
"Akhir bulan ini ibu dan Yoga akan menikah," ucap ibu pagi itu di saat aku tengah memasak di dapur.
"Bagaimana dengan Widya?"
"Apanya yang bagaimana? Gadis itu memang keras kepala. Sampai kapanpun dia tidak akan menyetujui hubungan kami."
"Jadi, Ibu dan pak Prayoga akan menikah diam-diam?" tanyaku.
"Ya. Hanya itu satu-satunya cara. Lagipula ibu tidak bisa menunjukkan terlalu lama. Kamu tahu 'kan? Semakin lama perutku akan semakin membesar?"
Jika boleh jujur, aku kurang setuju dengan sikap ibu yang memanfaatkan pernikahannya dengan pak Prayoga dengan tujuan menutupi aibnya. Pun aku tak bisa lagi mencegahnya. Aku paham betul sifat ibu. Beliau tidak akan suka siapapun menghalangi keinginannya.
"Yoga akan membelikanku rumah. Jadi setelah menikah nanti, kami tidak akan tinggal serumah dengan Widya."
"Kasihan Widya. Dia harus hidup sendirian di rumahnya."
"Widya tidak sendirian, dia punya asisten rumaah tangga. Lagipula kalau ibu dan Widya tinggal di satu rumah, bisa-bisa setiap hari kami bertengkar," ucap ibu.
Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari arah pintu gerbang. Awalnya kami tak menghiraukannya, namun karena merasa cukup terganggu, akhirnya ibu memutuskan meninggalkan dapur dan keluar menuju halaman.
"Astaga! Apa kamu tidak punya sopan santun 'hah? Kamu membunyikan klakson mobilmu seolah sedang berada di jalan raya saja," gerutu ibu kesal.
Tidak berselang lama kaca jendela mobil berwarna merah itu terbuka. Aku yang juga menyusul ibu di halaman cukup terkejut melihat siapa pemilik mobil yang masih tampak mengkilap itu.
"Fabian … Mila …?"
"Oh, jadi kalian sengaja membunyikan klakson keras-keras hanya untuk pamer mobil kalian? Dasar kampungan. Mau apa kalian kesini?"
"Aku datang ke sini hanya untuk memberikan ini." Fabian menyodorkan sebuah amplop berwarna putih pada ibu.
"Apa ini?"
"Surat itu untuk Zura," ucap Mila.
Mendengar namaku disebut, aku pun berjalan menghampiri mereka.
"Semakin hari kamu semakin kurus dan tidak terawat saja. Lihat aku sekarang. Punya mobil bagus, baju dan tas branded, dan perhiasan mahal," ucap Mila sembari memamerkan beberapa buah gelang yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia sengaja mengibaskan tangannya hingga terdengar bunyi gemerincing lantaran gelang emas itu saling bersentuhan.
"Aku harap kamu tidak pingsan saat membaca surat ini," ledek Mila.
__ADS_1
Aku mengambil alih amplop berlogo pengadilan agama itu dari tangan ibu. Tanpa membacanya pun aku sudah tahu surat itu adalah surat gugatan perceraian.
"Jangan kamu pikir aku menyesali perpisahan kita. Aku justru lega. Sekarang statusku sudah jelas," ucapku.
"Kamu tahu nggak? Mas Fabian sekarang sudah naik jabatan menjadi direktur," ucap Mila dengan angkuhnya.
"Lantas? Kami harus bilang "wah!" 'gitu?"
ucap ibu.
"Sekarang terbukti kalau aku pembawa keberuntungan untuk mas Fabian. Belum setahun menikah saja dia sudah naik jabatan. Sedangkan waktu menikah sama kamu sepuluh tahun lebih, karir nya hanya di situ-situ saja."
"Sombong sekali jadi orang. Paling juga suamimu naik jabatan bukan karena prestasi kerjanya, tapi karena campur tangan perempuan simpanannya."
"Apa maksud anda bicara begitu?"
"Kamu tahu nggak kalau suami yang kamu banggakan ini pergi dengan perempuan lain? Dia bahkan sampai menitipkan mobilnya di cafe. Mau apalagi kalau mereka pergi berdua kalau tidak untuk bersenang-senang?"
