjadi mantan.

__ADS_1


"Ada masalah apa kamu menyuruhku datang ke toko ini?" tanyanya dengan raut wajah kesal.


"Ajari istrinya biar nggak boros habisin duit suami," ucapku.


"Zura? Kamu di sini juga?"


Enggan rasanya menanggapi ucapannya. Aku justru memilih memalingkan wajahku.


"Begini, Pak. Istru Bapak ini sudah berbelanja di toko saya. Jumlah belanjaannya sebesar satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah. Tapi, istri Bapak mengatakan hanya membawa uang tunai lima ratus ribu rupiah saja. Peraturan di toko saya, barang yang sudah masuk di mesin kasir tidak bisa dibatalkan. Pemveli harus membayar penuh," jelas pak Prayoga.


Fabian pun lantas memandang setumpuk pakaian bayi dan perlengkapan lainnya yang berada di atas meja kasir.


"Masyaallah, Mila. Kenapa kamu membeli perlengkapan bayi tanpa seizinku? Apa kamu tidak pernah mendengar pantangan membeli pemain bayi saat usia kehamilan masih muda?"


"Aku sudah memberitahu Mila, dia saja yang ngeyel," ucapku.


"Kamu diam saja! Nggak usah ikut-ikutan!"


bentak Mila.


"Kamu bisa membeli perlengkapan bayi nanti kalau sudah dekat persalinan," ucap Fabian.


"Sudah, Pak. Cukup berdebat nya. Jadi, Bapak mau membayar kekurangan belanja istri Bapak atau tidak?" ucap pak Prayoga.


"Berapa semuanya?" tanya Fabian pada kasir.


"Kekurangan yang harus Bapak bayaye sebesar tujuh ratus lima puluh ribu rupiah," jawab kasir.


Fabian mengambil dompetnya lalu mengambil uang sejumlah yang disebutkan kasir kemudian meletakkannya di atas meja.


"Begini jadinya kalau belanja tanpa perhitungan. Merepotkan saja!" gerutu Fabian sembari berlalu dari meja kasir.


"Mas Fabian! Tunggu! Mas!" teriak Mila. Namun Fabian yang sudah terlanjur kesal sama sekali tak menghiraukannya. Dia justru mempercepat langkahnya menuju mobil yang berada di depan toko.


"Kalau sekiranya nggak punya duit tuh jangan belanja banyak-banyak, Bu. Kalau sudah begini malu 'kan?" celetuk salah satu pengunjung toko yang sedari tadi hanya diam menyimak itu.


"Ibu jangan sembarangan bicara. Uang saya banyak kok. Saya hanya lupa membawa kartu ATM saya," bantahnya.


"Halah. Saya juga buat alasan seperti itu."


"Kenapa Ibu jadi nyolot? Memangnya Ibu merasa dirugikan?"


"Jelas saja rugi. Saya membuang waktu hanya untuk mengantre di kasir."


"Jadi, Ibu mau apa?"


Tanpa diduga Mila menghampiri pembeli itu dan mendorongnya. 


"Kamu kasar banget sama orang tua. Apa nggak diajari sopan santun?"


Rupanya perempuan berhijab itu melakukan perlawanan. Dia pun mendorong tubuh Mila dengan cukup kasar hingga….


Bersambung….


Hai, pembaca setia….

__ADS_1


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2