
Di rumah Keenan.
"Apa kamu jadi bertemu Zura kemarin, Ken?" tanya nyonya Anita pada Keenan saat Keenan hendak barsiap keluar rumah.
"Ya, Bu. Aku dan Herdian jadi menemuinya di cafe. Ya, walaupun terjadi hal yang kurang baik."
"Apa maksudmu?"
"Zura mengalami kecelakaan di cafe."
"Astaga, Ken! Kecelakaan apa, dan bagaimana keadaannya sekarang? Dia baik-baik saja 'bukan?"
"Tangan Zura tidak sengaja tersiram kuah makanan panas lantaran bertabrakan dengan seorang pelayan. Tangannya sempat melepuh, tapi dia langsung mendapatkan penanganan di klinik," jelas Keenan.
"Syukurlah kalau dia baik-baik saja."
"Oh ya, coba Ibu tebak aku bertemu siapa lagi di cafe itu?" tanya Keenan.
"Pak Amin, atau ibunya Zura?"
"Ish! Tentu saja bukan."
"Lantas, siapa lagi yang kamu temui di cafe itu?"
"Pinkan."
"Pinkan. Tunggu! Sepertinya nama itu tidak asing di telinga ibu. Tapi ibu lupa siapa dia."
"Pinkan, gadis kecil tomboi yang dulu pernah tinggal di dekat rumah kita hingga akhirnya dia dan keluarganya pindah ke luar kota."
"Ya, ibu ingat sekarang. Pinkan yang dulu pandai main basket dan bela diri itu 'bukan? Bagaimana kabarnya sekarang?"
"Penampilannya sudah jauh berubah. Aku bahkan hampir tak mengenalinya. Dan satu lagi, ternyata dia lah pemilik cafe Rainbow yang terkenal itu."
"Sungguh? Ibu tidak menyangka jika dia lah pemilik cafe bintang lima itu. Pasti dia sudah menikah dan punya anak."
"Dia bilang padaku belum menikah, Bu."
"Bagi perempuan sukses sepertinya, seharusnya mencari jodoh bukanlah perkara yang sulit. Ibu rasa dia terlalu pemilih. Itulah sebabnya sampai sekarang belum juga menikah," ujar sang ibu.
"Mungkin saja Pinkan memang belum menemukan pasangan yang tepat. Itu sebabnya dia masih betah menyendiri. Ya sudah, Bu. Aku berangkat dulu. Hari ini aku ada jadwal bertemu klien di luar kota."
Setelah mencium punggung tangan sang ibu, Keenan pun lantas meninggalkan rumahnya.
****
Sementara itu di rumah Darren.
"Ibu, aku kangen sama Lyra," ucap Anisa di sela sarapan paginya.
"Iya, ya. Sudah lama kita tidak kesana. Mas izinin kami ke rumah Azzura 'kan hari ini?" tanya Fatimah pada suaminya, Darren.
"Boleh kok."
"Hore! sorak Anisa.
"Sekarang habiskan dulu sarapanmu, sepulang sekolah nanti kita ke rumah Lyra," ucap Fatimah.
Setelah menghabiskan sarapannya, Anisa yang kini duduk di bangku kelas satu SD itu pun berangkat ke sekolahnya.
__ADS_1
Jarak dari rumah menuju sekolah Anisa memang tidak begitu jauh. Anisa terbiasa menempuhnya dengan berjalan kaki.
"Adik sendirian saja berangkat ke sekolahnya?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.
"Iya, Bi. Sekolahnya dekat kok."
"Oh ya, kamu suka lollipop nggak?" Perempuan yang mengenakan masker itu mengambil sebuah lollipop berukuran besar dari dalam tas nya lalu memperlihatkannya pada Anisa.
"Suka, Bi."
"Lollipop ini gratis buat kamu."
"Beneran?"
"Iya, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa, Bi?"
"Kamu bantu bibi membawa barang-barang ini sampai ke rumah. Nanti lollipop nya bibi berikan saat kita sampai di rumah bibi."
"Memangnya rumah Bibi di mana?"
"Dekat kok, sebentar lagi juga sampai."
"Tapi, Bi. Aku takut terlambat sekolah."
"Tidak akan terlambat, rumah bibi 'kan dekat. Apa kamu tidak kasihan sama bibi dengan barang bawaan sebanyak ini? Guru di sekolahmu mengajari untuk saling membantu orang yang kesulitan 'bukan?"
Anisa yang awalnya ragu itu pun akhirnya menuruti permintaan perempuan tersebut.
