
Masih di yayasan.
"Bagaimana, Pak? Apa Bapak setuju dengan persyaratan itu?" tanya petugas.
"Sepertinya saya harus pikir-pikir lagi. Menurut saya upah yang harus saya berikan untuk perawat terlalu besar."
"Jadi?"
"Maaf, saya batal menggunakan jasa perawat melalui yayasan ini," ucap Fabian sembari menyodorkan form yang masih kosong itu pada petugas.
"Buang-buang waktu saja," gerutu petugas.
Fabian pun lantas meninggalkan tempat tersebut.
Sesampainya di rumah.
"Katanya Mas mau ke yayasan mencari perawat untuk ibu," ucap Karmila.
"Aku sudah ke sana barusan."
"Lantas, di mana orang yang mau merawat ibu? Mas mengajaknya kemari 'kan?"
Fabian menggelengkan kepalanya.
"Loh, gimana sih Mas? Katanya nyari perawat. Terus ke sana ngapain?"
"Upah yang harus kita keluarkan untuk perawat ternyata cukup besar. Apa kamu mau jatah bulananmu terpotong sebegitu besar?"
Suasana hening sejenak.
"Jadi, gimana dengan ibu? Aku nggak sanggup lagi mengurus ibu. Lihat perutku yang semakin besar ini. Susah mau ngapa-ngapain. Masih harus ditambah merawat ibu yang rewel."
"Satu-satunya jalan adalah kita mengirim ibu ke panti jompo," ucap Fabian sedikit parau.
"Mas yakin? Bagaimana dengan tetangga kita yang sok ikut campur masalah orang lain itu?"
"Kita bilang saja pada mereka kalau ibu dirawat saudaraku yang lain."
"Benar juga. Panti jompo akan merawat ibu dengan baik, gratis lagi. Jadi jatah bulananku tetap utuh. Kapan kita akan membawa ibu ke sana? Lebih cepat lebih baik 'bukan?"
"Minggu depan saja."
"Kenapa harus Minggu depan? Kelamaan. Aku keburu stress. Apa kamu mau bayi kita kenapa-napa karena ibunya stress?"
"Ehm… Mila, …"
"Kenapa, Mas?"
"Besok aku harus keluar kota selama dua hari untuk tugas kantor."
"Hah?!"
"Dua hari saja kok. Gak sampai seminggu."
"Apa Mas dulu juga sering ditugaskan ke luar kota?" tanya Mila setengah tak percaya.
"Kamu harus paham. Semakin tinggi posisiku di kantor, tugas dan tanggung jawabku akan semakin besar," ujar Fabian. Dia lantas menyeruput kopi yang masih mengepulkan asap itu.
"Mas sendirian saja 'kan? Nggak sama Silvia?" tanya Mila yang sontak membuat Fabian kebingungan hingga ia tersedak dan nyaris menjatuhkan cangkirnya.
"Hati-hati, Mas. Kopinya masih panas."
__ADS_1
"Aku-aku sendirian saja kok."
"Pakai mobil pribadi?"
"Ehm, nggak. Ditemani sopir pakai mobil kantor."
"Oh, aku pikir sama Silvia."
"Nggak kok, Sayang. Mana mungkin aku pergi berdua dengannya?"
"Ehm… Mas ditugaskan keluar kota dapat bonus tambahan nggak?"
Fabian mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan pesan berisi pemberitahuan sejumlah uang masuk ke dalam rekeningnya pada Mila. Tentu saja uang itu berasal dari Silvia.
"Besar juga ya, Mas. Kalau gitu nggak apa-apa Mas sering-sering keluar kota. Uang ini akan kupakai untuk perawatan ke salon dan membeli perlengkapan bayi."
"Bukannya perlengkapan bayi yang sudah kamu beli lumayan banyak? Kenapa harus beli lagi?"
"Perlengkapan bayi yang kubeli baru sebagian. Masih kurang banyak."
"Kamu tidak perlu membeli barang yang terlalu mahal. Lagipula barang-barang itu hanya dipakai sebentar."
"Ini anak pertama kita, Mas. Memangnya Zura, beli apa-apa di pasar."
"Tapi dia pandai berhemat dan tidak pernah membelanjakan uang yang kuberikan untuk hal yang tidak begitu diperlukan."
"Sudahlah. Aku malas kalau Mas sudah mulai menyebut nama itu." Tiba-tiba raut wajah Karmila berubah kesal.
"Ya sudah, aku minta maaf. Jangan cemberut gitu. Gimana kalau anak kita nanti wajahnya judes?" ucap Fabian sembari mengusap perut Mila yang semakin membuncit itu.
"Aku bantuin Mas packing baju ya," ucap Mila. Fabian mengangguk setuju.
Keduanya baru saja beranjak dari ruang makan, tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh dari kamar sang ibu.
"Lihat tuh Mas. Kemarin ibu memecahkan gelas, sekarang memecahkan piring. Lama-lama perabotan di rumah kita habis," ucap Mila sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah pecahan piring yang berceceran di atas lantai.
