Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Tak terduga


__ADS_3

"Tidak seharusnya Mas bicara begitu pada Azzura. Itu sama artinya Mas menyalahkan takdir," ujar Fatimah.


"Kamu tidak tahu perihal keluargaku. Jadi kamu tidak berhak berkomentar apapun,* ucap Darren.


"Kita ini suami istri. Bagaimana mungkin Mas bisa mengatakaan aku tidak berhak tahu perihal keluarga Mas," protes Fatimah.


"Lebih baik kau pulang saja daripada membuat kegaduhan di ruangan ini," ucap Darren.


"Aku datang kesini untuk menjenguk Anisa, bukan untuk membuat kegaduhan."


"Nyatanya kedatanganmu membuat kita berdebat di ruangan ini."


"Maaf, Fatimah. Sepertinya aku harus pulang sekarang. Suamimu tidak menghendaki kehadiranku," ucapku.


"Jangan pergi, Ra. Aku masih ingin bercerita banyak denganmu." Fatimah meraih tanganku lalu menggenggamnya. 


"Mungkin bukan sekarang waktunya," ucapku. Aku lantas memandang wajah Anisa yang tengah tertidur lelap di dekapannya.


"Baik-baik, ya, Sayang. Jangan rewel dan jangan membuat ibumu kerepotan," bisikku sembari mengecup lembut kening Anisa.


Sekali lagi Fatimah meraih tanganku. Aku tahu dia keberatan jika aku pergi. 


"Insyaallah kita akan bertemu lagi," ucapku.


Perlahan Fatimah melepaskan tanganku dari genggamannya.


"Satu pesanku untuk kak Darren. Jangan pernah membenci Anisa. Bagaimana pun dia adalah amanah dari Allah yang harus Mas jaga sebaik-baiknya. Assalamu'alaikum." Aku pun lantas meninggalkan ruangan itu.


Aku menghentikan langkahku saat melintasi sebuah kamar perawatan. Di kamar inilah ibu mertuaku dirawat. Bagaimana keadaan beliau sekarang? Apa beliau sudah sadar? Ataukah? Tidak! Aku tidak boleh berpikiran buruk pada ibu.


Perlahan kulangkahkan kakiku menuju ruangan itu. Baru saja gagang pintu itu kuputar dan hendak kudorong, di saat bersamaan seseorang keluar dari dalam sana. Aku pikir itu adalah mas Fabian atau Karmila. Namun, ternyata bukan keduanya. Aku cukup kaget saat melihat wajah asing itu.


"Mbak siapa?" tanyanya.


"Maaf, saya ingin menjenguk ibu saya. Kamu siapa?" tanyaku pada gadis yang masih berumur belasan tahun itu.


"Sepertinya Mbak salah kamar. Pasien yang berada di kamar ini adalah ayah saya. Ayah saya mulai dirawat pagi tadi," ucapnya.


Jika pasien di dalam kamar bukan ibu, di mana ibu? Apa yang terjadi dengan beliau? Jangan-jangan…


Tiba-tiba pikiran buruk melintas di kepalaku.


"Zura, …"


Aku menoleh saat seseorang menepuk pelan pundakku. Rupanya Khumayra.


"Kamu ngapain di sini, Ra?" tanyanya.


"Aku habis menjenguk saudaraku yang baru saja melahirkan," jawabku sembari mengacungkan jari telunjukku ke arah kamar perawatan Fatimah. 


"Lantas, apa yang kamu lakukan di depan ruangan ini?"


"Aku-aku, …"


"Kamu pasti ingin menjenguk ibu mertua kamu."

__ADS_1


"I-i-iya. Aku ingin tahu keadaan ibu. Tapi, pasien di ruangan ini bukan ibu. Apa beliau dipindahkan ke ruangan lain?"


"Tidak, Ra. Ibu mertua kamu tidak dipindahkan ke ruang manapun."


"Lantas, di mana ibu? Apakah beliau sudah, …" 


Aku tak melanjutkan ucapanku. Memikirkannya saja sudah membuatku begitu ketakutan. Bagaimana jika ibu benar-benar…


Mayra tersenyum.


"Kamu tidak perlu secemas itu, Ra. Ibu mertuamu baik-baik saja. Beliau sudah sadar dari koma dan sudah meninggalkan rumah sakit."


"Kamu nggak bercanda 'kan May? Ibu mertuaku benar-benar sudah sadar dari koma?" tanyaku penuh semangat.


"Benar, Ra. Ibu mertuamu sudah dibawa pulang oleh suami dan… istri mudanya."


"Alhamdulillah," ucapku penuh syukur. Aku begitu lega mendengarnya.