"Anda tidak usah usah ikut campur. Suami saya pergi keluar kota bersama atasannya untuk urusan pekerjaan. Saya percaya mas Fabian tidak akan berbuat macam-macam di belakang saya."
"Aku pikir kamu perempuan cerdas.Tapi ternyata kamu begitu mudah dibodohi. Jangan-jangan suamimu naik jabatan dengan syarat. Kamu tahu kan arah pembicaraanku?" ucap ibu.
"Jadi perempuan itu jangan bodoh-bodoh banget." Ibu terkekeh.
"Ayo kita pulang!"
Mila yang sudah begitu kesal itu pun menutup kaca jendela mobilnya. Tidak bersalah lama mobil itu pun meninggalkan tempat kost ku.
"Ibu yakin, ada sesuatu yang tidak beres. Mana mungkin Fabian naik jabatan jadi direktur semudah itu," ucap ibu saat kami memasuki rumah.
"Sudahlah, Bu. Aku tidak mau mau tahu lagi apapun tentang kehidupannya. Biar itu menjadi urusan mereka," ujarku.
"Kamu mau kemana?" tanya ibu saat melihatku mengganti jlbabku dengan jilbab berukuran lebar yang selalu kukenakan saat keluar rumah.
"Ada beberapa benang jahit yang harus kubeli."
"Biar Lyra di rumah saja sama ibu. Dia sudah kenyang 'kan?"
"Ya, Bu. Lyra baru saja menyusu."
__ADS_1
"Ibu boleh menitip sesuatu nggak?"
"Ibu mau titip apa?" tanyaku.
"Ibu ingin sekali makan mangga muda."
"Insyaallah kalau ada aku belikan. Ibu pergi dulu ya, Sayang. Baik-buruk di rumah sama nenek. Jangan nakal," ucapku sembari mengecup kening putri kecilku.
"Assalamu'alaikum."
"Hati-hati."
Setengah jam kemudian aku tiba di toko alat jahit.
Aku tengah memilih benang menjahit dan beberapa perlengkapan lainnya. Entah mengapa pandanganku tiba-tiba tertuju ke arah luar toko. Netraku menangkap seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bergandengan mesra dan tengah menuju butik yang berada persis di seberang toko. Meskipun hanya melihat dari bagian punggungnya, aku mengenal betul siapa laki-laki itu. Tapi, siapa perempuan yang bersamanya? Sepertinya dia bukan Fatimah. Aku juga tahu betul gaya berpakaian sahabatku itu.
"Mbak, saya permisi keluar sebentar. Nanti saya kembali lagi ke sini," ucapku pada pelayan toko.
Aku pun lantas keluar dari toko perlengkapan menjahit itu dan menghampiri keduanya. Ah! Lampu lalu lintas baru saja berganti warna menjadi warna hijau yang berarti aku harus menunggu beberapa saat sebelum aku bisa melangkah ke seberang sana.
Setelah lampu lalu lintas kembali berwarna merah, aku pun bergegas menyeberang dan menuju butik tersebut. Aku mengedarkan pandanganku di butik yang cukup ramai itu. Namun aku tak menemukan mereka. Di mana kak Darren? Aku yakin sekali mereka memasuki butik ini.
Dari butik itu pandanganku beralih pada mobil berwarna silver yang diparkir tidak begitu jauh dari butik. Itu dia kak Darren. Dia baru saja membuka handle pintu mobil sementara si perempuan yang belum kulihat wajahnya itu memasuki mobil kak Darren dari pintu lainnya.
Kupercepat langkahku agar tak sampai kehilangan jejak mereka. Aku harus tahu siapa perempuan itu. Apa benar dugaan Fatimah jika kak Darren memiliki perempuan lain di luar sana.
"Kak Darren! Tunggu!" seruku sembari merentangkan kedua tanganku di depan mobilnya.
"Zura! Apa-apaan kamu! Menyingkir dari hadapanku!" bentaknya.
Aku lantas memandang perempuan yang kini telah duduk di samping kursi kemudi.
"Kamu, …?"
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading…