
"Dia tidak benar. Laki-laki ini yang lebih dulu mencari gara-gara dengan kami," bantah Silvia.
"Saya melihat sendiri pria yang menginap di kamar ini memukul kawan saya di bagian wajah dan perutnya," jelas pria itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya security yang baru saja menghampiri kamar Silvia.
"Laki-laki ini memukul saya tanpa sebab yang jelas, Pak," jawab Dion.
"Dion! Kamu jangan memutarbalikkan fakta!" Silvia menimpali.
"Tindakan kekerasan dengan alasan apapun tidak dibenarkan. Bukan begitu, Pak?" ucap kawan Dion.
"Benar. Mari ikut saya ke kantor polisi. Anda akan kami tahan sampai semuanya jelas," ucap security.
"Tunggu, Pak! Jangan bawa kawan saya. Kota bisa selesaikan masalah ini tanpa melibatkan pihak yang berwajib."
"Maksud anda apa? Anda ingin menyuap saya?"
"Bukan begitu, Pak. Ini hanya kesalahan pahaman. Kami bisa menyelesaikannya," ucap Silvia.
"Saya mau laki-laki ini dipenjara!" seru Dion.
"Kalaupun ada yang harus dipenjara, itu adalah kamu!" seru Silvia.
"Memangnya apa salah kawan saya?" tanya kawan Dion.
"Dia-dia ehm, …"
Silvia menggantung kalimatnya. Rasanya terlalu memalukan jika ia harus menceritakan apa yang telah terjadi di kamar itu.
"Dion, please. Masalah ini jangan diperpanjang lagi," ucap Silvia.
"Bilang pada laki-laki itu agar meminta maaf padaku," ucap Dion.
__ADS_1
"Kamu yang membuat masalah. Kenapa
aku yang harus meminta maaf?"
"Bian, please. Lebih baik kita mengalah," ucap Silvia.
Meski sedikit keberatan, Fabian akhirnya meminta maaf pada Dion.
"Karena kalian sudah saling minta maaf, saya anggap masalah ini selesai. Selamat siang." Security itu pun lantas meninggalkan kamar Silvia.
"Ingat, Dion. Urusan kita belum selesai!" ancam Silvia.
"Saya permisi, Bu Direktur Silvia…Pak Manager Fabian," ucap Dion. Dia pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.
****
"Aku harap kamu mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padaku," ucap Silvia apda Fabian ketika dalam perjalanan pulang.
"Kamu pasti sedang memikirkan bagaimana harus menyampaikan pada istrimu kalau kamu telah menanam benih di rahimku," ucap Silvia.
"Apa yang terjadi di antara kita adalah sebuah kesalahan. Jelas-jelas Dion yang memberikan pengakuan jika dia yang memasukkan pil perang*ang ke dalam minumanku. Hal itu dilakukannya karena dia sakit hati padamu 'bukan?"
"Jadi, kamu menyalahkanku? Di sini aku yang dirugikan," ucap Silvia.
"Kalau saja kamu tidak melontarkan kalimat yang membuat Dion tersinggung, dia tidak akan melakukan perbuatan itu."
"Apa susahnya tinggalkan istri kamu, laku menikahlah denganku."
"Aku pernah gagal. Tak ada seorangpun yang mau gagal untuk ke dua kalinya," ujar Fabian.
"Kamu harus ingat, aku adalah pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan. Saat ini juga aku bisa menjatuhkan posisimu di jabatan paling rendah."
"Tolong jangan menekanku. Aku perlu waktu untuk berpikir. Aku tidak mungkin meninggalkan istriku secara tiba-tiba dan menikah denganmu."
__ADS_1
"Aku jadi penasaran, seperti apa wajah istrimu. Kelihatannya kamu takut sekali kehilangannya," ucap Silvia.
"Tidak diperbolehkan menceraikan istri ketika dia tengah mengandung."
"Apa kamu nggak mikir jika itu terjadi juga padaku? Apa aku harus menunggu sampai istrimu melahirkan? Itupun kalau kamu menepati janjimu. Bagaimana jika ternyata setelah kalian memiliki anak, kalian akan semakin sulit berpisah?"
"Argh! Kenapa semuanya jadi rumit begini? Seandainya aku menolak ajakanmu, hal ini tidak akan terjadi."
"Kamu pikir aku tahu kalau aku akan kembali dipertemukan dengan Dion?"
"Siapa tahu kalian sudah merencanakan semua ini tanpa sepengetahuanku."
"Tajam sekali mulutmu. Kuakui, aku memang menyukaimu. Tapi, aku tidak akan menggunakan cara serendah itu apalagi sengaja menjebakmu."
Obrolan mereka berhenti saat tiba-tiba ponsel Fabian berdering. Tanpa diduga, Silvia yang sudah begitu kesal itu merebut paksa ponsel miliknya.
"Kembalikan ponselku!" serunya.
Bukannya menurut, Silvia justru mulai berani membuka aplikasi percakapan di ponsel tersebut.
"Pesan dari Karmila. Apa dia nama istrimu?"
"Berikan ponselku!" Fabian terus berusaha merebut ponselnya dari tangan Silvia hingga membuat dirinya kehilangan fokus berkendara. Detik kemudian terdengar teriakan Silvia yang begitu nyaring.
"Awas!"
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…
__ADS_1