Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Menutup hati?


__ADS_3

"Bu, ada pelanggan baru yang memesan gamis dalam jumlah besar," ucap Seto pagi itu saat aku baru saja memasuki ruang produksi.


"Siapa?"


"Namanya pak Sakti. Beliau datang ke tempat ini kemarin saat Ibu masih di toko kue."


"Memangnya dia memesan berapa potong gamis?" tanyaku.


"150 potong, Bu. Apa pak Sakti sudah menghubungi Ibu untuk mengkonfirmasi pesanannya?" Seto balik bertanya.


Aku menggeleng pelan.


"Dari semalam hingga pagi tadi tak ada seorang pun yang mengkonfirmasi pesanan pada saya. Apa kamu tahu di mana alamatnya?"


"Oh ya. Saya hampir lupa. Beliau memberikan nomor handphone ini. Mungkin Ibu bisa mengkonfirmasi langsung pada beliau." Seto mengambil secarik kertas dari saku celananya lalu memberikannya padaku.


SAKTI FASHION


Jl. Sriwijaya no.126


"Apa Ibu tahu di mana alamat itu?" tanya Seto.


"Sepertinya saya belum pernah melihat toko ini."


"Lebih baik Ibu telepon pak Sakti sekarang untuk memastikan," ucap Seto.


Aku mengikuti sarannya. Lekas kuambil ponselku lalu kuhubungi nomor telepon tersebut.


Perlu menunggu beberapa saat sebelum pemilik nomor itu menjawab panggilan dariku.


[Halo. Maaf, dengan siapa saya berbicara?]


[Saya Azzura, pemilik LYRA konveksi. Saya ingin mengkonfirmasi pesanan Bapak. Apa benar Bapak memesan 150 potong gamis di konveksi milik saya?"


[Oh … i-i-iya benar, Bu.]


[Maaf, jika Bapak benar memesan produk dari konveksi saya dalam jumlah besar, saya harap Bapak mengirimkan sejumlah uang sebagai tanda jadi.]


[Oh, untuk masalah itu Ibu jangan khawatir. Siang ini juga saya akan mengirimkan seluruh pembayaran barang pesanan saya. Posisi saya sekarang sedang dalam perjalanan menuju Anjungan Tunai Mandiri]


[Maaf, kenapa Bapak harus ke mesin ATM? Bukankah sekarang mudah mengirim uang melalui aplikasi di ponsel?]

__ADS_1


[Oh, ma-ma-af, saya tidak memiliki aplikasi pengiriman uang di ponsel]


[Ya sudah, saya tunggu sampai ada laporan uang masuk ke rekening saya, baru pesanan Bapak akan kami proses]


[Ehm … begini, Bu. Sebenarnya pesanan itu bukan sepenuhnya milik saya, melainkan milik kawan saya. Dia menginginkan barang pesanannya dikirim secepatnya]


[Maaf, Pak. Untuk pesanan dalam jumlah besar biasanya saya meminta pelanggan untuk mengirimkan sejumlah uang sebagai tanda jadi]


[Saya ini pengusaha besar. Ibu jangan meremehkan saya. Ini pun saya sedang dalam perjalanan menuju mesin ATM]


[Maaf, Pak, bukannya saya meremehkan Bapak. Tapi akhir-akhir ini banyak sekali kasus penipuan berkedok pesanan fiktif, jadi saya harus lebih berhati-hati]


[Jadi, Ibu menuduh saya penipu? Ibu jangan sembarangan menuduh. Saya bisa saja melaporkan Ibu pada pihak yang berwajib atas tuduhan perbuatan yang tidak menyenangkan]


[Kenapa Bapak jadi mengarah ke sana? Saya hanya meminta sejumlah uang sebagai tanda jadi untuk pesanan Bapak, itu saja. Jika Bapak keberatan, maaf, saya tidak bisa memproses pesanan Bapak]


[Astaga. Baru kali ini saya menemui konveksi yang menyulitkan pelanggannya]


[Saya tidak bermaksud menyulitkan siapapun. Saya rasa semua pemilik konveksi akan memberlakukan hal yang sama untuk pelanggan mereka yang memesan produk dalam jumlah besar]


[Ya sudah, saya batalkan saja pesanan saya. Saya akan mencari konveksi lain yang tidak rumit]


[Oh, silahkan. Saya sama sekali tidak keberatan. Alhamdulillah pelanggan saya selama ini tidak pernah protes dengan aturan dari saya]


-Panggilan terputus-


"Bagaimana, Bu? Apa Ibu sudah mengkonfirmasi pesanan pak Sakti?" tanya Seto sesaat setelah aku mengakhiri percakapan.


