Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Bukan kebetulan?


__ADS_3

Keenan dan Pinkan meninggalkan agen penjualan tiket dan menuju sebuah cafe.


"Kamu pesan apa, Ken?" tanya Pinkan.


"Nasi goreng seafood."


"Minum nya?"


"Air putih saja."


"Dua nasi goreng seafood dan dua gelas air putih ya, Mbak," ucap Pinkan pada pelayan cafe.


"Baik, mohon ditunggu sebentar. Saya akan segera menyiapkan pesanan Bapak dan Ibu." Pelayan itu pun lantas berlalu dari meja keduanya.


"Memangnya wajah kita setua itu ya? Sampai kita dipanggil bapak dan ibu," bisik Pinkan.


"Memangnya berapa usiamu sekarang? Kamu memang sudah pantas dipanggil ibu." Keenan terkekeh, sementara kawan masa kecilnya itu nyengir kuda.


"Bukannya kita seumuran? Kamu juga sudah pantas menjadi bapak-bapak."


"Yang benar saja."


"Oh ya, bagaimana kabar Gibran sekarang? Dulu aku seringkali berkelahi dengannya."


Keenan menghela nafas.


"Gibran sudah meninggal dunia sekitar empat tahun yang lalu."


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Apa dia sakit?"


Keenan menggelengkan kepalanya.


"Gibran tidak sakit, dia meregang nyawa di tangan perampok yang berniat merampok toko pakaian miliknya."

__ADS_1


"Aku turut berdukacita."


"Kamu tahu, Gibran meninggal hanya satu hari menjelang hari pernikahannya dengan Azzura."


"Astaga. Maksud kamu Azzura kawanmu itu?"


"Ya. Dia nyaris menjadi kakak iparku, tapi Allah berkehendak lain."


"Mungkin mereka belum berjodoh," ujar Pinkan.


"Miris memang. Calon istriku meninggal dunia hanya sehari menjelang hari pernikahan kami, sementara Gibran pergi di saat menjelang hari pernikahannya."


"Maaf, aku tidak bermaksud mengungkit luka lama. Kalau boleh tahu apa penyebab calon istrimu meninggal dunia?"


"Asha meninggal dunia saat ia sedang menjalankan ibadah shalat nya."


"Masyaallah, sungguh indah caranya menghadap Rabb nya. Semoga Allah menempatkan Gibran dan Asha di tempat terindah."


"Aamiin."


"Silahkan, Pak … Bu."


"Terima kasih."


"Kamu merasa nggak Ken, kalau apa kamu dan Gibran alami itu bukan kebetulan, akan tetapi sebuah rencana Tuhan."


"Apa maksudmu?"


"Ya, dengan kata lain kalian memang ditakdirkan berjodoh. Kalian sama-sama kehilangan calon pasangan 'bukan?"


"Makan lah dulu, sebelum makanannya dingin," ucap Keenan.


"Apa kamu benar-benar tidak berpikir ke arah sana?"

__ADS_1


"Sampai kapan kamu akan membahas hal itu?" tanya Keenan dengan mulut berisi penuh makanan."


Pinkan meraih alat makannya dan mulai menikmati santap siangnya.


Setengah jam kemudian keduanya meninggalkan cafe.


Mobil Keenan belum lama meninggalkan cafe, namun tiba-tiba ia menghentikan laju mobilnya.


"Kenapa kita berhenti?" tanya Pinkan.


"Sepertinya aku mengenal gadis itu." Keenan mengacungkan jari telunjuknya ke arah seorang gadis yang tengah mengobrol dengan dua orang pria di pinggir jalan. Ia pun lantas menepikan mobilnya.


"Kamu kenal siapa gadis itu?" tanya Pinkan. Keenan menganggukkan kepalanya.


"Kira-kira Apa yang dibicarakan Luna dengan dua pria berpenampilan garang itu?" gumamnya.


"Kau mau turun?" tanya Pinkan.


"Tidak perlu."


Keenan pun lantas melajukan kembali mobilnya.


"Memangnya siapa gadis itu?"


"Namanya Luna, dia adalah mantan pacar Gibran. Tapi, …"


"Tapi kenapa?"


"Dia seringkali mengusik kehidupan Gibran dan Zura. Bahkan Zura pernah hampir kehilangan nyawanya karena Luna melukainya dengan senjata tajam. Luna pun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di dalam jeruji besi."


"Benar-benar sakit jiwa."


"Semoga saja dugaanku salah. Luna mengobrol dengan kedua pria berpenampilan preman itu bukan untuk bermaksud mencelakai Zura."

__ADS_1


"Kurasa tidak ada salahnya jika kamu memberitahu Zura agar lebih hati-hati dan waspada. Bukan tidak mungkin Luna masih menyimpan dendam padanya apalagi ia sudah pernah masuk penjara," ujar Pinkan. Keenan mengangguk setuju.


Bersambung …


__ADS_2