Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kesialan ataukah keberuntungan?


__ADS_3

"Kenapa kamu bertanya nama pejalan kaki itu?" tanya Silvia.


"Ti-ti-tidak apa, aku hanya ingin tahu saja."


"Kata ayah pejalan kaki itu yang tidak sengaja ditabrak mobilnya itu bernama Amira."


"Am-Am-Amira? Astaghfirullahaldzim. Apakah pelaku tabrak lari Amira ternyata tuan Anthony?" gumam Fabian.


"Kenapa kamu kaget begitu? Memangnya kamu kenal dengan nama itu?" tanya Silvia.


"Ti-ti-tidak. Aku hanya, …"


"Ayah marah besar padaku. Beliau mau memaafkanku jika aku sudah menemukan Amira yang sebenarnya. Kalaupun dia memang benar-benar sudah meninggal, ayah memintaku mempertemukannya dengan keluarga ataupun kerabatnya. Jadi, sekarang juga kita akan memulai pencarian."


"Kenapa harus sekarang? Apa tidak bisa besok?"


"Kami tahu ayah 'bukan? Dia tidak suka menunda apapun. Kalau dia ingin sekarang, ya aku harus menjalankan perintahnya sekarang," ucap Silvia.


"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mengatakan jika Amira yang tewas karena ditabrak mobil tuan Anthony itu adalah adik kandungku? Atau aku pura-pura tidak tahu saja?" gumam Fabian.


"Kamu ini kenapa, Bian? Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu."


"Ehm … ti-ti-tidak. Aku hanya berpikir bagaimana caranya kita mengawali pencarian pejalan kaki yang pernah ditabrak tuan Anthony."


"Tidak perlu pusing. Kita bisa bertanya pada warga yang tinggal tidak begitu jauh dari tempat terjadinya kecelakaan itu 'bukan? Di antara banyak warga pasti ada yang mengetahui peristiwa itu."


"T-t-tapi peristiwa itu sudah begitu lama. Mungkin warga sudah lupa. Apakah saat kejadian itu juga ada saksi mata yang melihatnya?"


"Kalaupun kita memang tidak menemukan jejak pejalan kaki itu, ya sudah. Yang terpenting kita sudah berusaha."


Fabian tidak memiliki pilihan selain mengiyakan kemauan Silvia. Toh belum tentu juga jika Amira yang disebutkan tadi adalah Amira mendiang adik perempuannya. Mungkin hanya kebetulan saja mereka memiliki nama yang sama.


Rumah pertama yang mereka datangi adalah rumah seorang kakek yang tinggal tidak jauh dari tempat tinggal keluarga Fabian dari ia kecil hingga setelah ia menikah dengan Azzura dan akhirnya memutuskan untuk pindah ke sebuah perumahan yang dibelinya melalui Kredit Pemilikan Rumah. Jangankan mengingat peristiwa kecelakaan itu, mengenali Fabian pun tidak. Seorang menantu yang tinggal bersamanya mengatakan jika ayah mertuanya itu menderita gangguan ingatan atau sering dikenal dengan istilah pikun.


Pencarian berlanjut ke rumah berikutnya. Namun, lagi-lagi Fabian dan Silvia tidak mendapatkan informasi apapun dari penghuni rumah itu. Rumah itu rupanya telah dijual oleh pemilik lamanya dan kini ditempati pemilik baru.

__ADS_1


Hari beranjak petang, namun keduanya belum juga menemukan di mana pejalan kaki itu hingga akhirnya Silvia memutuskan menghentikan pencarian.


"Sepertinya kita menemukan jalan buntu. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menyudahi pencarian ini," ucap Fabian.


"Seandainya saja kedua perempuan itu masih hidup, aku yakin mereka mengetahui peristiwa itu," ucap Silvia.


"Sudahlah, kita pulang sekarang. Nanti ayahmu khawatir," ucap Fabian. Silvia mengangguk setuju.


"Kamu boleh menghentikan pencarianmu pada pejalan kaki itu. Namun, aku berjanji akan mencari tahu siapa sebenarnya Amira yang dimaksud ayahmu. Jika Amira itu benar adikku, ayahmu akan membayar mahal atas perbuatannya," gumam Fabian dalam hati.


