
Di sebuah rumah mewah itu terdengar obrolan antara seorang pria dan wanita. Si wanita yang baru pulang dari kantor itu tampak kesal lantaran mendapati meja makan kosong.
"Apa saja yang kamu lakukan seharian di rumah 'hah?!"
Si pria yang tengah mendengarkan musik dengan headphone itu tentu saja tak mendengar omelan si wanita. Ia baru membuka benda yang menutupi sepasang telinganya itu saat sebuah bantal melayang tepat di wajahnya.
"Kamu ini apa-apaan sih?! Pulang-pulang ngamuk?!" protesnya.
"Seharian aku bekerja di kantor, dan kamu hanya enak-enakan di rumah sambil main handphone. Apa kamu lupa tugas kamu di rumah ini 'hah?!"
"Aku ini suami kamu, bukan budakmu!"
"Ya, suami parasit yang sama sekali tidak berguna!"
"Jaga mulutmu, Via!"
Ya, obrolan sepasang suami istri itu adalah Silvia dan Evan. Keduanya sudah menikah selama lebih dari satu tahun. Evan yang tadinya mengabdi pada ayah kandung Silvia itu memang penurut dan nyaris tidak pernah membangkang dengan sang tuan atau Silvia sekalipun.
Kacang lupa akan kulitnya. Itulah peribahasa yang tepat bagi Evan. Setelah menikahi Silvia, ia justru sering bertindak sesuka hati. Tingkahnya semakin menjadi ketika ayah kandung Silvia, Tuan Anthony diserang stroke. Entah sudah berapa kali Silvia mendapati suaminya itu menarik dana dalam jumlah besar dari bank. Pun Evan selalu berdalih jika uang itu mau ia gunakan sebagai modal bisnis.
"Evan! Aku sudah tak tahan lagi. Aku akan secepatnya mengurus perceraian kita!"
"Kamu pikir kamu bisa lepas dari aku 'hah?! Kamu adalah ladang emas bagiku. Sekarang ke dapur lalu masak makanan untukku!" Tiba-tiba saja Evan menarik lengan Silvia lalu mencengkeramnya.
__ADS_1
"Aku tidak mau!"
"Plak!" Evan baru saja mendaratkan sebuah tamparan di wajah Silvia.
"Berani kamu membantahku 'hah?!"
Evan menarik rambut Silvia hingga kepalanya mendongak ke atas. Tanpa sedikitpun belas kasihan ia mendorong tubuh wanita itu hingga jatuh tersungkur di lantai.
"Manusia tidak tahu diri! Apa kamu lupa dulu kamu itu siapa? Kamu hanya pesuruh ayahku!"
"Itu dulu, tapi sekarang tidak. Aku bahkan sudah memiliki 75% kekayaan ayahmu."
"Apa maksudmu?"
"Apa ini?"
"Bacalah. Kamu nanti akan paham."
Silvia pun mulai membuka isi map berwarna biru itu. Matanya terbelalak saat membaca tulisan yang tertera di dalam sana yakni surat pengalihan harta dari tuan Anthony untuk Evan lengkap dengan cap jempol dari sang ayah.
"Astaga. Bagaimana mungkin ayah melakukan ini? Kamu pasti memaksa ayah 'kan?"
"Kamu jangan asal menuduh. Kamu lihat sendiri, itu cap jempol ayahmu di atas materai yang artinya ayah kamu memberikan semuanya dengan sukarela tanpa paksaan dari pihak manapun."
__ADS_1
"Tidak! Ini tidak mungkin!"
"Posisimu di rumah ataupun di perusahaan sudah lemah, Via. Aku bisa saja mendepakmu setiap saat. Tapi aku tak melakukannya. Kamu mau tahu alasannya? Karena aku begitu mencintaimu," ucap Evan seraya meraih dagu Silvia.
"Cih! Brengseeek! Keparaat! Manusia picik!"
Umpatan demi umpatan terus terlontar dari mulut Silvia. Ia bahkan berkali-kali meludahi suaminya itu.
"Kalau kamu masih ingin melihat ayahmu bernafas hari ini, kerjakan perintahku sekarang!" sentaknya.
Silvia beranjak perlahan dari lantai lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Demi Tuhan, aku akan membuatmu menyesal, Evan," batinnya.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1