Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Keputusanku


__ADS_3

"Maaf, Dok. Apa saya diperbolehkan pulang hari ini?" tanyaku pada dokter ketika beliau baru saja memasuki kamar perawatanku.


Dokter berkacamata itu mengerutkan keningnya.


"Kondisi Ibu belum begitu stabil. Saya sarankan Ibu meninggalkan rumah sakit besok."


"Tapi, Dok. Keadaan mengharuskan saya untuk pulang secepatnya. Saya memiliki bayi yang masih berusia dua bulan, dan saya tidak bisa meninggalkannya terlalu lama."


"Baiklah, jika Ibu memaksa. Tetapi Ibu harus menandatangani surat pernyataan yang menyatakan jika sesuatu terjadi pada Ibu, pihak rumah sakit tidak bertanggung jawab."


"Baik, Dokter."


"Suster Mayra." Dokter itu memanggil Mayra yang baru saja masuk ke dalam ruanganku.


"Ya, Dokter."


"Tolong lepaskan selang infus ibu ini," ucapnya sebelum ia beranjak meninggalkan ruanganku.


"Astaga. Ra! Kondisi kamu belum pulih benar. Kenapa kamu memaksakan diri untuk pulang? Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu?"


"Insyaallah aku akan baik-baik saja, May."


"Kenapa kamu ingin cepat-cepat pulang?"


"Lyra demam. Dia pasti kekurangan ASI. Aku khawatir dia kenapa-napa."


"Oh ya. Apa kamu sudah mengambil keputusan? Kamu akan tetap bertahan dengan Fabian atau memilih pergi?" tanya Mayra.

__ADS_1


"Kamu benar, May. Aku tidak akan membiarkan mereka terus menerus menginjak harga diriku. Hari ini juga aku akan menjemput Lyra dan mengajaknya pergi dari rumah Mila."


"Tunggu! Apa aku tidak salah dengar? Kamu tadi bilang rumah Mila."


"Ya, May. Rumah kami habis terbakar dan tidak mungkin lagi kami tempati. Mas Fabian dan Lyra kini tinggal di sana."


"Jadi kamu terima tawaranku untuk tinggal bersamaku 'kan?" tanya Mayra.


"Maaf, May. Aku tidak bermaksud menolak niat baikmu. Tapi aku tidak ingin merepotkanmu."


"Kamu tidak perlu bilang begitu. Kita kan sahabat. Sudah seharusnya sesama sahabat saling membantu."


"Lantas, kamu mau tinggal di mana?"


"Kamu jangan khawatirkan hal itu. Aku bisa tinggal di rumah kontrakan ataupun tempat kost."


"Aku yakin kamu perempuan yang kuat. Kamu pasti sanggup melewati ujian ini.


Jika kamu berubah pikiran, datang lah ke rumahku. Pintu rumahku selalu terbuka lebar untukmu," ucapnya.


"Terima kasih, May. Kamu memang sahabat yang baik," ujarku. Aku lantas menghambur ke dalam pelukannya.


Sebelum meninggalkan rumah sakit, aku memutuskan menemui ibu di kamar perawatannya.


"Assalamu'alaikum, Bu. Bagaimana kabar Ibu?" sapaku.


Ibu mertuaku tersenyum. Dia lantas memberi isyarat kecil agar aku duduk di sisi ranjangnya.

__ADS_1


"Zura mau pamit, Bu," ucapku dengan nafas tertahan.


Ibu menggelengkan kepalanya.


"Zura minta maaf, tidak bisa merawat Ibu lagi. Zura harus pergi," ucapku sembari menggenggam tangannya.


Aku tahu, meskipun ibu tidak bisa berbicara, indera pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Beliau pasti sudah tahu apa yang terjadi dengan rumah tanggaku dan mas Fabian.


"Ja-ngan- per-gi- Nduk," ucapnya terbata. Ibu pasti sudah berusaha keras untuk mengucapkan kalimat itu.


"Maafkan Zura, Bu. Zura tidak sanggup jika harus berbagi suami. Zura memilih pergi." Aku meraih tangan beliau lalu mencium punggung tangannya penuh takdzim.


"Assalamu'alaikum."


Kukedipkan mataku sekali agar buliran bening yang sedari tadi merebak di bola mataku tidak tumpah. Kamu tidak boleh menangis, Zura. Kamu harus kuat!


Ibu pun lantas menyentuh pelan puncak kepalaku. Saat aku kembali menatapnya, sepasang netra itu telah basah oleh kaca-kaca yang menggumpal di pelupuknya. 


"Maafkan Zura, Bu," lirihku.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


🙏🙏


__ADS_2