
"Kabar buruk apa, Dok?" tanyaku.
"Dari hasil pemeriksaan, Ibu menderita usus buntu."
"Apa solusi untuk penyakit itu, Dok?"
"Ibu bisa rutin mengkonsumsi antibiotik. Namun, pada beberapa kasus, mengkonsumsi antibiotik saja berpotensi usus buntu itu bisa kambuh kembali. Jadi, saya menyarankan agar Ibu menjalani operasi secepatnya."
"Insyaallah, Dok."
Kulihat dokter berkacamata itu menatapku heran.
"Hampir semua pasien saya selalu kaget bahkan shock saat mendengar kata operasi. Kenapa Ibu terlihat begitu tenang?"
Aku mengulas senyum.
"Memangnya apa yang harus saya takutkan? Bukankah semua yang terjadi pada kita sudah tertulis di Lauhul Mahfudz
bahkan saat kita masih berada di alam kandungan. Saya hanya berusaha ikhlas menjalani takdir yang sudah digariskan untuk saya. Penyakit itu sendiri adalah cara Allah menggugurkan dosa-dosa kita."
"Masyaallah, saya salut dengan anda, Bu Azzura. Anda sama sekali tidak berpikir jika suatu penyakit adalah hal yang menakutkan."
Kutanggapi ucapan dokter itu dengan senyum tipis di bibir.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah bingkai foto yang berada di atas meja. Sepertinya wajah perempuan di foto itu tidak asing bagiku.
"Maaf, Dok. Bukankah perempuan yang ada di foto ini adalah Syifa?" tanyaku.
"Ya, dia Syifa, putri semata wayang saya. Apa Ibu mengenal Syifa?"
"Ya, Dok. Kebetulan puteri saya bersekolah di tempat Syifa mengajar."
"Begitu rupanya. Oh ya, ini saya buatkan resep antibiotik. Ibu bisa menebusnya di apotek." Dokter yang kerap dipanggil dokter Zain itu pun lantas menuliskan sebuah resep di secarik kertas lalu memberikannya padaku.
"Terima kasih, Dok."
"Ingat pesan saya tadi. Lebih baik Ibu melakukan operasi secepatnya."
"Insyaallah saya akan menuruti saran Dokter. Saya permisi dulu, selamat siang."
Aku beranjak meninggalkan ruangan itu dan menuju bagian administrasi. Rupanya pak Anthony dan Silvia masih berada di ruang tunggu.
"Mari, Pak," ucapku yang kutujukan untuk pak Anthony.
"Tunggu!" panggil Silvia. Sontak aku pun membalikkan badanku.
"Ada apa?"
"Sepertinya kita perlu berbicara."
__ADS_1
"Kalau yang ingin kamu bicarakan adalah soal Fabian, maaf aku tidak punya waktu."
"Aku tahu, kamu sakit hati dengan Fabian atau bahkan kamu menyimpan dendam padanya."
"Maksud kamu apa?"
"Kurasa kamu paham arah pembicaraanku. Apa kamu tidak pernah berpikir untuk membalas dendam padanya? Apalagi kudengar sekarang Fabian membuka konveksi. Apalagi tujuannya jika bukan untuk menyaingi konveksi milikmu dan membuatnya hancur."
"Lantas?"
"Ish! Kenapa kamu tidak paham juga? Aku berniat mengajakmu bekerjasama untuk menjatuhkan Fabian."
"Untuk apa?"
"Dia sudah memeras ayahku. Jika boleh jujur, aku tidak rela memberikan uang sebanyak itu untuknya apalagi jika dengan uang itu kehidupannya akan menjadi lebih baik."
Aku tersenyum hambar.
"Apa yang kita dapat dari dendam? Dendam hanya akan menyiksa pikiran dan perasaan kita. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Kamu dan Fabian juga sudah hidup masing-masing 'bukan?" Sebaiknya kalian tidak saling ikut campur lagi."
"Dasar perempuan bo*oh! Lihat saja, saat ini Fabian pasti sedang menyusun rencana untuk menjatuhkan usahamu."
"Maaf, aku harus ke bagian administrasi." Aku berlalu dari hadapan Silvia lalu menuju bagian administrasi.
Aku baru saja turun di depan sebuah apotek untuk menebus obat dari dokter. Di saat itulah aku bertemu dengan seseorang yang begitu kukenal.
"Assalamu'alaikum, Bu Murni," sapaku.
"Waalaikumsalam. Mbak Zura?"