"Memangnya ibu belum makan siang? Isi piringnya kok masih penuh," ucap Fabian.
"Ibu tuh makannya pilih-pilih, Mas. Kalau nggak enak nggak mau makan."
"Kenapa Ibu jadi rewel begini? Pantas saja Mila sering mengeluh," ucap Fabian sembari memunguti pecahan piring itu lalu memasukkannya ke dalam tempat sampah.
"Bian, …"
"Ada apa?"
"Ibu ti-ti-tidak mau ke pan-ti jom-po," lirih sang ibu terbata.
"Bian minta maaf, Bu. Bukannya aku sudah tidak mau mengurus Ibu lagi. Tapi Ibu kan tahu sendiri, Mila sedang hamil tua. Sebentar lagi dia melahirkan. Dia pasti akan sangat kerepotan. Aku juga sudah mendatangi yayasan untuk mencari perawat. Tapi ternyata upah yang harus kukeluarkan begitu besar. Aku takut gajiku tidak akan cukup jika harus menambah pengeluaran untuk membayar gaji perawat. Ibu jangan khawatir, kami akan sering-sering mengunjungi Ibu," ungkap Fabian.
Sang ibu tak sanggup berkata apapun. Tentu saja kalimat yang terlontar dari putra kandungnya itu terdengar begitu menyakitkan. Fabian yang dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang, kini justru membuangnya ketika usia sang ibu mulai senja.
"Ibu mau-ting-gal-deng-an-Zu-ra."
"Zura lagi. Zura lagi. Zura sekarang tinggal di kost sempit bersama ibunya. Nggak mungkin Ibu ikut tinggal di sana juga," ucap Mila.
"Mila benar, Bu. Mungkin tempat yang tepat bagi Ibu memang panti jompo. Di sana Ibu pasti akan mendapatkan perlakuan yang baik," ucap Fabian.
"Ka-mu-te-ga," ucap sang ibu bersamaan dengan tangisnya yang tiba-tiba pecah.
"Ibu mau ngatain Bian apapun, Bian akan terima. Keadaan saat ini serba membingungkan. Aku harap Ibu paham."
__ADS_1
"A-nak-dur-..."
"Ya. Bian memang anak durhaka. Itu kan yang mau Ibu katakan?" potong Fabian.
"Sudahlah, Mas. Sekarang kita rapikan baju-baju Mas. Besok Mas harus berangkat pagi-pagi 'kan?" ucap Mila sembari menggandeng tangan Fabian.
"Besok aku keluar kota. Jangan do'akan aku yang buruk-buruk," ucap Fabian. Ia pun lantas meninggalkan kamar tersebut.
"Zura, hu…hu…hu…"
"Terus saja panggil nama itu. Barangkali dia tiba-tiba muncul di hadapan Ibu."
Karmila menutup pintu kamar itu lalu menyusul Fabian yang telah lebih dahulu masuk ke dalam kamar.
****
Keesokan paginya.
"Mas nggak sarapan dulu?" tanya Karmila yang baru selesai menghidangkan makanan di atas meja. Ia mendapati Fabian sudah berpakaian rapi dengan dasi dan jas nya.
"Sudah hampir jam tujuh. Perjalanan ke luar kota cukup jauh. Aku takut terlambat sampai di gedung tempat seminar," ucap Fabian sembari mengenakan sepatunya.
"Mas bawa bekal saja ya. Biar aku siapkan. Nanti Mas bisa makan di mobil."
"Aku menyetir. Mana bisa makan."
"Loh, bukannya semalam Mas bilang pergi diantar sopir dengan mobil kantor?"
"Ehm, maksudku nanti saja aku minta sopir cari tempat makan."
"Oh, begitu."
"Aku berangkat dulu, baik-baik di rumah."
"Mas jangan macam-macam di luar sana."
"Tenang saja, kamu satu-satunya perempuan yang aku cintai. Assalamu'alaikum."
Fabian pun lantas meninggalkan rumahnya.
****
"Maaf, aku agak terlambat," ucap Fabian pada Silvia yang telah lebih dulu tiba di cafe. Silvia sengaja mengajaknya berangkat dari cafe agar tidak menimbulkan kecurigaan karyawan kantor.
"Nggak kok. Aku juga baru sampai."
"Kita pakai mobilku saja. Mobilmu dititipkan saja di sini. Cafe ini buka 24 jam. Aku yang akan membayar biaya penitipannya," ucap Silvia. Fabian mengangguk paham.
"Kamu sudah sarapan belum?" tanya Silvia.
"Belum. Aku buru-buru. Takut terlambat."
"Ya sudah, kita ke cafe saja dulu. Aku juga tidak sempat sarapan," ucap Silvia.
Keduanya pun lalu masuk ke dalam cafe.
Mereka tak menyadari jika sepasang mata sedari tadi mengawasi dari kejauhan.
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…