Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Jawaban


__ADS_3

"Siapa nama kontak itu?" Aku mengulangi pertanyaanku.


"Wid…Wid…Widya. Namanya Widya."


Widya? Sepertinya nama itu tidak asing bagiku. Pun aku tidak bisa asal menerka jika nama Widya yang baru saja disebutkan Fatimah adalah Widya putri kandung pak Prayoga. Di dunia ini nama Widya tidak hanya satu 'bukan? Bisa saja namanya sama.


"Ehm…apa kamu yakin kak Darren dan kontak bernama Widya itu memiliki hubungan khusus? Bisa saja Widya itu salah satu mahasiswa di kampus tempat kak Darren mengajar. "


"Kalau memang Widya hanya mahasiswa biasa, kenapa dia seringkali menelpon mas Darren setelah tengah malam? Mas Darren pun sepertinya tidak malas menjawab teleponnya."


"Kamu 'kan tahu, pekerjaan mas Darren seorang dosen. Dia tidak mungkin acuh pada mahasiswa nya yang mungkin meminta bimbingan darinya. Sudahlah, kamu jangan berpikir macam-macam. Aku yakin kak Darren tidak akan tega berbuat itu padamu," ujarku.


"Aku harus tahu siapa perempuan bernama Widya itu," ucap Fatimah.


"Semoga ketakutanmu tidak terbukti," ucapku sembari menggenggam tangannya.


Tiba-tiba Lyra yang berada di gendonganku menangis.


"Sepertinya Lyra menjadi minta dimandikan," ucapku.


"Terima kasih, Ra."


"Terima kasih untuk apa?"


"Aku merasa lebih baik setelah berbagi denganmu."


"Aku juga merasa beban di pikiranku sedikit berkurang," ucapku.


"Sampai bertemu lagi, Lyra sayang," ucap Fatimah sembari melambaikan tangannya ke arah kami.


"Sampai bertemu lagi, Bibi Fatimah," ucapku.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Aku dan Fatimah pun lantas meninggalkan taman. 


*****


Malam itu aku menghampiri kamar ibu untuk mengajaknya makan malam. Kulihat beliau tengah mondar-mandir sembari memegang sebuah kantong plastik yang entah apa isinya.

__ADS_1


"Makan malam sudah siap, Bu," ucapku.


"Kamu ini mengagetkan saja. Apa tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" gerutunya kesal. Ia pun cepat-cepat memasukkan kantong plastik berwarna hitam itu ke dalam laci meja rias.


"Sepertinya Ibu sedang bingung. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ibu?"


"Tidak ada."


"Itu benda apa, Bu?" tanyaku sembari mengacungkan jari telunjukku ke arah meja rias.


"Bukan apa-apa. Kamu datang ke kamar ini untuk mengajak ibu makan malam 'kan? Ya sudah. Kita ke meja makan sekarang. Ibu sudah lapar," ucap ibu sembari mendorongku agar lekas meninggalkan kamarnya. 


Detik kemudian kami sudah duduk berhadapan di meja makan. Sementara Lyra baru setengah jam lalu kutidurkan.


Kami saling diam, hanya terdengar suara piring dan sendok yang beradu.


"Bu. Apa Ibu yakin ingin menikah dengan pak Prayoga?" tanyaku memecah keheningan.


"Kenapa kamu bertanya begitu?"


"Ibu 'kan tahu sendiri, Widya menentang keras hubungan kalian. Aku khawatir jika kalian menikah nanti, akan terjadi banyak masalah."


"Bukan begitu, Bu. Aku hanya khawatir pada Ibu. Meskipun baru mendengar suaranya lewat telepon, aku bisa tahu Widya adalah gadis yang angkuh dan kasar. Orang dengan sifat itu akan melakukan berbagai cara agar keinginannya tercapai."


"Maksud kamu apa bicara begitu?"


"Aku hanya takut Widya berbuat nekat."


"Kamu tidak perlu setakut itu. Widya itu hanya anak ingusan. Dia urusan kecil bagi ibu."


"Ibu jangan meremehkan Widya. Dia adalah putri satu-satunya pak Prayoga. Bisa jadi pak Prayoga lebih memilihnya dibandingkan orang lain."


"Ah! Kamu membuat selera makanku hilang saja!" seru ibu sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Ibu mau kemana? Habiskan dulu makanannya," ucapku.


"Ibu sudah kenyang mendengar ceramahmu!" 


Ibu meninggalkan meja makan kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya.


Keesokan paginya.

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul empat pagi. Aku terbangun karena perutku terasa begitu mulas. Aku pun bergegas meninggalkan kamarku dan berjalan menuju kamar mandi. Aku heran saat hendak membuka  pintu ruangan kecil itu lantaran pintunya terkunci dari dalam.


"Bu… apa Ibu di dalam?" tanyaku dari luar pintu.


"Ya. Tunggu sebentar."


Perutku semakin melilit, terpaksa kuketuk pintu kamar mandi itu.


"Kamu ini nggak sabaran banget sih!"


"Maaf, Bu. Perutku mulas," ucapku.


Tidak berselang lama pintu terbuka. Tanpa membuang waktu lagi aku bergegas masuk ke dalam kamar kecil itu.


Sekitar sepuluh menit kemudian aku keluar dari dalam kamar mandi. Ibu yang kupikir melanjutkan tidurnya, rupanya masih saja mondar-mandir di depan kamarnya.


"Dari semalam Ibu terlihat begitu gelisah. Ada apa sebenarnya, Bu?" tanyaku.


"Ti-ti-tidak apa. Ibu hanya tidak bisa tidur kembali."


"Ya sudah, kita siap-siap shalat subuh berjamaah saja."


"Ehm ibu-ibu, …"


"Kenapa, Bu?"


Tiba-tiba sesuatu terjatuh dari kantong belakang celana ibu.


"Ini apa, Bu?" tanyaku.


"Ehm itu-itu, …"


Lekas kuambil benda kecil itu dari atas lantai. Aku terperangah saat tahu benda itu ternyata sebuah alat tes kehamilan.


"Astaghfirullah! Ibu?"


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2