Lima belas menit kemudian mobil Silvia yang dikemudikan Fabian berhenti di sebuah rumah kontrakan kecil yang sudah tiga bulan belakangan menjadi tempat tinggal Fabian.


"Sabar ya, Sayang. Jika kita sudah menikah nanti, kamu tidak perlu lagi tinggal di rumah kecil ini. Kita bisa tinggal bersama di rumah yang besar dan mewah," ucap Silvia sembari bergelayut manja di bahu Fabian. Tanpa sengaja netra keduanya bertemu. Bagaimana pun Fabian laki-laki normal yang membutuhkan belaian wanita. Entah siapa yang memulai, kedua bibir mereka telah beradu. Entah disadari atau tidak, tangan Fabian mulai melepaskan kancing kemeja yang dikenakan Silvia dan jemarinya dengan lincah bermain dengan dua gundukan mulus itu. Fabian semakin terhanyut saat si kecil di bawah sana mulai meronta. Silvia yang memang sudah begitu lama menggilai Fabian tentu saja menyukai aksi liar itu. Bahkan ia membiarkan saja saat jemari Fabian mulai meraba kedua pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


Fabian sontak menghentikan aksinya saat tiba-tiba seseorang muncul dan menggedor kaca mobil berwarna putih itu.


"Astaghfirullahaldzim! Apa yang sudah kulakukan?!" Fabian mendorong tubuh Silvia dan lekas menjaga jarak darinya.


"Keluar kalian woii!" teriak seseorang dari luar mobil.


"Keluar kalian! Pasangan mes*m!" Tidak hanya seorang saja, hanya dalam waktu singkat mobil mewah itu telah dikerumuni begitu banyak warga yang didominasi pria.


"Astaghfirullahaldzim! Bagaimana ini?"


ucap Fabian tak kalah bingung


"Keluar kalian! Atau kami akan memecahkan kaca mobil ini!" ancam salah satu warga.


"Sudahlah, kita abaikan saja mereka. Sekarang juga kita tinggalkan tempat ini. Kamu bisa bermalam di rumahku," bujuk Silvia.


Fabian mulai menghidupkan kembali mesin mobil itu namun warga mencoba menghalanginya dengan berdiri tepat di hadapan mobil.


"Pyar!" Warga yang tengah dikuasai amarah rupanya mulai hilang kendali. Ia mengambil sebongkah batu berukuran cukup besar lalu menghantamkannya di kaca samping mobil tersebut. Mereka semakin dibuat geram saat mendapati pakaian Silvia yang nyaris terbuka. Sementara ikat pinggang Fabian pun hampir terlepas.


"Astaghfirullahaldzim … pak Fabian rupanya." Beberapa pasang mata menatap keduanya dengan tatapan jijik.

__ADS_1


"Saya bisa jelaskan ini, Pak. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan," ucap Fabian.


"Semuanya sudah jelas. Kami melihat sendiri Pak Fabian berbisnis me*um dengan perempuan ini!" seru salah satu warga.


"Tidak, Pak . Itu tidak benar. Saya hanya-kami hanya, …"


"Cepat kita seret kedua pasangan me*um ini ke rumah kepala desa!" seru salah satu warga.


"Jangan, Pak. Ampun, Pak. Kami mengaku khilaf," ucap Fabian.


Warga pria menarik paksa Fabian agar keluar dari dalam mobil sementara warga wanita melakukannya pada Silvia.


"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut-ribut? Sebentar lagi adzan maghrib," ucap seseorang yang baru saja muncul di tempat itu.


"Saya melihat sendiri Pak Fabian dan perempuan ini melakukan perbuatan me*um di dalam mobil," jelas salah satu warga.


"Apa benar begitu, Pak Fabian?" tanya pria berpeci itu penuh selidik. Ia lantas mengamati penampilan Fabian yang terlihat sedikit berantakan dengan kancing kemeja terbuka dan ikat pinggangnya nyaris terlepas dari celananya.


"Ti-ti-tidak, Pak. Itu fitnah. Kami hanya, …"


"Saya rasa buktinya sudah cukup jelas, dan saya tahu tindakan apa yang harus saya ambil," ucap pria itu.


"Maksud Bapak tindakan apa?" tanya Fabian gugup.


Bersambung …


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2