"Rumah Bibi di mana? Katanya dekat. Kita sudah berjalan cukup jauh, tapi kenapa tidak sampai-sampai?"
Tiba-tiba saja perempuan yang mengenakan masker itu menarik lengan Annisa dengan kasar.
"Aku mau dibawa ke mana, Bi?" tanyanya.
"Sudah! Kamu diam saja!" bentaknya.
"Tolong! tolong! Penculik!" teriak Anisa.
"Diam kamu!" Kali ini perempuan itu membopong paksa tubuh Anisa. Namun gadis kecil itu tidak mau menyerah begitu saja. Dengan sekuat tenaga yang dimiliki ia menggigit bahu perempuan itu. Rupanya usahanya berhasil. Tubuh Annisa berhasil terlepas dari tegangan perempuan itu. Ia pun lantas berlari menuju pemukiman warga.
"Paman! Tolong! Bibi ini mau menculikku!" teriaknya sembari bersembunyi di belakang badan salah satu pria.
"Oh, bukan begitu, Pak. Kami hanya senang bermain-main saja. Dia adik saya. Ayo, Sayang, kita berangkat ke sekolah."
"Bibi ini bohong! Dia bukan kakak saya."
"Lihat! Wajah anak ini begitu ketakutan. Perempuan ini pasti berniat jahat padanya." Seorang warga lainnya menimpali.
"Sebelum kami mengundang warga, sebaiknya kamu tinggalkan tempat ini sekarang!" ancam salah satu warga.
"Ayo, Sayang, kita berangkat ke sekolah, kamu jangan bercanda kaya gini."
Perempuan itu terus berusaha membohongi warga.
"Saya kok jadi bingung ya. Mbak ini sebenarnya kakaknya atau bukan?"
"Iya, Pak. Saya memang kakaknya. Adik saya ini sedang kumat nakalnya," ucap perempuan berambut panjang itu.
__ADS_1
"Bibi ini bohong. Dia bukan kakak saya!" tegas Anisa.
"Bukankah anak ini anaknya pak Darren dan bu Fatimah? Setahu saya mereka hanya memiliki seorang anak perempuan." Warga lainnya menimpali.
"Kamu mau membohongi kami ya? Jangan-jangan kamu memang ingin menculik anak ini."
"Bapak jangan sembarangan menuduh!"
"Begini saja, biar adil kita bawa saja perempuan ini ke rumah pak Darren," usul salah satu warga.
"Setuju?" sahut warga bersamaan.
"Sekarang juga kamu ikut kami ke rumah pak Darren!" Dua orang warga pun lantas memegang masing-masing lengan kanan dan lengan kiri perempuan itu.
"Lepaskan aku!"
"Kalau kamu menolak, berarti kamu memang berniat tidak baik pada bocah perempuan ini."
"Aduh! Kepalaku sakit!" pekik perempuan itu.
"Saya sudah mengirim pesan pada pak Darren, tidak lama lagi dia pasti sampai di tempat ini," ucap salah satu warga.
"Astaga! Bagaimana ini?" gumam perempuan itu.
Tidak berselang lama Darren dan Fatimah tiba di tempat itu.
"Ada masalah apa, Pak? Kenapa kami diminta datang kesini?" tanya Darren.
"Ayah! Ibu!" panggil Anisa. Ia lantas menghambur ke dalam pelukan Fatimah.
"Loh, Anisa? Kenapa kamu ada di sini? Sebentar lagi jam sekolah dimulai," ucap Fatimah.
"Bibi ini minta tolong membawakan barang belanjaannya ke rumahnya. Tapi bibi ini hanya berpura-pura saja. Dia ingin menculikku."
"Bibi yang mana?"
"Itu."
Darren dan Fatimah pun lantas mendekati perempuan yang sudah diamankan warga itu.
"Kamu siapa? Kenapa kamu bermaksud tidak baik pada putri kami?" tanya Fatimah.
"Kenapa kamu diam saja? Jawab!" sentak Darren.
"Maaf, saya terpaksa membuka masker mu," ucap Fatimah.
Fatimah hampir saja mengetahui wajah perempuan itu. Namun yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan.
Perempuan itu justru mendorong tubuh Fatimah hingga membuatnya terjatuh.
Perempuan itu pun memanfaatkan kelengahan warga untuk melarikan diri
dari kepungan warga.
"Apa Bapak mengenali dia?" tanya salah seorang warga.
"Tidak, tapi sepertinya perawakannya begitu mirip dengan seseorang."
"Mirip siapa, Mas?" tanya Fatimah penasaran.
__ADS_1
Bersambung…