"Aku heran. Kamu begitu sayang dan perhatian pada ibu mertuamu. Tapi kenapa Fabian masih saja menikah lagi? Apa suamimu itu benar-benar telah dibutakan naf*u?"


"Mungkin jodohku dan mas Fabian hanya sampai di sini," ujarku.


"Oh ya, sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Mayra.


"Aku dan Lyra sekarang tinggal di tempat kost tidak jauh dari pabrik tekstil LR."


Mayra mengerutkan keningnya.


"Tadi kamu bilang masih punya saudara 'kan? Kenapa kamu tidak tinggal di rumah mereka saja?"


"Suster Khumayra. Mari ikut saya. Kita akan segera menyiapkan ruang operasi," ucap laki-laki yang mengenakan jas dokter.


"Baik, Dokter."


"Maaf, Ra. Aku harus ke ruang operasi sekarang," ucap Mayra.


"Eh, siapa dokter itu?" tanyaku penasaran.


"Kenapa? Kamu naksir?"


"Sembarangan kamu!"


"Namanya dokter Faisal. Dia dokter baru di rumah sakit ini menggantikan ayahnya yang sudah meninggal."


"Sepertinya dia menyukaimu. Aku bisa melihat dari caranya memandangmu," godaku.


"Nggak mungkin lah Ra. Aku hanya perawat biasa. Statusku juga janda. Mana mungkin dokter sepertinya mau denganku."


"Kamu jangan mendahului takdir. Bukan hal mustahil kamu dan dokter Faisal berjodoh."


"Kamu jangan membuat aku berharap terlalu tinggi. Nanti pas jatuh rasanya sakit." Mayra terkekeh.


"Suster Khumayra."


Sekali lagi dokter Faisal memanggil nama Mayra.

__ADS_1


"Ya, Dok."


"Kamu sih, ngajakin aku ngobrol terus. Dokter Faisal jadi kesel tuh," gerutunya.


Kali ini aku terkekeh.


"Ya sudah, selamat bertugas, Suster Khumayra," ucapku.


"Sampai ketemu lagi." Mayra menjawil hidung mungil Lyra sebelum akhirnya berlalu dari hadapan kami.


Aku melangkahkan kaki keluar dari rumah sakit. Tidak berselang lama sebuah taksi melintas. Tujuanku sebelum pulang ke tempat kost yang kini menjadi tempat tinggalku adalah toko baju. Saat meninggalkan rumah aku beberapa hari yang lalu, aku  tidak cukup banyak membawa pakaian ganti untuk Lyra ataupun untukku sendiri.


Aku tengah memilih baju untuk Lyra ketika tiba-tiba seseorang menghampiriku. 


"Mbak Zura," sapanya.


Aku pun menoleh ke arahnya. Suaranya sama sekali tidak asing di telingaku.


"Bu Murni?"


"Alhamdulillah, Allah mempertemukan kita lagi. Saya turut prihatin dengan musibah yang dialami Mbak Zura sekeluarga," ucapnya.


"Terima kasih, Bu. Saat itu saya sempat ingin berpamitan pada Ibu dan Bapak tapi rumah Ibu kosong."


"Maaf, Mbak. Saat itu saya dan suami saya sedang ke luar kota," ucap bu Murni. Aku mengangguk paham.


"Oh ya, Mbak Zura sekeluarga sekarang tinggal di mana?" tanya Bu Murni.


"Ehm, saya dan Lyra sekarang tinggal di tempat kost."


"Yang sabar ya, Mbak. Ujian adakah salah satu cara Allah untuk menaikkan derajat kita," ujarnya.


Tiba-tiba Lyra tersenyum. Kurasa dia paham siapa lawan bicaraku.


"Lyra, Ibu kangen, Sayang," ucapnya sembari mengambil alih putri kecilku itu dari gendonganku. Bu Murni lalu mendekap tubuhnya dan memberinya ciuman berkali-kali. Meskipun bukan saudara ataupun kerabat, aku bisa merasakan ketulusannya pada putriku.


Lyra selalu merasa tenang dan nyaman saat bersamanya.


"Oh ya. Bagaimana kabar bu Kinanti?" tanya Bu Murni."


"Ehm, Alhamdulillah keadaan ibu sudah membaik."


"Syukurlah."


"Maaf, Bu. Saya belum bisa mengembalikan uang yang saya pinjam untuk biaya operasi ibu mertua saya kemarin," ucapku.


"Tidak usah dipikirkan, Mbak. Kami ikhlas membantu Mbak Zura sekeluarga."


Obrolan kami sejenak berhenti saat tiba-tiba pintu depan toko terbuka. Tampak seorang pria dan wanita berjalan sembari bergandengan mesra memasuki toko. Jantungku berdetak beberapa kali lebih kencang saat melihat wajah kedua pengunjung itu.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2