
(Masih di sambungan telepon)
[Azzura siapa? Jangan-jangan dia pacar barumu]
[Bu-bu-bukan. Itu adalah nama tokoh kartun di televisi.]
[Sejak kapan kamu suka menonton kartun?]
[Ehm … aku-aku, …]
[Ya sudah. Tidak perlu dibahas lagi. Kamu lagi di mana sekarang?]
[Aku baru saja sampai rumah.]
[Memangnya kamu dari mana?]
[Ada urusan sebentar]
[Aku dapat kabar dari kawanku jika di Mall Y sedang ada diskon besar-besaran produk fashion. Kamu mau 'kan temenin aku? Ada tas branded yang sudah lama kuincar. Harga normalnya di atas sepuluh juta. Hanya hari ini saja dijual tiga juta.]
[Lantas?]
[Kita harus kesana sekarang sebelum kehabisan.]
[Bukankah beberapa hari yang lalu kamu juga minta dibelikan tas branded?]
[Tentu saja yang ini beda merk.]
[Aku capek, mau istirahat.]
[Ayolah, Sayang.]
[Lain kali saja.]
Klik. Gibran mengakhiri percakapan.
Beberapa saat kemudian ponselnya kembali berdering. Luna yang merasa diabaikan itu menelponnya lagi. Gibran mengambil ponselnya kemudian mematikannya. Rasa kantuk pun mulai menyerangnya.
Gibran tengah berjalan di taman yang begitu luas. Namun tak ada seorang pun di sana. Ia berteriak memanggil nama keluarganya namun tak ada satupun yang muncul hingga tiba-tiba terdengar dari kejauhan seseorang yang tengah melantunkan ayat suci Al Qur'an. Meski nyaris tak pernah menyentuh kitab suci agamanya itu, entah mengapa perasaannya begitu tenang. Demi menjawab rasa penasarannya, ia pun mencari tahu siapa pemilik suara merdu nan menyejukkan itu. Setelah pencarian yang cukup panjang, akhirnya ia menemukan seorang perempuan yang tengah duduk di sebuah bangku taman.
"Suaramu indah sekali," ucapnya.
Sontak perempuan berhijab itu menghentikan sejenak tadarus nya dan menoleh ke arah Gibran.
"Tok. Tok. Tok. Mas Gibran, makan malam sudah siap."
Gibran terperanjat saat tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Ah! Hampir saja aku melihat wajah perempuan itu. Mbok mengganggu saja!" gerutunya sebal.
__ADS_1
"Mas … Mas Gibran," panggil mbok Marni lagi.
"Iya, Mbok! Sebentar lagi aku keluar!" serunya dari dalam kamar.
"Apa maksud mimpi tadi? Dan siapa perempuan itu?" gumamnya.
Gibran melawan rasa malas lalu beranjak dari tempat tidurnya. Ia lantas berjalan menuju ruang makan yang berada di lantai dasar.
"Tumben kamu gak keluar," ucap Keenan yang telah lebih dulu berada di ruangan itu. Persis di hadapannya sang ayah juga telah memulai santap malamnya.
"Aku capek dan mengantuk."
Gibran menarik salah satu kursi kemudian mendudukinya.
"Iya. Jarang sekali malam Minggu Mas Keenan di rumah." Mbok Marni menimpali.
"Kalian ini aneh. Aku kebanyakan pergi diprotes, sekarang aku di rumah kalian malah heran."
"Ayah dengar belakangan ini kamu jarang datang ke kantor. Memangnya apa kesibukanmu di luar sana? Contoh adikmu itu. Dalam waktu dua tahun saja perusahaan yang dikelolanya bisa berkembang pesat bahkan sudah memiliki kantor cabang baru," ucap pria bernama Yudha Mandala, sang ayah yang merupakan pengusaha cukup ternama itu.
Gibran yang baru saja menuangkan nasi ke dalam piringnya itu menatap wajah sang ayah.
"Dari dulu Ayah tahu 'bukan? Aku tidak tertarik pada bisnis. Aku lebih menyukai seni."
"Seni yang tidak menghasilkan uang. Band yang kamu bentuk sejak masih kuliah itu masih begitu-begitu saja. Sama sekali tidak berkembang. Jangankan terkenal, mencetak album saja tidak pernah," tukas sang ayah.
"Membesarkan band itu tidak semudah membesarkan perusahaan," ujar Gibran.
