Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Teka-teki


__ADS_3

Kuamati sekali lagi bayi laki-laki yang berada di gendongan wanita itu. Meski baru sekali melihatnya, aku tidak mungkin salah mengenalinya.


"Rayyan …?"


Bukankah Rayyan kini dalam pengasuhan pengemudi taksi? Lantas, siapa wanita yang menggendong nya? Atau jangan-jangan Fabian membohongiku? Rayyan tidak dititipkan pada pengemudi taksi, melainkan … Astaghfirullah! Ampuni hamba ya Rabb. Tidak sepantasnya aku berpikiran seburuk ini pada mantan suamiku.


"Tunggu! Aku mengenal bayi itu. Kenapa dia bisa bersamamu?" tanyaku pada wanita yang duduk di samping kursi kemudi itu.


"Tentu saja dia anakku. Kita belum pernah bertemu sebelumnya. Bagaimana mungkin kamu bisa mengenalinya?"


"Bukan! Aku yakin sekali bayi itu adalah Rayyan. Kumohon berikan bayi itu padaku. Ayahnya telah membuat kesalahan besar telah menitipkan bayi itu pada orang lain. Biar aku yang merawatnya."


"Enak saja. Kamu jangan mengaku-ngaku. Bayi ini adalah anakku. Kamu tidak bisa mengambilnya dariku."


"Bayi itu bukan anakmu. Jangan-jangan kamu menculiknya."


Tiba-tiba tangis bayi yang kini berusia tiga bulan itu pecah.


"Lihat. Dia menangis pasti karena ketakutan."


"Perempuan ini siapa, Ma?" tanya si pengendara mobil.


"Entahlah. Tiba-tiba dia muncul dan mengaku mengenali anak kita."


"Namanya juga bayi. Pasti banyak yang mirip," ucap di pria.


"Aku tidak mungkin salah. Bayi ini adalah Rayyan!" tegasku.


Bunyi klakson terdengar bersahutan. Kurasa aku sudah terlalu lama berdiri di tengah jalan.


"Menjauh dari hadapanku atau kamu akan menjadi sasaran kemarahan pengguna jalan!" seru pria berkumis tebal itu.


"Tunggu! Kamu harus bertanggung jawab atas kerusakan taksi saya!" teriak pengemudi taksi.

__ADS_1


Pengendara mobil mewah itu pun lantas mengambil beberapa lembar uang dan dengan sengaja menjatuhkannya melalui kaca jendela mobilnya.


"Dasar orang sombong!" umpat pengemudi taksi sesaat sebelum mobil sedan itu meninggalkan tempat tersebut.


Aku memunguti uang yang berceceran di jalan lalu memberikannya pada pengemudi taksi.


"Uangnya cukup 'kan, Pak, untuk memperbaiki taksi ini?" tanyaku.


"Insyaallah cukup. Terimakasih sudah membantu saya."


Kami pun lantas melanjutkan perjalanan.


"Apa Ibu mengenal pemilik mobil itu?" tanya Fina.


"Aku tidak mengenal pemiliknya, namun aku yakin sekali bayi yang bersama wanita itu adalah Rayyan. Anak Fabian dan Mila."


"Jadi, bayi itu anak dari mantan suami Ibu?"


Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban.


"Mila harus meninggalkan bayinya karena tengah terjerat masalah hukum."


"Rumit juga kehidupan pak Fabian setelah berpisah dengan Ibu," ujar Fina. Kutanggapi ucapan itu dengan senyum tipis di bibir.


Beberapa menit kemudian taksi yang kami tumpangi berhenti. Kami tiba di tempat tinggal kami. Tampak seorang laki-laki berada tidak jauh dari pintu gerbang tengah duduk di atas sepeda motornya.


"Maaf, Mas ini siapa, dan mencari siapa?" tanyaku.


"Ehm, saya-saya kawannya Rahma. Kami ada janji nonton di bioskop."


"Begitu ya. Di mana Rahma?"


"Mungkin sedang bersiap-siap."

__ADS_1


Entah mengapa aku merasa Fina tertarik dengan laki-laki berperawakan tinggi itu. Sedari tadi kuamati gadis baru beranjak dewasa itu tak berhenti memandangnya sambil sesekali tersenyum tersipu.


"Fina."


"I-i-iya, Bu."


"Mari kita masuk ke dalam."


Tidak berselang lama Rahma pun muncul dari dalam tempat kost.


"Mbak Zura dan Fina dari mana?" tanyanya.


"Kami dari mengantar jahitan ke pelanggan. Kamu sendiri mau pergi menonton ya?"


"Loh, kok Mbak tahu?"


"Kamu sudah ditunggu di depan pintu gerbang. Dia pacarmu ya?"


"Bu-bu-bukan, Mbak. Dia kawan kerjaku."


"Pacarmu juga tidak apa. Kamu 'kan sudah cukup dewasa untuk menjalin hubungan dengan laki-laki. Tapi, kamu harus hati-hati dan jangan sampai salah pilih."


"Terima kasih nasehatnya, Mbak. Aku pergi dulu, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati."


Aku bisa menangkap saat Fina memandang sekali lagi ke arah laki-laki itu hingga akhirnya keduanya bertemu pandang dan saling melempar senyum.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Happy reading…


__ADS_2