"Sepertinya beliau bermaksud kurang baik."


"Apa maksud Ibu?"


"Saya meminta beliau untuk mengirimkan sejumlah uang sebagai tanda jadi, namun beliau menolak dengan berbagai alasan. Dia bahkan mengatakan jika aturan konveksi milik saya menyulitkan pelanggan. Sebenarnya saya hanya mencoba untuk bersikap waspada dan hati-hati."


"Saya setuju dengan tindakan Ibu. Akhir-akhir ini banyak sekali terjadi penipuan dengan modus pesanan fiktif."


"Ya, saya pun ragu jika Pak Sakti sedang dalam perjalanan menuju mesin Anjungan Tunai Mandiri."


"Jika memang Pak Sakti benar-benar ingin memesan produk dalam jumlah besar, seharusnya dia sudah mengirim uang sebagai tanda jadi tanpa Ibu minta," ucap Seto. Aku mengangguk setuju.


"Oh ya, bagaimana dengan persiapan pernikahanmu? Apa sudah selesai mengurus persyaratannya?" Aku mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Bu. Persyaratannya sudah beres. Insyaallah pernikahan kami akan diadakan hari Kamis depan."


"Baik, besok saya minta ukuran bajumu dan calon istrimu. Saya sendiri yang akan menjahit baju pengantin untuk kalian," ucapku.


"Masyaallah, hati Ibu mulia sekali. Saya beruntung memiliki atasan seperti Ibu," ujar Seto. Bisa kulihat binar di sorot matanya.


"Tidak usah memuji berlebihan begitu. Hanya baju pengantin saja kok. Anggap saja itu sebagai kado pernikahan untuk kalian."


"Semoga Allah senantiasa memudahkan urusan Ibu. Saya do'akan juga agar Ibu cepat-cepat menyusul saya ke pelaminan."


"Loh, kok jadi ke arah sana do'a nya?" protesku.


"Kamu amini saja do'a dari Seto. Itu 'kan do'a baik. Siapa tahu malaikat melintas dan mencatat do'a itu". Ibu yang baru saja muncul di ruang produksi menimpali.


"Sepertinya aku akan menutup pintu hati bagi siapapun. Aku hanya ingin fokus membesarkan Lyra," ucapku.


"Tidak baik bicara begitu. Mungkin saat ini kamu masih terluka karena kehilangan Gibran. Tapi tak ada yang tahu rencana Allah. Bukan hal mustahil Allah mengirimkan pengganti Gibran," ujar ibu.


"Oh ya, Bu. Saudara kembarnya mas Gibran juga cocok kok untuk Ibu. Sama-sama tampan dan baik."


"Keenan itu bukan saudara kembar Gibran, To. Dia adiknya," ralat ibu.


"Oh, adiknya. Saya kira mereka kembar. Soalnya wajah mereka begitu mirip. Ya sudah, saya permisi kembali lagi ke ruang produksi," ucap Seto. Dia pun lantas berlalu dari hadapan kami.


"Bagaimana dengan Herdian?" tanya ibu sesaat setelah Seto berlalu.


"Apanya yang bagaimana?"


Sepasang alisku bertaut.


"Dia sudah jelas-jelas bisa melindungimu dan Lyra. Selain itu Herdi juga belum terlalu tua. Kamu juga sudah dekat dengan anaknya 'bukan? Ibu rasa kalian cocok menjadi pasangan."


"Ah, Ibu ini bicara apa. Aku dan Herdi tidak memiliki hubungan apapun. Aku sedang tidak ingin membicarakan masalah hati."


"Astaga, anak ini. Ibu belum selesai bicara, Nak. Zura! Zura!"


"Aku mau ke toko kue," ucapku seraya menjauh dari hadapan ibu.


Bersambung …


"MENIKAH DENGAN SETAN"

__ADS_1


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2