"Aku akan buktikan pada Ayah jika suatu hari nanti band ku akan menjadi band besar dan Ayah akan menyesal pernah meremehkanku!"
"Oh ya? Kita lihat saja nanti."
Tiba-tiba Gibran beranjak dari tempat duduknya.
"Mas Gibran mau kemana?" tanya mbok Marni.
"Selera makanku hilang. Lebih baik aku pergi berkumpul dengan kawan-kawanku di studio musik."
"Lihat kakakmu itu. Mana pernah dia mendengarkan kata-kata ayah. Apa yang ayah katakan hanya didengar melalui telinga kanan dan keluar melalui telinga kirinya," ucap Yudha.
"Ayah jangan terlalu memaksa keinginannya. Apa yang dikerjakan dengan setengah hati tidak akan memberikan hasil yang maksimal," ujar Keenan.
Tidak berselang lama terdengar deru mobil yang melaju meninggalkan halaman rumah. Menandakan jika Gibran benar-benar pergi.
"Oh ya. Setelah makan malam ayah akan menemui pak Leo. Kami sudah membuatku janji." Tiba-tiba sang ayah mengalihkan pembicaraan.
"Syukurlah jika Ayah sudah bertemu dengannya. Aku sudah dua kali gagal menemuinya."
"Kamu bisa 'kan menemani ayah?" tanya Yudha. Keenan menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
"Kami keluar sebentar, Mbok," ucap Keenan setelah mengosongkan isi piringnya.
"Hati-hati, Pak … Mas …"
Keduanya pun lantas meninggalkan rumah tersebut.
*****
Di sebuah studio musik tampak empat orang laki-laki dan dua orang gadis tengah bercengkrama sambil sesekali menikmati camilan. Pemilik studio musik itu sendiri tidak lain adalah Gibran yang merupakan vokalis band miliknya yang bernama
"STARLIGHT".
Melihat kedatangan sang vokalis, tentu saja pria yang tadinya berpelukan mesra dengan gadis-gadis itu lekas saling menjaga jarak.
"Apa yang terjadi pada vocalis kita yang satu ini? Wajahnya seperti kanebo kering," celetuk sang gitaris bernama Hanafi atau yang kerap disapa Hans sebagai nama panggungnya.
"Paling-paling ribut sama ayahandanya." Sang bassis bernama Juan menimpali.
Tanpa menunggu perintah atau aba-aba, Hans yang duduk bersebelahan dengan gadis bernama Luna itu lekas beranjak dan memberi tempat untuk Gibran.
"Biasa lah, anak dan ayah yang tidak sepaham. Jika bertemu di meja makan, ujung-ujungnya aku yang memilih pergi karena terus dipojokkan," ungkap Gibran.
Dia lantas merangkul Luna dan memberi kecupan mesra untuknya.
Luna adalah pacar Gibran yang sekaligus menjadi backing vocal di grup band nya.
Ia tak pernah tahu jika sikap mesranya pada gadis yang selalu berpenampilan seksi itu memantik api cemburu salah satu anggota grup band nya.
"Aku minta maaf, Sayang. Tadi siang aku ngantuk berat. Jadi ketiduran. Sebagai gantinya besok siang kita ke mall. Kamu belanja apa saja yang kamu mau," ucap Gibran yang sontak membuat sorot mata gadis berambut panjang itu berbinar. Dia pun lantas menghadiahi lelaki yang sudah tiga tahun menjadi pacarnya itu dengan pelukan erat. Sekali lagi hati seorang kawannya terbakar api cemburu.
"Ayo mulai latihan. Lomba tinggal tiga hari lagi!" seru sang penabuh drum.
Mereka pun lekas beranjak dari tempat duduknya dan memegang alat musik masing-masing yang menjadi bagiannya.
"Apa kamu tahu bagaimana sakitnya hati ini saat kamu dan Gibran bermesraan?" ucap Hans sesaat setelah band itu selesai latihan.
"Kamu tenang saja, Sayang. Aku hanya pura-pura mencintai Gibran. Kamu juga tahu 'kan? Jika apa yang kulakukan demi kamu juga. Jika aku sudah dapat banyak dari dia, aku pasti akan tinggalin dia dan kita akan menikah."
"Oh, jadi benar kalian menusuk di belakangku?!"
Luna yang tengah bergelayut mesra di pundak Hans itu pun sontak berjingkat saat melihat kedatangan seseorang yang ternyata belum benar-benar meninggalkan studio musik tersebut.
Bersambung …
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
🙏🙏
Happy reading...