"Bagaimana kabar Bu Murni?" tanyaku.
"Alhamdulillah. Bagaimana dengan kamu dan keluarga?"
"Alhamdulillah, kabar saya dan keluarga juga baik. Ibu membeli obat untuk siapa?"
"Untuk bapak. Sudah beberapa hari ini tekanan darahnya naik."
"Semoga Pak Hasan lekas diberi kesembuhan."
"Amin, terima kasih Mbak. Oh ya, apa benar sekarang Bu Kinanti tidak tinggal bersama Mbak Zura lagi?" Tiba-tiba Bu Murni mengalihkan pembicaraan.
"Benar, Bu. Sudah hampir satu bulan ini saya tidak tinggal lagi bersama mantan mertua saya itu."
"Ehm … Maaf bukannya saya mau ikut campur. Beberapa hari yang lalu saya sempat bertemu dengan bu Kinanti. Beliau mengatakan jika Mbak Zura mengusirnya dari rumahnya, apa benar begitu Mbak?"
"Astaghfirullahaladzim, mana mungkin saya setega itu. Bukankah Ibu juga tahu, bu Kinanti itu sudah saya anggap seperti ibu kandung saya sendiri."
"Apa yang sebenarnya terjadi, Mbak?"
__ADS_1
"Entahlah, saya tidak tahu mengapa sikap Bu Kinanti berubah pada saya. Bahkan pada Lyra pun sekarang beliau acuh. Padahal saya begitu tulus menyayanginya.
Saat beliau masih di panti jompo hampir setiap minggu saya mengunjunginya bahkan saya mengajaknya keluar dari panti jompo mengajaknya tinggal bersama di rumah saya. Hingga suatu hari Fabian muncul. Dia mengajak saya rujuk, akan tetapi saya menolak. Saya berpikir bu Kinanti akan berada di pihak saya, namun saya salah. Beliau justru memaksa saya untuk menerima kembali Fabian. Dari situlah terjadi perdebatan antara ibu Kinanti dengan ibu kandung saya. Mungkin mungkin bu Kinanti merasa tersinggung dan sakit hati hingga memutuskan untuk pergi dari rumah saya," ungkapku.
"Jujur, saya pun tidak mempercayai ucapan bu Kinanti mana mungkin orang sebaik Mbak Zura mengusirnya. Entah perasaan saya saja atau tidak, bu Kinanti sekarang berubah menjadi sombong dan sedikit angkuh. Dia jumawa dan mengatakan jika sekarang Fabian sudah menjadi seorang pengusaha dan tinggal di perumahan mahal."
"Benar sekarang Fabian memang sudah memiliki usaha konveksi dan tempat tinggalnya bukan lagi di rumah kontrakan."
"Oh ya, Mbak Zura beli obat buat siapa?"
"Ehm … saya membeli obat untuk saya sendiri, Bu."
"Memangnya Mbak Zura sakit apa? Kelihatannya Mbak Zura sehat-sehat saja."
Aku tersenyum tipis.
"Saya minta bantu doanya,Bu. Agar Allah segera mengangkat penyakit pada diri saya."
"Semoga Mbak Zura lekas diberi kesembuhan. Oh ya, sekarang Mbak sudah tinggal di mana?"
"Di perumahan Dahlia, Bu."
"Oh, kebetulan ada saudara saya yang juga tinggal di sana. Kalau kapan-kapan saya ke sana insya Allah saya mampir ke rumah Mbak Zura."
"Saya tunggu kedatangannya, Bu."
"Saya kangen ingin bertemu dengan Lyra, sudah sebesar apa dia sekarang?"
"Lyra sekarang sudah bersekolah di taman kanak-kanak, Bu."
"Saya sudah selesai membeli obatnya.
Maaf, kita tidak bisa berlama-lama mengobrol. Bapak sendirian di rumah."
"Salam untuk pak Hasan, Bu."
"Insya Allah nanti saya sampaikan. Saya permisi dulu, Mbak, assalamualaikum."
Mantan tetanggaku itu pun lantas meninggalkan apotek.
Setelah membeli obat di apotek, aku menunggu taksi yang akan mengantarku menuju rumah. Di saat itulah sebuah mobil yang begitu kukenali melintas. Dari tempatku berdiri aku bisa melihat dengan jelas siapa yang berada di dalamnya Fabian dan … bukankah dia …
"Ikuti mobil berwarna hitam itu, Pak," ucapku pada pengemudi taksi yang kebetulan melintas tidak jauh dari mobil tersebut.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