Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Pertolongan


__ADS_3

Taksi terus melaju dengan kecepatan tinggi tanpa kutahu arah dan tujuannya.


"Sebenarnya kita mau kemana, Pak? Jangan membuat saya takut," ucapku dengan raut wajah panik.


"Diam kamu!" bentaknya yang sontak membuat Lyra kaget hingga tangisnya pun seketika pecah.


"Tolong hentikan taksi ini, Pak. Bapak jangan mempertaruhkan keselamatan kita," ucapku.


Lagi-lagi pengemudi taksi itu tak menghiraukan ucapanku. Dia bahkan terus menambah kecepatan laju kendaraannya.


"Berhenti! Atau saya akan melompat dari taksi ini!" ancamku.


"Melompat lah kalau bisa. Ha ha ha."


Aku mencoba mendorong salah satu pintu taksi. Sialnya, pintu taksi itu telah terkunci.


"Demi Allah, jangan sakiti kami," ucapku dengan tubuh yang mulai gemetar.


"Kalau kalian mau selamat, diam dan ikuti perintahku!"


Ketakutan seketika menyerangku saat pengemudi taksi itu tiba-tiba mengambil sebilah pisau lipat dengan tangan kirinya lalu menodongkannya padaku sementara tangan kanannya masih mengendalikan kemudi.


"Astaghfirullah! Bapak mau apa? Apa yang Bapak inginkan dari saya? Jika Bapak mau uang atau ponsel milik saya, silahkan ambil. Tapi saya mohon jangan sakiti saya ataupun putri saya," ucapku.


"Memang siapa yang mau uang atau ponselmu? Ha ha ha." Pengemudi taksi bertubuh gempal itu kembali tertawa lebar.


"Lantas, apa yang Bapak inginkan dari kami?"


"Aku penasaran dengan isi di balik pakaian lebar yang kamu pakai itu. Ha ha ha."

__ADS_1


Astaghfirullah! Apa maksud pria ini? Apa dia bermaksud jahat padaku?


Aku megedarkan pandanganku di dalam taksi itu. Jantungku berdegup semakin kencang saat aku mendapati sebuah wadah bekas yang yang berada di bawah dashboard mobil. Aku bergidik ngeri saat membaca ulisan yang tertera di wadah berbentuk sachet itu. "Obat kuat pria"


Astaghfirullah! Sepertinya pria ini benar-benar berniat jahat padaku. Apa yang harus kulakukan? Berteriak pun percuma. Tak akan ada seseorang yang bisa mendengar suaraku.


Dengan tangan gemetar lekas kuambil ponsel milikku dari dalam tas. Hanya benda itulah satu-satunya yang bisa menolongku saat ini. Belum juga menemukan nomor yang ingin kuhubungi, pengemudi taksi itu tiba-tiba merebut paksa benda pipih itu lalu melemparnya begitu saja hingga terjatuh persis di bawah 


bangku depan. Aku berusaha meraih ponselku namun pria itu rupanya semakin nekat. Dia berani menggoreskan pisau lipat itu hingga mengenai bagian lenganku.


Perih sekali rasanya.


Tangis Lyra tak juga mereda, bahkan suaranya mulai terdengar serak.


"Ya Rabb, selamatkan kami. Hanya kepada Mu lah kami meminta pertolongan," lirihku. 


Aku tersentak kaget saat taksi yang kutumpangi tiba-tiba berhenti. Lantas kuarahkan pandanganku keluar taksi. Di mana ini? Kenapa tempat ini asing bagiku? Rupanya pengemudi taksi itu menghentikan taksinya di depan sebuah rumah kosong yang cukup jauh dari pemukiman penduduk.


"Buka bajumu!" serunya sambil terus menodongkan pisau ke arahku.


"Tidak!" tegasku sembari mendekap tubuh Lyra yang mulai kelelahan menangis itu.


"Jadi kamu berani melawan 'hah!"


Pria itu berusaha membuka paksa hijab yang menutupi kepalaku. Tentu saja aku sekuat tenaga menahannya. Aku tak peduli sudah berapa banyak luka yang digoreskan pisau itu di bagian lenganku. Tidak akan kubiarkan pria ini memandang bagian auratku. Tanpa diduga, pria itu mengambil paksa Lyra dari gendonganku lalu membaringkannya begitu saja di bangku depan.


Pria itu semakin beringas. Sepertinya efek dari obat kuat khusus pria dewasa itu mulai bekerja. Dengan sekuat tenaga dia mencoba membuka paksa penutup kepalaku. Namun, aku tak mau menyerah begitu saja. Kuangkat kaki kananku lalu kutendang bagian selangkangannya hingga membuatnya jatuh terjengkang.


"Kurang ajar!" serunya. Bisa kulihat amarah dan naf*u dari sorot matanya.

__ADS_1


Pria itu terus menarik paksa hijabku hingga akhirnya kain penutup kepalaku itu robek.


"Demi Allah! Jangan sentuh saya! Lelaki bia*ab!"


"Plak!" Sebuah tamparan yang cukup keras baru saja mendarat di pipiku. Menyisakan rasa perih yang teramat sangat. Aku mendorong tubuh pria itu yang berusaha menindihku. Namun, lagi-lagi aku mendapatkan perlakuan kasar darinya. 


"Bug!" Bogem mentah baru saja mengenai bagian pelipisku. Meski kesakitan, aku tidak mau menyerah. Kugigit tangannya sekuat mungkin hingga ia menjerit kesakitan. Di saat itulah aku mengambil kesempatan untuk segera kabur dari jeratan pria bi*dab itu. Kudorong tubuhnya lalu ku melompat ke bangku depan. Lekas kuangkat tubuh Lyra dan membawanya keluar dari dalam taksi. Sial, pria itu berhasil menarik ujung pakaianku hingga Lyra yang berada di dekapanku nyaris terjatuh. Pertolongan Allah datang di saat yang tepat. Pintu yang tadinya terkunci tiba-tiba saja bisa kubuka dengan mudah. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku berlari meninggalkan tempat itu. 


"Siapapun. Tolong saya!" teriakku.


"Hai! Mau kemana kamu! Jangan coba-coba lari!" teriaknya.


Aku yang sudah kehabisan tenaga rupanya tak cukup kuat berlari. Tiba-tiba tubuhku terasa begitu lemas, pandangan mataku mulai kabur, hingga akhirnya semuanya terlihat begitu gelap.


****


Aku tersadar dan membuka mataku. Kepalaku masih terasa pusing, bagian pelipisku pun rasanya begitu linu.


Di mana ini? Lyra! Lyra! Di mana Lyraku?


"Kamu sudah sadar?"


Aku menoleh ke arah suara itu. 


Bagaimana aku bisa berada di sini?


Bersambung…


Hai, pembaca setia….

__ADS_1


dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2